Chapter 10
Selama
ini, Ralph selalu tersenyum. Ia bisa menjadi sosok yang seolah tidak memiliki
beban. Semua orang memandang Ralph sebagai orang yang kuat. Namun, dibalik itu
Ralph menyimpan rapat-rapat kenangan buruk yang pernah menimpanya. Mungkin
hanya Revan yang benar-benar melihat seperti apa Ralph saat itu..
Flashback~
“Ayaaaaaaah!! Ayah tolong aku,
Ayaaaaaaaaaaaaaaaah!!” teriak seorang anak berambut ungu saat ada beberapa
orang tak dikenal menariknya paksa.
“Anak yang sangat manis, ya.. Cepat
bawa dia. Kurasa hari ini kita beruntung,” ujar salah seorang pria asing itu.
Anak berambut ungu bernama Ralph
sebenarnya tidak lemah samasekali. Ia sudah bisa memakai senjata seperti pisau
dan pistoll. Tapi, jika bahkan ia tak bisa bergerak, maka ilmunya itu samasekali
tidak berguna. “Hei! Apa mau kalian? Lepaskan aku!!”
“Cepat masukkan ke mobil,” perintah
salah seorang lainnya. Kemudian, dengan kasar mereka mendorong Ralph masuk ke mobil. Setelah itu, mesin
dinyalakan dan mereka pergi. Ralph tidak pernah tahu apa yang membuat hidupnya
harus diwarnai hal semacam itu.
“Kita mau kemana?” pertanyaan polos
itu terlontar begitu saja dari mulut Ralph yang saat itu masih cukup kecil.
“Diamlah,” jawab salah satu dari
mereka sambil menghisap rokok dan menyembulkan asapnya ke dekat Ralph hingga ia
batuk-batuk.
Ralph tidak mengerti. Logikanya
terlalu jauh untuk menangkap apa yang dipikirkan para orang dewasa saat itu. ia
tidak tahu lagi harus berbuat apa selain duduk diam dan menahan tangisan yang
hampir pecah.
**
“Bruk!” mereka menjatuhkan Ralph ke
lantai marmer dingin itu begitu saja. Rambut ungunya yang sepanjang bahu itu
menutupi matanya karena ia tertunduk menahan sakit akibat dibanting dengan
sengaja ke lantai keras itu.
“Apa ini?” tanya seorang pria
bersuara berat. Dari logika pendeknya, Ralph menyimpulkan bahwa orang itulah
yang ‘tertinggi’ disitu.
“Aku tanya, apa yang kalian bawa
ini? Untuk apa?” tanya orang itu lagi seraya meletakkan cerutu yang sedari tadi
dihisapnya.
Tak ada yang menjawab. Ralph tidak
mengerti sebenarnya apa yang terjadi.
“Kalian tidak menjawab?” orang itu
berdiri dan mendekat. “Kalian kira, kalian bisa menukar kesalahan kalian dengan
anak ini?” tanya orang itu seraya makin mendekat. Kini, orang itu berdiri
dihadapan Ralph.
“Hei bocah, sebutkan namamu,”
perintah suara berat itu.
“Ralph. Namaku Ralph..” jawab Ralph
berusaha tenang.
“Anak manis. Nah, Ralph.. Ralph
anak manis,’kan? Coba dengarkan perintahku,ya? Atau nanti Ralph juga akan
bernasib seperti mereka..” ujar pria itu seraya mengeluarkan pistol dari balik
mantelnya. “Bunuh mereka.”
Ralph diam. Matanya kosong. Ia takut untuk memilih..
“Ayo, Ralph.. Lakukan.”
“Aku takut..” jawab Ralph jujur. Ia
menatap mata pria itu dengan mata ungu beningnya yang mulai berkaca-kaca.
Pria itu tertawa sebentar.
Kemudian, ia mengarahkan pistolnya kepada anak-anak buahnya yang tadi menculik
Ralph. “Aku berterimakasih atas pemberian kalian ini. Tapi, selamat tinggal.”
Darah mengalir begitu saja
membasahi lantai marmer yang entah mengapa sejak awal sudah anyir bagi Ralph.
Kemudian, setelah melihat hal itu Ralph tidak bisa membendung rasa takutnya.
