TITLE : MY VAMPIRE
TYPE : FANFICTION
CHAPTER : 1
GENRE : ROMANCE
Tak
seorangpun bisa memilih ingin dilahirkan oleh siapa, kapan, dan seperti apa.
Dan, apapun hasilnya sekarang kita harus menjalaninya dengan sepenuh hati kita.
Karena kehidupan adalah hal yang sangat berharga..
Rumah
itu tampak begitu megah. Atau sebenarnya pantas disebut sebagai istana.
Desainnya sama persis seperti istana. Hanya saja, letaknya ada di tepi hutan
terpencil yang tak seorangpun sudi bertandang. Ditambah lagi aura suram yang
tampak menyelubungi kastil itu makin membuat manusia tak berani mendekat.
Ya,
manusia. Karena itu adalah istana yang dihuni vampire yang tersegel selama
seratus tahun lebih. Dan, jika ada manusia yang menyerahkan aura hidupnya pada
vampire itu, maka vampire itu akan terlepas dari segelnya dan bebas. Dan
manusia itu akan terjebak antara hidup-mati. Itulah serangkaian kisah legenda
yang turun-temurun tersebar disana. Hingga kini tak ada seorangpun yang
melanggarnya. Kecuali seseorang..
#Ralph’s
POV
Hujan
salju hari ini begitu lebat. Tepat di hari kematian seuluruh keluargaku ini,
aku malah tersesat. Aku bodoh sekali dalam hal mencari jalan pulang, harus
kuakui. Aku ingin menemani keluargaku yang pasti kedinginan di dalam tanah,
tapi bukankah itu khayalan tingkat tinggi? Hidupku akan jadi bagaimana tanpa
mereka, ya? Aaah, pikiranku sampai mana-mana gara-gara salju dingin ini!
“Eh?
Apa ini? Kastil?” gumamku saat aku tepat berdiri didepan jembatan sebuah
kastil. Aku ingat, bahwa ini kastil terlarang. Nenekku pernah mendongengkan hal
itu ketika aku berusia lima tahun. Hm, sekitar
dua atau tiga belas tahun lalu kira-kira.
Meski
aku tahu nyawaku bisa saja dalam bahaya jika masuk ke kastil yang katanya
terkutuk itu, tapi aku bisa mati kedinginan jika tetap disini. Bodohnya aku.
Entah setan apa yang merasukiku, aku masuk kesana dan berjalan seperti telah
dipandu oleh sesuatu. Sunyi sekali..
#Ralph’s
POV End
#Revan’s
POV
Dalam
tidurku, aku rasakan aura manusia yang hangat. Seratus tahun aku menunggu, dan
baru hari ini aku merasakan aura manusia lagi. Dari balik tidurku, sengaja
kupandu alam bawah sadarnya menuju tempatku. Semoga saja ia mudah kuambil
nyawanya.
#Revan’s
POV End
#Author’s
POV
Pemuda
berambut ungu yang bernama Ralph itu terus berjalan menuju suatu tempat. Ia
menuruni tangga hingga langkahnya terhenti di ruangan luas dengan cahaya lilin
abadi yang mengelilingi ruangan luas itu. Sesosok pemuda yang tampak sebaya
dengan Ralph duduk di sofa besar dengan menggenggam mawar hitam di tangan
kirinya. Rantai perak yang melilit tangan, kaki, bahkan lehernya itu terhubung
pada setiap simpul pola aneh yang tergambar diatas lantai marmer dingin itu.
Ralph berdiri tepat didepan batas pola itu. Mata ungu Ralph menatap pemuda berambut marun dengan kulit
pucat dan pakaian bangsawan yang serba gelap itu penuh rasa takut.
“Kenapa
aku ada disini?” Tanya Ralph pada dirinya sendiri.
“Aku
yang membawamu,” jawab sebuah suara dalam kepalanya.
“Siapa
kau?” Tanya Ralph ketakutan.
“Aku
adalah orang yang ada dihadapanmu itu.”
#Author’s
POV End
#Revan’s
POV
“Siapa
kau?” kudengar pemuda manis berambut ungu dihadapanku itu bergumam. Aku hanya
menjawab lewat pikirannya. Telepati.
“Aku
adalah orang yang ada dihadapanmu,” jawabku lewat pikiran. “Maukah kau
membantuku?”
Ketika
aku bertanya, pemuda itu diam. Aku entah kenapa bisa merasakan aura kehidupan
mengalir melalui rantai-rantaiku. Ada apa ini?
