Sunday, September 23, 2012

Suzerain Chapter 10


Chapter 10

Selama ini, Ralph selalu tersenyum. Ia bisa menjadi sosok yang seolah tidak memiliki beban. Semua orang memandang Ralph sebagai orang yang kuat. Namun, dibalik itu Ralph menyimpan rapat-rapat kenangan buruk yang pernah menimpanya. Mungkin hanya Revan yang benar-benar melihat seperti apa Ralph saat itu..

Flashback~
             “Ayaaaaaaah!! Ayah tolong aku, Ayaaaaaaaaaaaaaaaah!!” teriak seorang anak berambut ungu saat ada beberapa orang tak dikenal menariknya paksa.
             “Anak yang sangat manis, ya.. Cepat bawa dia. Kurasa hari ini kita beruntung,” ujar salah seorang pria asing itu.
             Anak berambut ungu bernama Ralph sebenarnya tidak lemah samasekali. Ia sudah bisa memakai senjata seperti pisau dan pistoll. Tapi, jika bahkan ia tak bisa bergerak, maka ilmunya itu samasekali tidak berguna. “Hei! Apa mau kalian? Lepaskan aku!!”
             “Cepat masukkan ke mobil,” perintah salah seorang lainnya. Kemudian, dengan kasar mereka mendorong  Ralph masuk ke mobil. Setelah itu, mesin dinyalakan dan mereka pergi. Ralph tidak pernah tahu apa yang membuat hidupnya harus diwarnai hal semacam itu.
             “Kita mau kemana?” pertanyaan polos itu terlontar begitu saja dari mulut Ralph yang saat itu masih cukup kecil.
             “Diamlah,” jawab salah satu dari mereka sambil menghisap rokok dan menyembulkan asapnya ke dekat Ralph hingga ia batuk-batuk.
             Ralph tidak mengerti. Logikanya terlalu jauh untuk menangkap apa yang dipikirkan para orang dewasa saat itu. ia tidak tahu lagi harus berbuat apa selain duduk diam dan menahan tangisan yang hampir pecah.
**
             “Bruk!” mereka menjatuhkan Ralph ke lantai marmer dingin itu begitu saja. Rambut ungunya yang sepanjang bahu itu menutupi matanya karena ia tertunduk menahan sakit akibat dibanting dengan sengaja ke lantai keras itu.
             “Apa ini?” tanya seorang pria bersuara berat. Dari logika pendeknya, Ralph menyimpulkan bahwa orang itulah yang ‘tertinggi’ disitu.
             “Aku tanya, apa yang kalian bawa ini? Untuk apa?” tanya orang itu lagi seraya meletakkan cerutu yang sedari tadi dihisapnya.
             Tak ada yang menjawab. Ralph tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.
             “Kalian tidak menjawab?” orang itu berdiri dan mendekat. “Kalian kira, kalian bisa menukar kesalahan kalian dengan anak ini?” tanya orang itu seraya makin mendekat. Kini, orang itu berdiri dihadapan Ralph.
             “Hei bocah, sebutkan namamu,” perintah suara berat itu.
             “Ralph. Namaku Ralph..” jawab Ralph berusaha tenang.
             “Anak manis. Nah, Ralph.. Ralph anak manis,’kan? Coba dengarkan perintahku,ya? Atau nanti Ralph juga akan bernasib seperti mereka..” ujar pria itu seraya mengeluarkan pistol dari balik mantelnya. “Bunuh mereka.”
             Ralph diam.  Matanya kosong. Ia takut untuk memilih..
             “Ayo, Ralph.. Lakukan.”
             “Aku takut..” jawab Ralph jujur. Ia menatap mata pria itu dengan mata ungu beningnya yang mulai berkaca-kaca.
             Pria itu tertawa sebentar. Kemudian, ia mengarahkan pistolnya kepada anak-anak buahnya yang tadi menculik Ralph. “Aku berterimakasih atas pemberian kalian ini. Tapi, selamat tinggal.”