Diambilnya sepasang pedang pendek dari balik jas jasad orang yang baru saja
dibunuh itu. Ia adalah putra seorang mafia, yang hidup memang tanpa hati. Tapi,
ayahnya tak pernah mengajarkannya untuk membunuh sembarang orang. Membunuhlah
hanya jika memang kau akan dibunuh.
“Ralph, singkirkan benda itu dari
tanganmu manis..” pinta pria itu mencoba bicara lembut.
Ralph segera menyerang semua orang
yang ada di ruangan itu. Dari sekitar dua puluh orang termasuk pria tadi itu,
Ralph berhasil melumpuhkan hampir semuanya dalam sekejap.
“Wah..” gumam pria itu menonton
Ralph menerjang membabi buta. Kemudian ia sendiri mengeluarkan pedang pendeknya
dan berniat mencoba kemampuan Ralph yang masih berusia sembilan tahun.
“Aku tidak akan mati!!” teriak
Ralph saat hanya tinggal pria itu yang tersisa. Ia sudah lelah bertarung, tapi
pria itu membawa senjata yang artinya mereka memang harus bertarung.
“Coba perlihatkan padaku.. Seberapa
hebat kau memainkan benda ini?”
Cukup lama mereka beradu hingga
akhirnya Ralph ambruk. Tangan yang berlumuran darah itu dibiarkannya begitu
saja melepaskan pisau dari tangannya yang berarti ia siap mati.
“Hah, kemampuanmu hebat juga.. Aku
cukup lelah bermain-main denganmu, tapi aku senang mendapatkan ‘tangkapan’
menarik sepertimu,” gumam pria itu. kemudian, ia memanggilanak-anak buahnya
yang lain untuk membawa Ralph ke ‘kamar barunya’. Ralph yang hanya setengah
sadar itu pasrah apapun yang akan terjadi setelahnya. Bahkan ketika pada
kenyataannya ia dijadikan robot pembunuh oleh orang yang tak pernah ia ketahui
nama aslinya itu, ia tidak memberontak.
**
Ralph tidak mengerti mengapa ia
dimasukkan kedalam kurungan. Ia tidak memahami alasan mengapa kurungan itu ada
di dalam kamar ‘tuan’nya itu.Ia juga tidak tahu, mengapa ia takut menghadapi ‘tuan’nya
itu bahkan setelah ia menuruti apapun yang orang itu mau. Selama itu, tak ada
orang lain yang berhasil menyentuh Ralph selain bos mafia itu. Sisanya, pasti
mati atau setidaknya luka parah karena dihajar Ralph.
**
“Kerja bagus, Ralph.. Cukup.
Sekarang kemarilah,” perintah bos mafia yang dikenal dengan nama Crow itu. ia
barus saja memerintahkan Ralph membunuh pengkhianat dihadapan semua anak
buahnya. Sesuai perintah, Ralph membantainya dengan sebilah pisau.
“Tapi, Tuan.. Aku—”
“Tidak apa-apa. Aku bilang cukup ya
cukup. Kemarilah, Manis..” ujar Crow. Ralph tidak berani membantah dan hanya
berjalan mendekat.Kemudian seperti biasanya, Crow mengelus kepala Ralph seperti
seekor anak anjing. “Terimakasih, peliharaanku yang baik..”
Ralph tidak berani bicara. Ia baru
saja membunuh seorang manusia dibawah perintah orang itu. Ia tak mau bernasib
sama.
“Duduklah disampingku,” perintah
Crow saat Ralph berniat pergi. “Aku belum mengizinkanmu pergi.”
Ralph sekali lagi hanya menurut
meski jelas ia tampak tak rela.
“Tidur dipangkuanku. Jika kau tidak
mau, aku pastikan kau kehilangan mata ungumu yang cantik itu.. Malam ini.”
“Eh? Ba-baik Tuan..” Ralph menurut
dalam tekanan ancaman. Ia tidak mau ambil resiko. Dibaringkannya tubuhnya
seperti seekor kucing yang hendak dielus tuannya.
Crow menegak sedikit winenya.