Ketika
aku sibuk dengan rasa panas yang mengaliri tubuhku, kudengar samar-samar pemuda
itu berkata, “Selain dengan memakan kehidupan, seorang vampire yang dikutuk
bisa dibebaskan dengan darah manusia yang kesepian.”
Apa?
Dia.. Meneteskan darahnya diatas teritori terlarang?! Dia melepaskan segelku?
Kenapa.. Padahal dia bisa mati jika tak mampu menahan efek samping dari segel
ini. Apa ia tidak tahu?
“Kenapa
kau lakukan ini? Kau bisa mati,” gumamku pada hatinya.
“Tidak
apa-apa. Aku tahu apa yang kulakukan,” jawabnya.
Rantai
segelku lenyap. Mawar hitam yang kugenggam kembali memerah. Dan lilin abadi
disekelilingku menyala dasyat dan segera padam bersamaan dengan berhembusnya
nafasku yang pertama..
#Revan’s
POV End
#Ralph’s
POV
Sungguh
iblis apa yang menjebakku!! Aku meneteskan darahku yang mengalir dari luka yang
tiba-tiba kubuat. Ah, aku mungkin akan terjebak antara hidup-mati seperti
cerita orang. Tapi, apa maksudnya ya?
“Kenapa
kau lakukan itu?” kudengar pemuda itu berbisik dalam hatiku. Jujur saja aku
tiba-tiba merasa harus menolongnya. Padahal, ia adalah vampire.
Mawar
yang ia genggam perlahan memerah. Tanda bahwa ia akan hidup lagi. Dan saat ia
menghembuskan nafas pertamanya, api lilin disana seolah meledak dan segera
padam. Aku takut dan ingin lari, tapi tak bisa..
“Terimakasih,
manusia,” ujar pemuda itu. Kali ini ia menggunakan mulutnya. Tapi, aku tak bisa
bergerak. Tubuhku gemetar saat pemuda itu mendekatiku.
“A-apa
maumu?” tanyaku gagap.
“Ketika
vampire disegel, ia tak meminum darah.”
Aku
terperanjat. Tiba-tiba leherku terasa dingin dan jendela tiba-tiba terbuka
karena angin kencang. Aku mundur beberapa langkah, namun sialnya aku tetap
terpojok.
“Ah,
aku seperti dihadapkan pada kematian..” gumamku dalam hati pasrah.
#Ralph’s
POV End
#Revan’s
POV
Tiba-tiba
saja aku haus. Sebenarnya niatku adalah tidak meneguk darahnya setetespun, tapi
kelihatannya itu mustahil.
Aku
tahu ia ketakutan. Tapi, setidaknya aku tidak berniat membunuhnya.
“Siapa namamu?” kucoba membuatnya
tenang.
“Ralph Christian Robin,” jawabnya
parau.
Kurengkuh tubuhnya yang hangat itu.
Kuseret ia dalam pelukanku. Dan, kuhisap darahnya dari lehernya tanpa izin. Benar-benar
hangat dan terasa begitu nikmat. Aku tak peduli pada rintihannya dan
pemberontakannya terhadapku. Aku hanya peduli pada darah..
#Revan’s POV End
#Ralph’s POV
Aku tak bisa membantah. Ada apa
ini?! Aku membiarkan vampire ini menghisap darahku? Kenapa? Dan, kenapa aku tak
ingin melepaskan diriku dari pelukan ini? Kenapa? Ada apa denganku!!
Terkutuklah iblis yang merasukiku!!
“Aku mohon.. Hen-Hentikaan,”
rintihku setelah aku merasa banyak darahku yang diteguknya. Pandanganku
menggelap, aku sangat lemas..
“Hm?” hanya gumaman pelan yang ia
lontarkan sebagai jawabannya.
Angin dari jendela yang sejak tadi
tak tertutup menusuk tulangku. Tubuhku terasa aneh. Aku pusing sekali. Dan,
kesadaranku menjauh……..
“Maaf,” kudengar gumaman itu dari
bibirnya yang berlumur darahku itu. Aku tak membencinya. Kenapa bisa?
Entahlah..
#Ralph’s POV End
#Author’s POV
Revan menyadari bahwa ia telah
menghisap terlalu banyak darah Ralph. Ia merasa bersalah atas tidakannya, tapi
ada daya. Ia tak bisa mengembalikan darah itu ke tubuh Ralph. Dengan
kekuatannya, ia menyalakan lilin di kamarnya itu dan menggendong Ralph ke
ranjang. Setelah digigit vampire, pilihannya hanya mati atau menjadi vampire
juga…..