             Darah mengalir begitu saja membasahi lantai marmer yang entah mengapa sejak awal sudah anyir bagi Ralph. Kemudian, setelah melihat hal itu Ralph tidak bisa membendung rasa takutnya. Diambilnya sepasang pedang pendek dari balik jas jasad orang yang baru saja dibunuh itu. Ia adalah putra seorang mafia, yang hidup memang tanpa hati. Tapi, ayahnya tak pernah mengajarkannya untuk membunuh sembarang orang. Membunuhlah hanya jika memang kau akan dibunuh.
             “Ralph, singkirkan benda itu dari tanganmu manis..” pinta pria itu mencoba bicara lembut.
             Ralph segera menyerang semua orang yang ada di ruangan itu. Dari sekitar dua puluh orang termasuk pria tadi itu, Ralph berhasil melumpuhkan hampir semuanya dalam sekejap.
             “Wah..” gumam pria itu menonton Ralph menerjang membabi buta. Kemudian ia sendiri mengeluarkan pedang pendeknya dan berniat mencoba kemampuan Ralph yang masih berusia sembilan tahun.
             “Aku tidak akan mati!!” teriak Ralph saat hanya tinggal pria itu yang tersisa. Ia sudah lelah bertarung, tapi pria itu membawa senjata yang artinya mereka memang harus bertarung.
             “Coba perlihatkan padaku.. Seberapa hebat kau memainkan benda ini?”
             Cukup lama mereka beradu hingga akhirnya Ralph ambruk. Tangan yang berlumuran darah itu dibiarkannya begitu saja melepaskan pisau dari tangannya yang berarti ia siap mati.
             “Hah, kemampuanmu hebat juga.. Aku cukup lelah bermain-main denganmu, tapi aku senang mendapatkan ‘tangkapan’ menarik sepertimu,” gumam pria itu. kemudian, ia memanggilanak-anak buahnya yang lain untuk membawa Ralph ke ‘kamar barunya’. Ralph yang hanya setengah sadar itu pasrah apapun yang akan terjadi setelahnya. Bahkan ketika pada kenyataannya ia dijadikan robot pembunuh oleh orang yang tak pernah ia ketahui nama aslinya itu, ia tidak memberontak.
**
             Ralph tidak mengerti mengapa ia dimasukkan kedalam kurungan. Ia tidak memahami alasan mengapa kurungan itu ada di dalam kamar ‘tuan’nya itu.Ia juga tidak tahu, mengapa ia takut menghadapi ‘tuan’nya itu bahkan setelah ia menuruti apapun yang orang itu mau. Selama itu, tak ada orang lain yang berhasil menyentuh Ralph selain bos mafia itu. Sisanya, pasti mati atau setidaknya luka parah karena dihajar Ralph.
**
             “Kerja bagus, Ralph.. Cukup. Sekarang kemarilah,” perintah bos mafia yang dikenal dengan nama Crow itu. ia barus saja memerintahkan Ralph membunuh pengkhianat dihadapan semua anak buahnya. Sesuai perintah, Ralph membantainya dengan sebilah pisau.
             “Tapi, Tuan.. Aku—”
             “Tidak apa-apa. Aku bilang cukup ya cukup. Kemarilah, Manis..” ujar Crow. Ralph tidak berani membantah dan hanya berjalan mendekat.Kemudian seperti biasanya, Crow mengelus kepala Ralph seperti seekor anak anjing. “Terimakasih, peliharaanku yang baik..”
             Ralph tidak berani bicara. Ia baru saja membunuh seorang manusia dibawah perintah orang itu. Ia tak mau bernasib sama.
             “Duduklah disampingku,” perintah Crow saat Ralph berniat pergi. “Aku belum mengizinkanmu pergi.”
             Ralph sekali lagi hanya menurut meski  jelas ia tampak tak rela.
             “Tidur dipangkuanku. Jika kau tidak mau, aku pastikan kau kehilangan mata ungumu yang cantik itu.. Malam ini.”
             “Eh? Ba-baik Tuan..” Ralph menurut dalam tekanan ancaman. Ia tidak mau ambil resiko. Dibaringkannya tubuhnya seperti seekor kucing yang hendak dielus tuannya.