Kemudian ia tersenyum seraya berkata, “Kalian tahu sekarang apa akibatnya jika
menjadi pengkhianat, ‘kan? Sekarang, siapa lagi yang berani membantahku dan
berakhir seperti dia?”
Hening.
“Kalian takut? Padahal kalian beruntung
jika mengaku sekarang, aku akan langsung memerintahkan anak ini menembak kepala
kalian..” ujarnya seraya membelai pelan rambut ungu Ralph yang sudah sepunggung
dan diikat ekor kuda itu. “Tapi, jika kalian mengkhianatiku besok..”
Suasana berubah menjadi mencekam.
Crow menghabiskan wine nya sebelum melanjutkan kata-katanya. “Maka aku sendiri
yang akan menguliti kalian..”
“Jadi, jika kalian mau pergi
sekarang, pergilah. Selagi suasana hatiku baik, aku akan membiarkan kalian
mundur. Segeralah, sebelum suasana hatiku berubah..”
Tidak ada satupun yang berani
bicara.
“Maaf, Bos.. Aku menemukan mereka,”
ujar seseorang seraya menyeret orang lain yang kelihatan ketakutan. Mereka
muncul dari pintu utama.
“Apa itu? kau membawa tikus?” tanya
Crow agak marah. Ralph bisa mengetahuinya karena tangan pria itu menjambak
rambut ungunya agak pelan.
Orang itu mengangguk. “Dia teman
pengkhianat itu, Bos.”
“Tembak dia, Ralph.”
Ralph hanya mengangguk. Tanpa
mengubah posisi, ia menembakkan satu peluru dan menerjang tepat di jantung
orang itu. Semua yang ada disana bergetar takut. Ralph adalah “Peliharaan” yang
sangat mengerikan...
“Nah, ada lagi?” semua orang mundur
saat Crow bertanya demikian.
“Bagus.”
**
“Aduh!!” keluh Ralph saat rambut
panjangnya ditarik begitu saja oleh Crow dan kemudian menariknya jatuh ke
lantai. Setelah membunuh dua anak buahnya tadi, suasana hatinya menjadi sangat
buruk. Disaat seperti inilah, semua anak buah Crow merasa beruntung atas
keberadaan Ralph disitu karena Crow hanya akan melampiaskannya pada Ralph.
Kamar seorang bos mafia sangat
luas. Tapi, perabot yang ada juga cukup memakan tempat, sehngga tidak mudah
mengelak apalagi kabur dari amukan pria itu. padahal, Ralph tahu seperti apa
liarnya seorang Crow jika murka.
Ia melihat Crow mencari sesuatu. Raut
wajah Ralph berubah panik seketika. Ia tahu tidak mungkin ia dibunuh sekarang,
tapi kelihatannya disiksa juga tetap sakit dan Ralph tidak mau itu terjadi.
Apalagi, ini bukan kesalahannya..
“Kemarilah,” Ralph tidak berani
bergerak mendekat. “Kenapa kau tidak mau mendekat?”
Ralph hanya menatap penuh arti.
“Katakan saja dengan jujur,
peliharaanku sayang.. Kau belum berani membangkang, ‘kan?”
“Aku.. Aku.. Ta.kut,” jawab Ralph
gemetar.
“Apa yang kautakuti, anak manis?
Aku tidak akan membunuhmu, selama kau mematuhiku..”
“Tapi—“
Dengan cambuk, Crow melukai pelipis
kiri Ralph dan membuatnya jatuh membentur
lantai. Wajah kejam seorang ‘Crow’ telah tampak. “Baiklah, anak manis..
Ayo kita bermain-main sebentar..”
“Ti-Tidaak... Aku mohoon Tuan.. Apa
salahku..?” tanya Ralph memelas.
“Tidak ada. Aku hanya perlu
hiburan,” jawab Crow seraya menyeret Ralph ke tepi ranjang. Di meja dekat sana,
sebotol wine diambil oleh Crow dan disiramkannya sebagian ke kepala Ralph.
Sisanya, ia memaksa Ralph meminumnya.
“Habiskan,” perintah Crow dingin.
Di tangan kirinya, sebilah pisau siap untuk langkah selanjutnya.. “Kau semakin
manis dalam kondisi basah dan mabuk seperti ini.”
