Thursday, June 14, 2012

~SuZeRain~ 1


Chapter 1

             Tiga hari Revan tersiksa. Tanpa makan dan minum dan juga minim oksigen. Ia mulai kelihatan pucat dan malas membuka mata. Ia mengabaikan luka-lukanya dan memilih tertidur agar tidak merasakan apa-apa. Mungkin ia tampak seperti mayat yang terlantar, mungkin.
             Samar-samar, langkah kaki terdengar bergema hingga mau tak mau Revan membuka matanya untuk melihat siapa yang datang. Sesuai dugaannya, David dan Vincent datang dengan membawa-bawa sebilah pedang pendek yang pasti tajam.
             “Kondisimu mengenaskan, Revan.. Padahal aku hanya meminta mereka tidak memberimu makan dan minum selama beberapa hari,” ujar David tenang. Dalam hati Revan mengutuk orang itu sebanyak-banyaknya agar ia masuk ke neraka paling rendah bersama pendosa lainnya.
             “Kau iblis,” gumam Revan tanpa bergerak. “Mau apa kau kemari? Kukira kau ingin membiarkan aku mati membusuk disini.”
             “Aku tidak mau melakukannya. Itu terlalu mudah,” jawab David sinis. Kau tahu rencanaku yang besar itu, ‘kan? Padahal jika kau tidak tahu apa-apa, aku langsung akan menembak kepalamu sehingga kau tidak perlu menderita.”
             “Jadi kau mau menunjukkan seperi apa kau sebenarnya, ya?” tanya Revan tak acuh. Ia tetap berbaring dan tidak bergerak. “Iblis tidak akan bisa memimpin dunia.”
             “Sekaratpun kau tetap saja cerewet, ya..” ujar Vincent yang berdiri dibelakang David. “Aku tidak bisa melupakan luka di pipiku ini.”
             “Sudahlah, Vincent. Bukakan pintunya untukku agar kita bisa melanjutkan yang kemarin,” perintah David pada Vincent yang kemudian membuka kunci pintu sel tahanan itu.
             Kondisi Revan saat ini sangat lemah. Ia bahkan tidak akan bisa menjerit jika nanti ia dibunuh disini. Dan sialnya lagi jika ia mati sekarang, maka dunia akan menganggapnya pantas karena David sudah berhasil memfitnahnya. Benar-benar posisi yang tidak menguntungkan.
             “Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu sekarang,” ujar David seraya melepaskan rantai yang membelit Revan. Tapi bahkan dengan tubuh bebaspun, ia tidak punya tenaga samasekali untuk melawan pria berusia tiga puluh lima tahun yang berniat menyiksanya itu.
             “Apa sebaiknya aku pergi?” tanya Vincent kemudian. “Nikmati objekmu itu sendirian. Aku tidak suka melihat kelakuanmu yang benar-benar tidak enak dimataku itu.”
             “Pergilah,” jawab David.
             Saat Vincent pergi, David tersenyum mengejek pada Revan yang sekarat. Bahkan dalam hati David tertawa karena Revan bahkan tidak sanggup menyingkirkan tangannya yang memainkan Rambut merah Revan. Dan tentu saja Revan hanya bisa mengutuk tanpa bisa melawan.
             Tangan David melepas kemeja putih bermotif darah milik Revan sehingga luka-luka Revan terlihat jelas. David semakin tertawa saat melihatnya, dan segera menyandarkan Revan ke dinding dan memulai kegiatannya.
             “Ukh..” rintih Revan saat pisau itu menyayat bibir bawahnya. Darah yang mengalir itu kemudian dijiilati oleh David tanpa peduli bahwa Revan sedang mengutuki dirinya. “Kau sakit jiwa, David.”
             “Mungkin benar, tapi aku tidak peduli. Kau hanyalah jasad yang bisa berbicara,” balas David setelah menelan darah Revan yang ia jilat tadi. “Aku kasihan padamu.”
             “Jika memang kau punya rasa belas kasih, kau seharusnya tidak menjilati darahku. Hanya iblis yang begitu menyukai pertumpahan darah,” ujar Revan tanpa membuka mata. Suaranya terdengar sangat parau dan  pelan.
             “Kau memang hebat dalam berbicara, Revan. Kalau begitu bagaimana jika kupatahkan kakimu? Itu tidak mengeluarkan darah, bukan?” ujar David seraya meraih kaki Revan. “Bahkan mungkin retak saja sudah cukup.”
             “Arrgh!! Apa yang kaulakukan?!” jerit Revan saat David benar-benar ingin mematahkan tulang kaki kirinya.       “Sakit, ya.. Atau perlu aku tambah lagi supaya kau bisa habiskan tenagamu untuk mengerang-erang kesakitan?”  David membuang pisaunya jauh-jauh, dan kini tangan kirinya siap mencekik Revan.
