Chapter 1
Tiga
hari Revan tersiksa. Tanpa makan dan minum dan juga minim oksigen. Ia mulai
kelihatan pucat dan malas membuka mata. Ia mengabaikan luka-lukanya dan memilih
tertidur agar tidak merasakan apa-apa. Mungkin ia tampak seperti mayat yang
terlantar, mungkin.
Samar-samar,
langkah kaki terdengar bergema hingga mau tak mau Revan membuka matanya untuk
melihat siapa yang datang. Sesuai dugaannya, David dan Vincent datang dengan
membawa-bawa sebilah pedang pendek yang pasti tajam.
“Kondisimu
mengenaskan, Revan.. Padahal aku hanya meminta mereka tidak memberimu makan dan
minum selama beberapa hari,” ujar David tenang. Dalam hati Revan mengutuk orang
itu sebanyak-banyaknya agar ia masuk ke neraka paling rendah bersama pendosa
lainnya.
“Kau
iblis,” gumam Revan tanpa bergerak. “Mau apa kau kemari? Kukira kau ingin
membiarkan aku mati membusuk disini.”
“Aku
tidak mau melakukannya. Itu terlalu mudah,” jawab David sinis. Kau tahu
rencanaku yang besar itu, ‘kan? Padahal jika kau tidak tahu apa-apa, aku
langsung akan menembak kepalamu sehingga kau tidak perlu menderita.”
“Jadi
kau mau menunjukkan seperi apa kau sebenarnya, ya?” tanya Revan tak acuh. Ia
tetap berbaring dan tidak bergerak. “Iblis tidak akan bisa memimpin dunia.”
“Sekaratpun
kau tetap saja cerewet, ya..” ujar Vincent yang berdiri dibelakang David. “Aku
tidak bisa melupakan luka di pipiku ini.”
“Sudahlah,
Vincent. Bukakan pintunya untukku agar kita bisa melanjutkan yang kemarin,”
perintah David pada Vincent yang kemudian membuka kunci pintu sel tahanan itu.
Kondisi
Revan saat ini sangat lemah. Ia bahkan tidak akan bisa menjerit jika nanti ia
dibunuh disini. Dan sialnya lagi jika ia mati sekarang, maka dunia akan
menganggapnya pantas karena David sudah berhasil memfitnahnya. Benar-benar
posisi yang tidak menguntungkan.
“Tenanglah,
aku tidak akan membunuhmu sekarang,” ujar David seraya melepaskan rantai yang
membelit Revan. Tapi bahkan dengan tubuh bebaspun, ia tidak punya tenaga
samasekali untuk melawan pria berusia tiga puluh lima tahun yang berniat
menyiksanya itu.
“Apa
sebaiknya aku pergi?” tanya Vincent kemudian. “Nikmati objekmu itu sendirian.
Aku tidak suka melihat kelakuanmu yang benar-benar tidak enak dimataku itu.”
“Pergilah,”
jawab David.
Saat
Vincent pergi, David tersenyum mengejek pada Revan yang sekarat. Bahkan dalam
hati David tertawa karena Revan bahkan tidak sanggup menyingkirkan tangannya
yang memainkan Rambut merah Revan. Dan tentu saja Revan hanya bisa mengutuk
tanpa bisa melawan.
Tangan
David melepas kemeja putih bermotif darah milik Revan sehingga luka-luka Revan
terlihat jelas. David semakin tertawa saat melihatnya, dan segera menyandarkan Revan
ke dinding dan memulai kegiatannya.
“Ukh..”
rintih Revan saat pisau itu menyayat bibir bawahnya. Darah yang mengalir itu
kemudian dijiilati oleh David tanpa peduli bahwa Revan sedang mengutuki
dirinya. “Kau sakit jiwa, David.”
“Mungkin
benar, tapi aku tidak peduli. Kau hanyalah jasad yang bisa berbicara,” balas
David setelah menelan darah Revan yang ia jilat tadi. “Aku kasihan padamu.”
“Jika
memang kau punya rasa belas kasih, kau seharusnya tidak menjilati darahku.
Hanya iblis yang begitu menyukai pertumpahan darah,” ujar Revan tanpa membuka
mata. Suaranya terdengar sangat parau dan
pelan.
“Kau
memang hebat dalam berbicara, Revan. Kalau begitu bagaimana jika kupatahkan
kakimu? Itu tidak mengeluarkan darah, bukan?” ujar David seraya meraih kaki
Revan. “Bahkan mungkin retak saja sudah cukup.”
“Arrgh!!
Apa yang kaulakukan?!” jerit Revan saat David benar-benar ingin mematahkan
tulang kaki kirinya. “Sakit, ya..
Atau perlu aku tambah lagi supaya kau bisa habiskan tenagamu untuk
mengerang-erang kesakitan?” David
membuang pisaunya jauh-jauh, dan kini tangan kirinya siap mencekik Revan.
