Wednesday, May 2, 2012

RevanxRalph Fanfiction - MY VAMPIRE


Hari berlalu. Bulan purnama tampak megah di langit yang sepi. Ralph mulai membuka matanya setelah sekitar dua hari tertidur. Kulitnya lebih pucat, namun tak sdikitpun ia merasa lemas. Ada yang berbeda dari dirinya.

#Ralph’s POV
Aku terbangun? Apa yang terjadi? Apa aku sudah mati? Pikiranku kacau dan aku merasa ada yang aneh pada diriku.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada seorang pemuda yang duduk di kursi tak jauh dari ranjang tempatku berbaring.
“Kau bicara denganku?” jawabnya dingin. Mata merah yang sejernih darah. Jelas dia bukan vampire sembarangan. Begitu pikirku.

“Iya,” jawabku cepat. “Apa yang terjadi setelah kau meminum darahku?”
“Tidak ada.”
#Ralph’s POV end
#Revan’s POV
Ah, pemuda manis itu bangun. Padahal kukira dia akan mati. Tak kusangka nafasnya masih berhembus hingga detik ini. Tapi, apakah dia menjadi vampire? Aku harus mengetesnya.
“Hei.. Kau inginkan jawaban?” tanyaku seraya mendekat. Kulihat ia mengangguk.
“Minum darahku dan buatlah perjanjian denganku,” perintahku padanya. Kalau dia menolak menerima darahku, artinya dia tetap manusia. Aku sayat tanganku hingga berdarah dengan kuku dan kudekatkan padanya. Aku ingin lihat, apakah nalurinya bekerja dengan benar.
“A-apa yang harus kulakukan?” tanyanya.
“Ikuti nalurimu dan biarkan langkahmu terpandu,” jawabku seraya menyodorkan tanganku yang berdarah. “Kau lapar, ‘kan?”
Kulihat ia bingung. Ia sedang melawan nafsunya pada darah, tapi ia tetap menginginkannya. Inilah fase yang paling menyenangkan menurutku. Tangannya mencengkram seprai yang ternodai darahku, dan keringat dingin mengalir dari pori-pori kulitnya yang pucat itu. Ayolaah, minumlah dan jadilah budakku selamanya..
“A..Ah..” tangannya merengkuhku, dan perlahan ia memejamkan mata dan akhirnya saat yang kutunggu tiba. Ia menjilat darahku dengan penuh nafsu. Bagaimana? Darahku benar-benar nikmat, bukan? Ya tentu saja karena darahku bukan darah biasa. Selamat datang, budakku yang manis..
#Revan’s POV end
#Ralph’s POV
Apa yang kulakukaan?! Aku meneguk darah?! Apa yang terjadi?!! Dan aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. Aku harus bagaimana..
“Apa yang terjadi?” gumamku pelan. Tiba-tiba ada sebuah ingatan yang menjawab pertanyaanku. Hei, ingatan apa ini? Darimana aku mengetahui ini semua?! Kepalaku sakit..
“Bagaimana? Apa kau sudah mengerti?” Tanya pemuda vampire itu padaku. Aku menggeleng.
“Manusia yang menjadi vampire punya dua jalan. Mati atau hidup dengan menjadi pelayan vampire yang ia minum darahnya. Kau mengerti maksudku, bukan?”
Tubuhku serasa membeku mendengar ucapannya. Dan ingatan-ingatan asing tiba-tiba terpatri di otakku. Siapa pemuda ini, apa yang membuatnya kemari, seperti apa dunia vampire, semuanya tiba-tiba ada dalam pikiranku. Sekilas, aku merasa takut bahkan hanya untuk mengingatnya..
“Aku mengerti, Tuan,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Apa yang terjadi?!
#Ralph’s POV end
#Revan’s POV
“Aku mengerti, Tuan,”
Akhirnya, aku bisa mendengar suara itu patuh padaku. Aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin karena kelihatannya dia ‘spesial’. Aku dapatkan ingatannya dan dia dapatkan ingatanku. Kini, dia akan menjadi boneka yang takkan bisa mengkhianatiku bahkan hanya sekedar bantahan pun mustahil. Menarik sekali..
“Anak manis, siapa namamu?” tanyaku padanya.
“Ralph.”
“Boleh aku minum darahmu beberapa teguk sja? Aku dilarang meminum darah manusia,” ujarku jujur padanya seraya mendekatkan bibirku ke lehernya.
“Ya. Lakukanlah apapun,” balasnya. Aku benar-benar senang mendengarnya. Hari ini dia akan menikmati fase peralihannya dan setelah itu, ia harus menerima kenyataan dbahwa membantahku hanya akan membuatnya sesak nafas.
“Terimakasih,” balasku seraya menancapkan taringku. Kuteguk darahnya sedikit demi sedikit. Aku berpikir, anak ini aneh. Kenapa? Karena meski ia adalah vampire, darahnya tetap sehangat manusia dan rasanya juga sama seperti manusia. Padahal seharusnya rasanya berubah seiring peubahannya. Ah, aku harus bersyukur karenanya..
“Khh.. Periih,” desahnya saat taringku menancap makin dalam. Aku juga tak menyangka ia bisa merasa perih. Vampire tidak terlalu peka, begitulah seharusnya.
“Kau tahu? Kau vampire yang aneh,” ujarku padanya. “Kau vampire tapi bukan vampire yang utuh.”
“Eh?” gumamnya setelah aku lepaskan gigitanku darinya.
“Kau special dan itulah yang membuatku menyukaimu,” ujarku hingga entah apa alasannya ia bersemu merah. Lucu sekali..
#Revan’s POV end

0 Komentar:

Post a Comment