**
Tahun demi tahun berlalu.. Ralph
tumbuh dibawah tekanan. Ia makin sering membantah saat ia punya kesempatan,
meski ia masih tetap bungkam saat Crow turun tangan. Ralph tumbuh menjadi sosok
pembeontak yang sulit percaya pada orang lain. Ia tidak pernah melihat dunia
itu indah, karena di matanya yang terlihat hanyalah bayangan gelap dari
kehidupan.
**
“Arrgh!! Lepaskan aku, Tuan!”
teriak Ralph meronta saat tangannya diikat ke salah satu tiang di sudut
ranjang.
“Kau mulai bandel, manis.. Aku
harus memberi sedikit hukuman pada anak bandel,” jawab Crow mengintimidasi.
“Kau, pegangi dia,” perintah Crow
pada seorang anak buahnya. Ia memegangi kepala Ralph agar tidak banyak
bergerak.
“A-apa yang akan Tuan lakukan?!”
“Hm, hanya... Aku hanya akan
menggambari kulit putihmu ini sebagai kenang-kenangan..”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrhhh!!”
jerit Ralph kesakitan saat jarum mulai bergerak diatas ulit lehernya. Ia
berusaha meronta, namun ia diikat. “Saakitt..khh~”
“Ssh, jangan memberontak.. atau ini
akan jadi sangaaat menyakitkan.”
“Ukkh,” desah Ralph menahan sakit
yang luar biasa itu. Sebuah tatto akhirnya menghiasi leher kirinya. Menjadi
simbol luka, kesedihan, dan ketidakberdayaan Ralph saat itu.
“Seperti apa rasanya, hm?” tanya
Crow setelah selesai. “Apa setelah ini kau berani membantah lagi?”
“Ti..dak..” gumam Ralph yang masih
merasakan sakit. “Maafkan..aku..”
“Bagus, Ralph..” uja Crow mengusap
rambut ungu Ralph yang basah oleh keringat dingin. Ralph diam sambil mengutuki
hidupnya.
**
Saat
usia Ralph dua belas tahun..
“Kau membangkang lagi? Ini sudah
kelima kalinya,” ujar Crow marah.
“Aku tidak melakukannya!! Sungguh
bukan salahku..” jawab Ralph membela diri. Ia gagal membunuh seorang putra
bangsawan karena ternyata orang yang jadi targetnya tidak selemah yang
dikiranya. “Aku yakin sudah melakukan semu—“
“Plak!!” tamparan keras menyambar
pipi putih Ralph. Membuatnya berubah menjadi merah seketika.
“Aku tidak pernah menerima alasan,”
ujar Crow seraya menjambak rambut Ralph dan menyeretnya keluar. “Kalau kau
tidak berguna, maka kematian adalah pilihannya.”
“Tapi sungguh aku sudah berusaha
melakukannya...” ujar Ralph memelas. “Jangan bunuh aku!”
Crow mendorong Ralph ke hamparan
salju. Padahal, saat ini ia bertelanjang kaki, dengan celana pendek dan kaos
tipis. Crow menginstruksikan anak-anak buahnya untuk memegangi Ralph karena ia
akan melakukan ‘sesuatu’..
“Aku mohoon Tuan.. Jangaan..”
rengek Ralph berlinang air mata. Keadaan seperti ini tidak memungkinkannya melawan.
Crow telah mengeluarkan pisaunya
dan siap menyayat leher Ralph pelan-pelan hingga nyawanya terlepas dari raganya. “Percuma
memohon padaku.”
“Aah, perih..” rengek Ralph saat
pisau itu merobek bajunya dan menyayat kulit dadanya hingga darah mengalir
mewarnai salju. Ia berusaha memberontak, tapi tubuhnya benar-benar terkunci. Ia
akan mati sekarang, itu kenyataannya.
“Kau mau mati cepat atau lambat?
Aku bersedia memberimu pilihan,” tanya Crow.
“Aku—” Ralph tidak mau mati karena
dipotong-potong. Suhu benar-benar dingin dan tanpa dibunuhpun ia juga akan
segera mati jika tetap di luar. Itu membuat tenggorokannya tercekat dan tidak
bisa berkata-kata.