“Apa
tujuanmu melakukan ini?” tanya Revan seraya memaksakan diri membuka mata.
Tatapan sayu itu masih saja menyiratkan ketidakmengertian.
“Bersenang-senang,”
jawab David tenang. “Aku akan membuatmu bahkan memohon untuk kubunuh. Dan
kemudian, semua orang akan berpikir
bahwa kau adalah penjahat besar
yang telah mati. Sangat menarik, ‘kan?”
“Kau
iblis terkutuk.”
David
hanya diam dan mulai mencekik Revan. Revan bisa merasakan saat darahnya tidak
bisa mencapai otak ataupun kembali ke jantung. Nafasnya juga mulai tersngal
karena cekikan itu ternyata jauh melebihi kekuatannya untuk bertahan.
“Harusnya
kau tidak mengetahui apapun, Revan. Sehingga aku tidak perlu menghabiskan waktu
denganmu.” Ujar David seraya melukai kelopak mata Revan dengan pisau. Dengan
begitu, Revan tidak akan bisa membuka kedua matanya.
“Aku
akan bertahan hidup untuk menyampaikan dosa apa saja yang telah kauperbuat,
David..” gumam Revan.
“Kita
lihat, siapa yang lebih hebat. Bahkan Daniel Petervine yang merupakan kerabatmu
itu juga telah meregang nyawa ditanganku..” David merenggangkan cekikannya.
Tapi kali ini tangannya berpindah untuk menjambak rambut belakang Revan sangat
kuat. “Apa kau juga bernasib sama? Kita tunggu saja..”
“Mereka
tidak akan membiarkan ini terjadi dan kami akan menghancurkanmu,” gumam Revan
yang kembali terpejam karena rasa sakit yang tak tertahankan telah menguasai
tubuhnya. “Aku tidak pernah sendirian.”
“Walau
mereka menyelamatkanmu sekarang, langkahmu masih jauh untuk mengejarku, Revan.
Pemuda dua puluh lima tahun sepertimu kelihatannya tidak akan mudah
mengalahkanku..”
“Kau
terlalu percaya diri..” gumam Revan lirih tepat sesaat sebelum kesadarannya
hilang dan membuatnya ambruk. Ia tdak bisa merasakan apapun lagi. Ia juga tidak
bisa mendengar suara langkah David yang menjauh meninggalkannya.
*****
“Kau
sudah siap melakukannya?” tanya Raymond pada pelayan setia Revan—Ralph. “Aku
akan titipkan Revan padamu sepenuhnya setelah ini.”
“Iya,
Tuan. Semua sudah siap sesuai rencana,” jawab Ralph dengan hormat. Ia berusaha
bersikap tenang, meski dalam hati ia sangat cemas.
“Aku
akan mengurus apa yang ada disini. Kau harus mengurus apa yang ada disekelilingnya. Dan sisanya, aku
yakin ia punya rencana. Masalah ini bukan hanya masalahnya, pasti semua
baik-baik saja. Jadi, tenanglah,” ujar Raymond seraya menepuk punggung Ralph
yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri itu.
“Aku
mengerti, Tuan. Aku tidak ingin ia terluka..”
“Jika
memang setulus itu perasaanmu padanya, jalankan rencana ini dengan baik.” Ralph
hanya mengangguk.
******
Malam
telah sangat larut. Tidak lagi terdengar suara manusia beraktifitas. Revan
sendiri hanya berbaring lemah tanpa bisa tidur. Nyeri dan perih yang menjalari
sekujur tubuhnya itu membuatnya malas bergerak . terlebih lagi rasanya akan
perih jika ia mencoba membuka mata karena luka di kelopak matanya. Dalam
keheningan, ia mengosongkan pikirannya selaras dengan kheningan yang
menyelimutinya.
Tiba-tiba
samar-samar terdengar suara kaki melangkah mendekat. Otomatis Revan menyiagakan
dirinya terhadap orang yang mendekat itu karena ia tak bisa melihat apa-apa.
“Aku
datang untuk membawamu pergi,” ujar suara yang familier di telinga Revan sesaat
setelah ia mendengar orang itu sepertinya membukakan kunci sel Revan.
“Ralph?”
pemuda itu hanya mengangguk, dan sayangnya Revan tidak bisa melihatnya.
“Ayo,”
ujar pemuda yang dikenali Revan sebagai Ralph itu. Ia mengikatkan sehelai kain
agar Revan bisa lebih nyaman memejamkan matanya. Darah dari kelopak mata Revan
membuat kain itu merah dan berbau anyir khas darah. Kemudian pemuda itu memapah
Revan berjalan meninggalkan tempat itu.
~~~~1~~~~



0 Komentar:
Post a Comment