Sunday, April 29, 2012

FF RevanxRalph ~MY VAMPIRE~


TITLE : MY VAMPIRE
TYPE : FANFICTION
CHAPTER : 1
 GENRE : ROMANCE
                Tak seorangpun bisa memilih ingin dilahirkan oleh siapa, kapan, dan seperti apa. Dan, apapun hasilnya sekarang kita harus menjalaninya dengan sepenuh hati kita. Karena kehidupan adalah hal yang sangat berharga..

                Rumah itu tampak begitu megah. Atau sebenarnya pantas disebut sebagai istana. Desainnya sama persis seperti istana. Hanya saja, letaknya ada di tepi hutan terpencil yang tak seorangpun sudi bertandang. Ditambah lagi aura suram yang tampak menyelubungi kastil itu makin membuat manusia tak berani mendekat.
                Ya, manusia. Karena itu adalah istana yang dihuni vampire yang tersegel selama seratus tahun lebih. Dan, jika ada manusia yang menyerahkan aura hidupnya pada vampire itu, maka vampire itu akan terlepas dari segelnya dan bebas. Dan manusia itu akan terjebak antara hidup-mati. Itulah serangkaian kisah legenda yang turun-temurun tersebar disana. Hingga kini tak ada seorangpun yang melanggarnya. Kecuali seseorang..
                #Ralph’s POV
                Hujan salju hari ini begitu lebat. Tepat di hari kematian seuluruh keluargaku ini, aku malah tersesat. Aku bodoh sekali dalam hal mencari jalan pulang, harus kuakui. Aku ingin menemani keluargaku yang pasti kedinginan di dalam tanah, tapi bukankah itu khayalan tingkat tinggi? Hidupku akan jadi bagaimana tanpa mereka, ya? Aaah, pikiranku sampai mana-mana gara-gara salju dingin ini!
                “Eh? Apa ini? Kastil?” gumamku saat aku tepat berdiri didepan jembatan sebuah kastil. Aku ingat, bahwa ini kastil terlarang. Nenekku pernah mendongengkan hal itu ketika aku berusia lima tahun. Hm, sekitar  dua atau tiga belas tahun lalu kira-kira.
                Meski aku tahu nyawaku bisa saja dalam bahaya jika masuk ke kastil yang katanya terkutuk itu, tapi aku bisa mati kedinginan jika tetap disini. Bodohnya aku. Entah setan apa yang merasukiku, aku masuk kesana dan berjalan seperti telah dipandu oleh sesuatu. Sunyi sekali..
                #Ralph’s POV End

                #Revan’s POV
                Dalam tidurku, aku rasakan aura manusia yang hangat. Seratus tahun aku menunggu, dan baru hari ini aku merasakan aura manusia lagi. Dari balik tidurku, sengaja kupandu alam bawah sadarnya menuju tempatku. Semoga saja ia mudah kuambil nyawanya.
                #Revan’s POV End

               
                #Author’s POV
                Pemuda berambut ungu yang bernama Ralph itu terus berjalan menuju suatu tempat. Ia menuruni tangga hingga langkahnya terhenti di ruangan luas dengan cahaya lilin abadi yang mengelilingi ruangan luas itu. Sesosok pemuda yang tampak sebaya dengan Ralph duduk di sofa besar dengan menggenggam mawar hitam di tangan kirinya. Rantai perak yang melilit tangan, kaki, bahkan lehernya itu terhubung pada setiap simpul pola aneh yang tergambar diatas lantai marmer dingin itu. Ralph berdiri tepat didepan batas pola itu. Mata ungu Ralph  menatap pemuda berambut marun dengan kulit pucat dan pakaian bangsawan yang serba gelap itu penuh rasa takut.
                “Kenapa aku ada disini?” Tanya Ralph pada dirinya sendiri.
                “Aku yang membawamu,” jawab sebuah suara dalam kepalanya.
                “Siapa kau?” Tanya Ralph ketakutan.
                “Aku adalah orang yang ada dihadapanmu itu.”
                #Author’s POV End