             “Apa tujuanmu melakukan ini?” tanya Revan seraya memaksakan diri membuka mata. Tatapan sayu itu masih saja menyiratkan ketidakmengertian.
             “Bersenang-senang,” jawab David tenang. “Aku akan membuatmu bahkan memohon untuk kubunuh. Dan kemudian, semua orang akan berpikir  bahwa  kau adalah penjahat besar yang telah mati. Sangat menarik, ‘kan?”
             “Kau iblis terkutuk.”
             David hanya diam dan mulai mencekik Revan. Revan bisa merasakan saat darahnya tidak bisa mencapai otak ataupun kembali ke jantung. Nafasnya juga mulai tersngal karena cekikan itu ternyata jauh melebihi kekuatannya untuk bertahan.
             “Harusnya kau tidak mengetahui apapun, Revan. Sehingga aku tidak perlu menghabiskan waktu denganmu.” Ujar David seraya melukai kelopak mata Revan dengan pisau. Dengan begitu, Revan tidak akan bisa membuka kedua matanya.
             “Aku akan bertahan hidup untuk menyampaikan dosa apa saja yang telah kauperbuat, David..” gumam Revan.
             “Kita lihat, siapa yang lebih hebat. Bahkan Daniel Petervine yang merupakan kerabatmu itu juga telah meregang nyawa ditanganku..” David merenggangkan cekikannya. Tapi kali ini tangannya berpindah untuk menjambak rambut belakang Revan sangat kuat. “Apa kau juga bernasib sama? Kita tunggu saja..”
             “Mereka tidak akan membiarkan ini terjadi dan kami akan menghancurkanmu,” gumam Revan yang kembali terpejam karena rasa sakit yang tak tertahankan telah menguasai tubuhnya. “Aku tidak pernah sendirian.”
             “Walau mereka menyelamatkanmu sekarang, langkahmu masih jauh untuk mengejarku, Revan. Pemuda dua puluh lima tahun sepertimu kelihatannya tidak akan mudah mengalahkanku..”
             “Kau terlalu percaya diri..” gumam Revan lirih tepat sesaat sebelum kesadarannya hilang dan membuatnya ambruk. Ia tdak bisa merasakan apapun lagi. Ia juga tidak bisa mendengar suara langkah David yang menjauh meninggalkannya.
*****
             “Kau sudah siap melakukannya?” tanya Raymond pada pelayan setia Revan—Ralph. “Aku akan titipkan Revan padamu sepenuhnya setelah ini.”
             “Iya, Tuan. Semua sudah siap sesuai rencana,” jawab Ralph dengan hormat. Ia berusaha bersikap tenang, meski dalam hati ia sangat cemas.
             “Aku akan mengurus apa yang ada disini. Kau harus mengurus apa  yang ada disekelilingnya. Dan sisanya, aku yakin ia punya rencana. Masalah ini bukan hanya masalahnya, pasti semua baik-baik saja. Jadi, tenanglah,” ujar Raymond seraya menepuk punggung Ralph yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri itu.
             “Aku mengerti, Tuan. Aku tidak ingin ia terluka..”
             “Jika memang setulus itu perasaanmu padanya, jalankan rencana ini dengan baik.” Ralph hanya mengangguk.
******
             Malam telah sangat larut. Tidak lagi terdengar suara manusia beraktifitas. Revan sendiri hanya berbaring lemah tanpa bisa tidur. Nyeri dan perih yang menjalari sekujur tubuhnya itu membuatnya malas bergerak . terlebih lagi rasanya akan perih jika ia mencoba membuka mata karena luka di kelopak matanya. Dalam keheningan, ia mengosongkan pikirannya selaras dengan kheningan yang menyelimutinya.
             Tiba-tiba samar-samar terdengar suara kaki melangkah mendekat. Otomatis Revan menyiagakan dirinya terhadap orang yang mendekat itu karena ia tak bisa melihat apa-apa.
             “Aku datang untuk membawamu pergi,” ujar suara yang familier di telinga Revan sesaat setelah ia mendengar orang itu sepertinya membukakan kunci sel Revan.
             “Ralph?” pemuda itu hanya mengangguk, dan sayangnya Revan tidak bisa melihatnya.
             “Ayo,” ujar pemuda yang dikenali Revan sebagai Ralph itu. Ia mengikatkan sehelai kain agar Revan bisa lebih nyaman memejamkan matanya. Darah dari kelopak mata Revan membuat kain itu merah dan berbau anyir khas darah. Kemudian pemuda itu memapah Revan berjalan meninggalkan tempat itu.
~~~~1~~~~

0 Komentar:

Post a Comment