             Crow menegak sedikit winenya. Kemudian ia tersenyum seraya berkata, “Kalian tahu sekarang apa akibatnya jika menjadi pengkhianat, ‘kan? Sekarang, siapa lagi yang berani membantahku dan berakhir seperti dia?”
             Hening.
             “Kalian takut? Padahal kalian beruntung jika mengaku sekarang, aku akan langsung memerintahkan anak ini menembak kepala kalian..” ujarnya seraya membelai pelan rambut ungu Ralph yang sudah sepunggung dan diikat ekor kuda itu. “Tapi, jika kalian mengkhianatiku besok..”
             Suasana berubah menjadi mencekam. Crow menghabiskan wine nya sebelum melanjutkan kata-katanya. “Maka aku sendiri yang akan menguliti kalian..”
             “Jadi, jika kalian mau pergi sekarang, pergilah. Selagi suasana hatiku baik, aku akan membiarkan kalian mundur. Segeralah, sebelum suasana hatiku berubah..”
             Tidak ada satupun yang berani bicara.
             “Maaf, Bos.. Aku menemukan mereka,” ujar seseorang seraya menyeret orang lain yang kelihatan ketakutan. Mereka muncul dari pintu utama.
             “Apa itu? kau membawa tikus?” tanya Crow agak marah. Ralph bisa mengetahuinya karena tangan pria itu menjambak rambut ungunya agak pelan.
             Orang itu mengangguk. “Dia teman pengkhianat itu, Bos.”
             “Tembak dia, Ralph.”
             Ralph hanya mengangguk. Tanpa mengubah posisi, ia menembakkan satu peluru dan menerjang tepat di jantung orang itu. Semua yang ada disana bergetar takut. Ralph adalah “Peliharaan” yang sangat mengerikan...
             “Nah, ada lagi?” semua orang mundur saat Crow bertanya demikian.
             “Bagus.”
**
             “Aduh!!” keluh Ralph saat rambut panjangnya ditarik begitu saja oleh Crow dan kemudian menariknya jatuh ke lantai. Setelah membunuh dua anak buahnya tadi, suasana hatinya menjadi sangat buruk. Disaat seperti inilah, semua anak buah Crow merasa beruntung atas keberadaan Ralph disitu karena Crow hanya akan melampiaskannya pada Ralph.
             Kamar seorang bos mafia sangat luas. Tapi, perabot yang ada juga cukup memakan tempat, sehngga tidak mudah mengelak apalagi kabur dari amukan pria itu. padahal, Ralph tahu seperti apa liarnya seorang Crow jika murka.
             Ia melihat Crow mencari sesuatu. Raut wajah Ralph berubah panik seketika. Ia tahu tidak mungkin ia dibunuh sekarang, tapi kelihatannya disiksa juga tetap sakit dan Ralph tidak mau itu terjadi. Apalagi, ini bukan kesalahannya..
             “Kemarilah,” Ralph tidak berani bergerak mendekat. “Kenapa kau tidak mau mendekat?”
             Ralph hanya menatap penuh arti.
             “Katakan saja dengan jujur, peliharaanku sayang.. Kau belum berani membangkang, ‘kan?”
             “Aku.. Aku.. Ta.kut,” jawab Ralph gemetar.
             “Apa yang kautakuti, anak manis? Aku tidak akan membunuhmu, selama kau mematuhiku..”
             “Tapi—“
             Dengan cambuk, Crow melukai pelipis kiri Ralph dan membuatnya jatuh membentur  lantai. Wajah kejam seorang ‘Crow’ telah tampak. “Baiklah, anak manis.. Ayo kita bermain-main sebentar..”
             “Ti-Tidaak... Aku mohoon Tuan.. Apa salahku..?” tanya Ralph memelas.
             “Tidak ada. Aku hanya perlu hiburan,” jawab Crow seraya menyeret Ralph ke tepi ranjang. Di meja dekat sana, sebotol wine diambil oleh Crow dan disiramkannya sebagian ke kepala Ralph. Sisanya, ia memaksa Ralph meminumnya.
             “Habiskan,” perintah Crow dingin. Di tangan kirinya, sebilah pisau siap untuk langkah selanjutnya.. “Kau semakin manis dalam kondisi basah dan mabuk seperti ini.”