                #Revan’s POV
                “Siapa kau?” kudengar pemuda manis berambut ungu dihadapanku itu bergumam. Aku hanya menjawab lewat pikirannya. Telepati.
                “Aku adalah orang yang ada dihadapanmu,” jawabku lewat pikiran. “Maukah kau membantuku?”
                Ketika aku bertanya, pemuda itu diam. Aku entah kenapa bisa merasakan aura kehidupan mengalir melalui rantai-rantaiku. Ada apa ini?
                Ketika aku sibuk dengan rasa panas yang mengaliri tubuhku, kudengar samar-samar pemuda itu berkata, “Selain dengan memakan kehidupan, seorang vampire yang dikutuk bisa dibebaskan dengan darah manusia yang kesepian.”
                Apa? Dia.. Meneteskan darahnya diatas teritori terlarang?! Dia melepaskan segelku? Kenapa.. Padahal dia bisa mati jika tak mampu menahan efek samping dari segel ini. Apa ia tidak tahu?
                “Kenapa kau lakukan ini? Kau bisa mati,” gumamku pada hatinya.
                “Tidak apa-apa. Aku tahu apa yang kulakukan,” jawabnya.
                Rantai segelku lenyap. Mawar hitam yang kugenggam kembali memerah. Dan lilin abadi disekelilingku menyala dasyat dan segera padam bersamaan dengan berhembusnya nafasku yang pertama..
                #Revan’s POV End

                #Ralph’s POV
                Sungguh iblis apa yang menjebakku!! Aku meneteskan darahku yang mengalir dari luka yang tiba-tiba kubuat. Ah, aku mungkin akan terjebak antara hidup-mati seperti cerita orang. Tapi, apa maksudnya ya?
                “Kenapa kau lakukan itu?” kudengar pemuda itu berbisik dalam hatiku. Jujur saja aku tiba-tiba merasa harus menolongnya. Padahal, ia adalah vampire.
                Mawar yang ia genggam perlahan memerah. Tanda bahwa ia akan hidup lagi. Dan saat ia menghembuskan nafas pertamanya, api lilin disana seolah meledak dan segera padam. Aku takut dan ingin lari, tapi tak bisa..
                “Terimakasih, manusia,” ujar pemuda itu. Kali ini ia menggunakan mulutnya. Tapi, aku tak bisa bergerak. Tubuhku gemetar saat pemuda itu mendekatiku.
                “A-apa maumu?” tanyaku gagap.
                “Ketika vampire disegel, ia tak meminum darah.”
                Aku terperanjat. Tiba-tiba leherku terasa dingin dan jendela tiba-tiba terbuka karena angin kencang. Aku mundur beberapa langkah, namun sialnya aku tetap terpojok.
                “Ah, aku seperti dihadapkan pada kematian..” gumamku dalam hati pasrah.
                #Ralph’s POV End
                #Revan’s POV
                Tiba-tiba saja aku haus. Sebenarnya niatku adalah tidak meneguk darahnya setetespun, tapi kelihatannya itu mustahil.
                Aku tahu ia ketakutan. Tapi, setidaknya aku tidak berniat membunuhnya.
“Siapa namamu?” kucoba membuatnya tenang.
“Ralph Christian Robin,” jawabnya parau.
Kurengkuh tubuhnya yang hangat itu. Kuseret ia dalam pelukanku. Dan, kuhisap darahnya dari lehernya tanpa izin. Benar-benar hangat dan terasa begitu nikmat. Aku tak peduli pada rintihannya dan pemberontakannya terhadapku. Aku hanya peduli pada darah..
#Revan’s POV End
#Ralph’s POV
Aku tak bisa membantah. Ada apa ini?! Aku membiarkan vampire ini menghisap darahku? Kenapa? Dan, kenapa aku tak ingin melepaskan diriku dari pelukan ini? Kenapa? Ada apa denganku!! Terkutuklah iblis yang merasukiku!!
“Aku mohon.. Hen-Hentikaan,” rintihku setelah aku merasa banyak darahku yang diteguknya. Pandanganku menggelap, aku sangat lemas..
“Hm?” hanya gumaman pelan yang ia lontarkan sebagai jawabannya.
Angin dari jendela yang sejak tadi tak tertutup menusuk tulangku. Tubuhku terasa aneh. Aku pusing sekali. Dan, kesadaranku menjauh……..
“Maaf,” kudengar gumaman itu dari bibirnya yang berlumur darahku itu. Aku tak membencinya. Kenapa bisa? Entahlah..
#Ralph’s POV End
#Author’s POV
Revan menyadari bahwa ia telah menghisap terlalu banyak darah Ralph. Ia merasa bersalah atas tidakannya, tapi ada daya. Ia tak bisa mengembalikan darah itu ke tubuh Ralph. Dengan kekuatannya, ia menyalakan lilin di kamarnya itu dan menggendong Ralph ke ranjang. Setelah digigit vampire, pilihannya hanya mati atau menjadi vampire juga…..

0 Komentar:

Post a Comment