Tepat saat Crow mengganti pisaunya
dengan sebilah pedang dan siap menusukkannya ke leher Ralph, sebuah tangan
menahan laju pedang itu. Ralph yang tadinya menutup mata sangat terkejut
melihat siapa pemilik tangan itu.
“Ah, jadi ini akibatnya ya jika kau
kemarin membiarkanku lolos?” ujar orang itu. rambutnya merah marun, dan matanya
yang berwarna senada itu menatap tajam penuh karisma.
“Siapa kau?” tanya Crow kesal.
“Kau tidak perlu tahu. Aku datang
untuk membawa anak ini pergi..” jawab pemuda itu. “Aku akan membayar untuk itu.
Jadi, aku minta anak ini menjadi milikku seutuhnya.”
“Baik, lepaskan anak itu,” perintah
Crow. “Kita juga tidak membutuhkannya lagi. Dia sama seperti sebuah rongsokan
bagiku.”
Pemuda itu menarik tangan Ralph dan
melemparkan sejumlah uang. “Aku membeli dengan harga yang pantas, bukan? Dia
sampah bagimu, benar begitu ‘kan?”
Crow hanya tersenyum sinis.
“Terserah padamu. Aku tunduk pada uang.”
Pemuda berambut merah itu tersenyum
dan pergi menggandeng Ralph.
“Kenapa Tuan menolongku? Aku—Aku
pernah hampir membunu—“
“Bukan kau yang berniat membunuhku.
Bukan dia yang ingin melakukannya juga. Tapi, orang yang membayar kalianlah
yang harus aku mintai tanggung jawab. Dan aku datang menyelamatkanmu sebagai
ungkapan balas budi..” terang pemuda yang dikenali Ralph sebagai Revan
Nightford, pahlawan yang telah membawanya kembali ke dunia penuh cahaya..
Flashback
end...
**
“Ralph,” panggil Revan. Saat Ralph
tertidur, tiba-tiba saja kenangan itu kembali menyergapnya melalui kembang
tidurnya. Ia baru sadar jika pakaiannya basah oleh keringat dingin dan nafasnya
tidak terlalu teratur. Harus ia akui, mimpi itu cukup berhasil membuatnya
merasakan penyesalan yang besar. Ia telah mencabut nyawa banyak orang yang
tidak menganamnya samasekalai, dan ia hingga kini belum bisa melupakan semua
itu begitu saja..
“Ya?” segera setelah Revan
merengkuh pundaknya, Ralph tersadar sepenuhnya dari mimpinya. Mata Revan
mengisyaratkan kekhawatiran atas kondisi Ralph.
“Apa kau mimpi buruk? Apa kau
sakit?” Ralph menggeleng dusta. Kepalanya pening dan ia memang baru saja
bermimpi buruk. Meski Revan akan tahu ia berbohong, Talph tetap ingin
menyimpannya sendiri.
“Jangan simpan masalahmu sendiri,
Ralph. Aku ada untukmu..” ujar Ralph membelai Ralph pelan. “Ayo kita sarapan
sekarang dan setelah itu aku akan memeriksa kondisimu. Kau mengerti?”
“Jangan perlakukan aku seperti anak
kecil..” gumam Ralph pada Revan, tapi Revan samsekali tidak peduli. Ia memang
selalu begitu. Revan yang egois, Revan yang jahil, Revan yang sering ceroboh,
tapi dia juga Revan yang telah menyelamatkan dirinya.. Dan Ralph sangat
menyayanginya.
Sekian tahun yang berlalu seolah
membentuk ulang karakter Ralph. Revan selalu mengupayakan yang terbaik agar
Ralph tumbuh seperti seharusnya dan keluarga Revan sangat mendukung hal itu.
Semua kenangan traumatis itu tidak hilang, namun berhasil tersimpan sebagai
hanya kenangan atau mimpi buruk yang telah usai. Kemudian, Revan sedang mencari
tahu dimana ayah Ralph berada, karena ia sangat tahu Ralph membutuhkan sosok
seorang ayah untuk membuat psikisnya stabil. Hanya kurang satu itu saja untuk
membentuk Ralph menjadi “Ralph” yang seutuhnya..



0 Komentar:
Post a Comment