**
             Tahun demi tahun berlalu.. Ralph tumbuh dibawah tekanan. Ia makin sering membantah saat ia punya kesempatan, meski ia masih tetap bungkam saat Crow turun tangan. Ralph tumbuh menjadi sosok pembeontak yang sulit percaya pada orang lain. Ia tidak pernah melihat dunia itu indah, karena di matanya yang terlihat hanyalah bayangan gelap dari kehidupan.
**
             “Arrgh!! Lepaskan aku, Tuan!” teriak Ralph meronta saat tangannya diikat ke salah satu tiang di sudut ranjang.
             “Kau mulai bandel, manis.. Aku harus memberi sedikit hukuman pada anak bandel,” jawab Crow mengintimidasi.
             “Kau, pegangi dia,” perintah Crow pada seorang anak buahnya. Ia memegangi kepala Ralph agar tidak banyak bergerak.
             “A-apa yang akan Tuan lakukan?!”
             “Hm, hanya... Aku hanya akan menggambari kulit putihmu ini sebagai kenang-kenangan..”
             “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrhhh!!” jerit Ralph kesakitan saat jarum mulai bergerak diatas ulit lehernya. Ia berusaha meronta, namun ia diikat. “Saakitt..khh~”
             “Ssh, jangan memberontak.. atau ini akan jadi sangaaat menyakitkan.”
             “Ukkh,” desah Ralph menahan sakit yang luar biasa itu. Sebuah tatto akhirnya menghiasi leher kirinya. Menjadi simbol luka, kesedihan, dan ketidakberdayaan Ralph saat itu.
             “Seperti apa rasanya, hm?” tanya Crow setelah selesai. “Apa setelah ini kau berani membantah lagi?”
             “Ti..dak..” gumam Ralph yang masih merasakan sakit. “Maafkan..aku..”
             “Bagus, Ralph..” uja Crow mengusap rambut ungu Ralph yang basah oleh keringat dingin. Ralph diam sambil mengutuki hidupnya.
**
Saat usia Ralph dua belas tahun..
             “Kau membangkang lagi? Ini sudah kelima kalinya,” ujar Crow marah.
             “Aku tidak melakukannya!! Sungguh bukan salahku..” jawab Ralph membela diri. Ia gagal membunuh seorang putra bangsawan karena ternyata orang yang jadi targetnya tidak selemah yang dikiranya. “Aku yakin sudah melakukan semu—“
             “Plak!!” tamparan keras menyambar pipi putih Ralph. Membuatnya berubah menjadi merah seketika.
             “Aku tidak pernah menerima alasan,” ujar Crow seraya menjambak rambut Ralph dan menyeretnya keluar. “Kalau kau tidak berguna, maka kematian adalah pilihannya.”
             “Tapi sungguh aku sudah berusaha melakukannya...” ujar Ralph memelas. “Jangan bunuh aku!”
             Crow mendorong Ralph ke hamparan salju. Padahal, saat ini ia bertelanjang kaki, dengan celana pendek dan kaos tipis. Crow menginstruksikan anak-anak buahnya untuk memegangi Ralph karena ia akan melakukan ‘sesuatu’..
             “Aku mohoon Tuan.. Jangaan..” rengek Ralph berlinang air mata. Keadaan seperti ini tidak memungkinkannya melawan.
             Crow telah mengeluarkan pisaunya dan siap menyayat leher Ralph pelan-pelan hingga  nyawanya terlepas dari raganya. “Percuma memohon padaku.”
             “Aah, perih..” rengek Ralph saat pisau itu merobek bajunya dan menyayat kulit dadanya hingga darah mengalir mewarnai salju. Ia berusaha memberontak, tapi tubuhnya benar-benar terkunci. Ia akan mati sekarang, itu kenyataannya.
             “Kau mau mati cepat atau lambat? Aku bersedia memberimu pilihan,” tanya Crow.
             “Aku—” Ralph tidak mau mati karena dipotong-potong. Suhu benar-benar dingin dan tanpa dibunuhpun ia juga akan segera mati jika tetap di luar. Itu membuat tenggorokannya tercekat dan tidak bisa berkata-kata.
