Hari berlalu. Bulan purnama
tampak megah di langit yang sepi. Ralph mulai membuka matanya setelah sekitar
dua hari tertidur. Kulitnya lebih pucat, namun tak sdikitpun ia merasa lemas.
Ada yang berbeda dari dirinya.
#Ralph’s POV
Aku terbangun? Apa yang terjadi?
Apa aku sudah mati? Pikiranku kacau dan aku merasa ada yang aneh pada diriku.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada
seorang pemuda yang duduk di kursi tak jauh dari ranjang tempatku berbaring.
“Kau bicara denganku?” jawabnya
dingin. Mata merah yang sejernih darah. Jelas dia bukan vampire sembarangan.
Begitu pikirku.
“Iya,” jawabku cepat. “Apa yang
terjadi setelah kau meminum darahku?”
“Tidak ada.”
#Ralph’s POV end
#Revan’s POV
Ah, pemuda manis itu bangun.
Padahal kukira dia akan mati. Tak kusangka nafasnya masih berhembus hingga
detik ini. Tapi, apakah dia menjadi vampire? Aku harus mengetesnya.
“Hei.. Kau inginkan jawaban?”
tanyaku seraya mendekat. Kulihat ia mengangguk.
“Minum darahku dan buatlah
perjanjian denganku,” perintahku padanya. Kalau dia menolak menerima darahku,
artinya dia tetap manusia. Aku sayat tanganku hingga berdarah dengan kuku dan
kudekatkan padanya. Aku ingin lihat, apakah nalurinya bekerja dengan benar.
“A-apa yang harus kulakukan?”
tanyanya.
“Ikuti nalurimu dan biarkan
langkahmu terpandu,” jawabku seraya menyodorkan tanganku yang berdarah. “Kau
lapar, ‘kan?”
Kulihat ia bingung. Ia sedang
melawan nafsunya pada darah, tapi ia tetap menginginkannya. Inilah fase yang
paling menyenangkan menurutku. Tangannya mencengkram seprai yang ternodai
darahku, dan keringat dingin mengalir dari pori-pori kulitnya yang pucat itu.
Ayolaah, minumlah dan jadilah budakku selamanya..
“A..Ah..” tangannya merengkuhku,
dan perlahan ia memejamkan mata dan akhirnya saat yang kutunggu tiba. Ia
menjilat darahku dengan penuh nafsu. Bagaimana? Darahku benar-benar nikmat,
bukan? Ya tentu saja karena darahku bukan darah biasa. Selamat datang, budakku
yang manis..
#Revan’s POV end
#Ralph’s POV
Apa yang kulakukaan?! Aku meneguk
darah?! Apa yang terjadi?!! Dan aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi
sekarang. Aku harus bagaimana..
“Apa yang terjadi?” gumamku
pelan. Tiba-tiba ada sebuah ingatan yang menjawab pertanyaanku. Hei, ingatan
apa ini? Darimana aku mengetahui ini semua?! Kepalaku sakit..
“Bagaimana? Apa kau sudah
mengerti?” Tanya pemuda vampire itu padaku. Aku menggeleng.
“Manusia yang menjadi vampire
punya dua jalan. Mati atau hidup dengan menjadi pelayan vampire yang ia minum
darahnya. Kau mengerti maksudku, bukan?”
Tubuhku serasa membeku mendengar
ucapannya. Dan ingatan-ingatan asing tiba-tiba terpatri di otakku. Siapa pemuda
ini, apa yang membuatnya kemari, seperti apa dunia vampire, semuanya tiba-tiba
ada dalam pikiranku. Sekilas, aku merasa takut bahkan hanya untuk
mengingatnya..
“Aku mengerti, Tuan,” kata-kata
itu meluncur begitu saja dari mulutku. Apa yang terjadi?!
#Ralph’s POV end
#Revan’s POV
“Aku mengerti, Tuan,”
Akhirnya, aku bisa mendengar
suara itu patuh padaku. Aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin karena
kelihatannya dia ‘spesial’. Aku dapatkan ingatannya dan dia dapatkan ingatanku.
Kini, dia akan menjadi boneka yang takkan bisa mengkhianatiku bahkan hanya
sekedar bantahan pun mustahil. Menarik sekali..
“Anak manis, siapa namamu?”
tanyaku padanya.
“Ralph.”
“Boleh aku minum darahmu beberapa
teguk sja? Aku dilarang meminum darah manusia,” ujarku jujur padanya seraya
mendekatkan bibirku ke lehernya.
“Ya. Lakukanlah apapun,”
balasnya. Aku benar-benar senang mendengarnya. Hari ini dia akan menikmati fase
peralihannya dan setelah itu, ia harus menerima kenyataan dbahwa membantahku
hanya akan membuatnya sesak nafas.
“Terimakasih,” balasku seraya
menancapkan taringku. Kuteguk darahnya sedikit demi sedikit. Aku berpikir, anak
ini aneh. Kenapa? Karena meski ia adalah vampire, darahnya tetap sehangat
manusia dan rasanya juga sama seperti manusia. Padahal seharusnya rasanya
berubah seiring peubahannya. Ah, aku harus bersyukur karenanya..
“Khh.. Periih,” desahnya saat
taringku menancap makin dalam. Aku juga tak menyangka ia bisa merasa perih.
Vampire tidak terlalu peka, begitulah seharusnya.
“Kau tahu? Kau vampire yang
aneh,” ujarku padanya. “Kau vampire tapi bukan vampire yang utuh.”
“Eh?” gumamnya setelah aku
lepaskan gigitanku darinya.
“Kau special dan itulah yang
membuatku menyukaimu,” ujarku hingga entah apa alasannya ia bersemu merah. Lucu
sekali..
#Revan’s POV end



0 Komentar:
Post a Comment