             Tepat saat Crow mengganti pisaunya dengan sebilah pedang dan siap menusukkannya ke leher Ralph, sebuah tangan menahan laju pedang itu. Ralph yang tadinya menutup mata sangat terkejut melihat siapa pemilik tangan itu.
             “Ah, jadi ini akibatnya ya jika kau kemarin membiarkanku lolos?” ujar orang itu. rambutnya merah marun, dan matanya yang berwarna senada itu menatap tajam penuh karisma.
             “Siapa kau?” tanya Crow kesal.
             “Kau tidak perlu tahu. Aku datang untuk membawa anak ini pergi..” jawab pemuda itu. “Aku akan membayar untuk itu. Jadi, aku minta anak ini menjadi milikku seutuhnya.”
             “Baik, lepaskan anak itu,” perintah Crow. “Kita juga tidak membutuhkannya lagi. Dia sama seperti sebuah rongsokan bagiku.”
             Pemuda itu menarik tangan Ralph dan melemparkan sejumlah uang. “Aku membeli dengan harga yang pantas, bukan? Dia sampah bagimu, benar begitu ‘kan?”
             Crow hanya tersenyum sinis. “Terserah padamu. Aku tunduk pada uang.”
             Pemuda berambut merah itu tersenyum dan pergi menggandeng  Ralph.
             “Kenapa Tuan menolongku? Aku—Aku pernah hampir membunu—“
             “Bukan kau yang berniat membunuhku. Bukan dia yang ingin melakukannya juga. Tapi, orang yang membayar kalianlah yang harus aku mintai tanggung jawab. Dan aku datang menyelamatkanmu sebagai ungkapan balas budi..” terang pemuda yang dikenali Ralph sebagai Revan Nightford, pahlawan yang telah membawanya kembali ke dunia penuh cahaya..
Flashback end...
**
             “Ralph,” panggil Revan. Saat Ralph tertidur, tiba-tiba saja kenangan itu kembali menyergapnya melalui kembang tidurnya. Ia baru sadar jika pakaiannya basah oleh keringat dingin dan nafasnya tidak terlalu teratur. Harus ia akui, mimpi itu cukup berhasil membuatnya merasakan penyesalan yang besar. Ia telah mencabut nyawa banyak orang yang tidak menganamnya samasekalai, dan ia hingga kini belum bisa melupakan semua itu begitu saja..
             “Ya?” segera setelah Revan merengkuh pundaknya, Ralph tersadar sepenuhnya dari mimpinya. Mata Revan mengisyaratkan kekhawatiran atas kondisi Ralph.
             “Apa kau mimpi buruk? Apa kau sakit?” Ralph menggeleng dusta. Kepalanya pening dan ia memang baru saja bermimpi buruk. Meski Revan akan tahu ia berbohong, Talph tetap ingin menyimpannya sendiri.
             “Jangan simpan masalahmu sendiri, Ralph. Aku ada untukmu..” ujar Ralph membelai Ralph pelan. “Ayo kita sarapan sekarang dan setelah itu aku akan memeriksa kondisimu. Kau mengerti?”
             “Jangan perlakukan aku seperti anak kecil..” gumam Ralph pada Revan, tapi Revan samsekali tidak peduli. Ia memang selalu begitu. Revan yang egois, Revan yang jahil, Revan yang sering ceroboh, tapi dia juga Revan yang telah menyelamatkan dirinya.. Dan Ralph sangat menyayanginya.  
             Sekian tahun yang berlalu seolah membentuk ulang karakter Ralph. Revan selalu mengupayakan yang terbaik agar Ralph tumbuh seperti seharusnya dan keluarga Revan sangat mendukung hal itu. Semua kenangan traumatis itu tidak hilang, namun berhasil tersimpan sebagai hanya kenangan atau mimpi buruk yang telah usai. Kemudian, Revan sedang mencari tahu dimana ayah Ralph berada, karena ia sangat tahu Ralph membutuhkan sosok seorang ayah untuk membuat psikisnya stabil. Hanya kurang satu itu saja untuk membentuk Ralph menjadi “Ralph” yang seutuhnya..

0 Komentar:

Post a Comment