Thursday, June 14, 2012

~SuZeRain~ Prolog


~Prolog~
             Sejak zaman dulu, ada empat klan besar yang menanamkan kekuasaannya di tanah yang sama. Keempat klan itu memiliki caranya sendiri dalam memegang kekuasaan dan keempatnya terbagi dalam wilayahnya masing-masing. Daerah utara dikuasai klan Rainlord, daerah timur dikuasai klan Petervine, bagian selatan dikuasai klan Blackwill, dan yang ada di barat dikuasai klan Nightford. Wilayah masing-masing klan sebenarnya sangat luas, sehingga ada klan level dua yang kemudian menguasai beberapa wilayah bagian. Dalam masalah luas wilayah, klan Petervine-lah pemilik wilayah terluas dan menjadi klan terkuat sehingga terbitlah sebuah perjanjian yang menyatukan empat klan itu. Empat wilayah itu bersatu dibawah pimpinan salah satu klan tanpa menghapus hak dan kewajiban klan-klan lainnya, dengan membebankan urusan pertahanan keamanan wilayah dan diplomasi eksternal pada pemimpin utama. Sedangkan kewenangan pemerintah sebagian dilimpahkan pada klan-klan dibawahnya.
             Klan Petervine menjadi pemimpin bagi semua klan. Itu merupakan keputusan final yang dibuat dalam suatu perjanjian damai. Dalam perjanjian itu tertulis jelas bahwa klan yang terkuatlah yang akan memimpin. Maka dari itu, seluruh klan yang tidak lebih kuat dari Petervine tunduk patuh pada perjanjian yang ada. Semua berjalan lancar dan damai. Tapi, kedamaian itu kini mulai retak..      
    

             Pemuda berambut merah marun dengan mata senada duduk di bangku sebuah taman dengan menggenggam secarik kertas yang dikeluarkankannya dari saku jas putihnya. Pemuda yang baru saja lulus sarjana kedokteran itu bahkan belum sempat menjalankan studi praktiknya untuk lulus dan mendapatkan gelar sebagai ‘dokter’, tapi badai datang menerpanya dan menyeretnya kearah kehancuran impiannya. Bagaimana tidak? Ia adalah putra sulung dari salah satu klan besar—Nightford. Ia juga termasuk istimewa karena ia juga memiliki simpanan ilmu yang banyak didalam otaknya. Mata merahnya yang selalu menyorot tajam  itu memandangi kertas yang ada ditangannya itu sebelum kemudian membakarnya dengan korek api yang memang sengaja ia bawa.
             “Aku tidak peduli pada surat penangkapan macam ini,” gumam pemuda yang benama lemngkap Revan Rayne Nightford itu tak acuh. Dari sorot matanya, ia jelas menyimpan kegelisahan yang bercampir dengan kebencian. “Hanya orang pengecut yang bermain licik seperti ini.”
             Surat penangkapan itu memang ditujukan untuknya. Dikirim secara resmi, namun dengan sebuah tuduhan fitnah yang memuakkan bagi Revan. Apalagi jika mengingat siapa dalang kejadian ini, ia semakin muak karena orang itu adalah orang yang seharusnya tak punya urusan apa-apa dengannya. David Rainlord—adik dari Alfred Rainlord sang pemimpin klan yang terkenal akan kemampuannya dalam pertarungan bahkan melebihi klan Nightford. Ya, harus Revan akui semua itu benar, tapi ia tak berminat dengan permainan konyol dari orang yang begitu menyukai pertempuran seperti David. Apalagi jika ia melakukannya dengan cara menghancurkan masa depannya yang hamper ia raih sebagai hasil dari belajar belajar dan belajar selama ini. Benar-benar menyebalkan, begitu pikir Revan.
             Revan memandangi kertas yang terbakar itu hampa. Ia tak peduli pada tanggal atau apapun yang tertulis disitu. Menghadapi manusia yang seperti monster itu sangat menyebalkan baginya. Terlebih saat mengingat David sudah mencabut banyak nyawa dengan tangannya itu, membuat Revan mual dan ingin muntah dihadapan David.
             “Orang sepertimu hanya akan membuat dunia berantakan. Tapi, jika kau bilang itu demi menghancurkanku, apa nyawaku semahal itu? Hingga kau harus menyingkirkan yang lainnya terlebih dahulu dan baru kemudian menghancurkanku sebagai tindakan final? Kau benar-benar memuakkan..” umpatnya saat ia membayangkan sosok David. “Jika aku sekejam kau mungkin aku telah menggunting jantungmu dengan gunting bedah sebagai pembalasan dendam Daniel yang harus mati dibawah ambisi busukmu itu! Menghabisi putra mahkota klan Petervine hanyalah hiburan bagimu, ya.”
             Daniel Petervine. Revan masih tidak percaya bahwa sepupu sekaligus sahabatnya itu harus mati disaat usianya masih delapan belas tahun. Kenyataan yang paling tidak ingin ia terima adalah dengan kematian Daniel, ia kehilangan teman, saudara, dan juga harus menjadi kandidat pemimpin selanjutnya. Revan tidak terlalu berminat pada hal semacam itu, tapi kenyataan adalah kenyataan. Dan David-lah yang membuatnya harus menerima kenyataaan sial itu.
             “Tuan?” panggil seorang pemuda seraya menepuk pundak Revan. Rambut dan matanya berwarna ungu dan memiliki tattoo di leher sebelah kirinya. Namanya Ralph dan ia adalah pelayan setia Revan.
             “Ah,” gumam Revan yang tersadar dari lamunannya. Ia menatap pemuda manis itu dan tersenyum seraya berkata, “Ada apa? Kautahu aku tidak terlalu suka dipanggil begitu olehmu, ‘kan?”
             “Maaf. Tapi—“
             “Jika kau ingin bertanya apa yang mengganggu pikiranku, kau sudah tahu dimana kau bisa mendapat jawabannya, ‘kan? Jadi, tolong tinggalkan aku sendiri, Ralph..” potong Revan seraya kembali menatap abu kertas yang tadi dibakarnya. Ia mendengar langkah Ralph menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi.
             Waktu terus berjalan. Revan menikmati desir angin yang ada di sisa waktunya itu dan bernafas serileks mungkin hingga akhirnya suara yang paling tidak ingin didengar oleh Revan mendekat.
             “Kau tidak mengindahkan perintahku,” ujar seseorang yang sangat dibenci Revan—David. Rambut dan matanya berwarna keperakan, sehingga jika terkena sinar akan terlihat bercahaya. Sangat elegan, tapi menjijikkan bagi Revan sekarang.
             “Untuk apa aku mendengarkan kata-kata dari pembunuh tidak berperasaan?” tanya Revan seraya berdiri dan berbalik kearah suara itu berasal. “Aku tidak tahu kenapa kau memilih memfitnahku dan tidak langsung membunuhku, tapi yang jelas itu membuatku semakin tidak menyukaimu. Kau membuatku seolah menjadi pengkhianat, padahal itu kau sendiri pelakunya. Jangan membalik fakta semudah itu, David..”
             “Aku tidak butuh kata-katamu itu, bocah.. Aku hanya ingin benar-benar menghancurkanmu.”
             Tenggorokan Revan tercekat. Ia tidak tahu rencana kejam apa yang disiapkan iblis itu untuknya, tapi yang jelas ia harus siap untuk kemungkinan terburuknya, yaitu MATI MENGENASKAN.
             “Aku datang kemari dengan surat resmi. Mengkhianatinya sama dengan mengkhianati tanah ini.”
             “Apa maumu?” tanya Revan muak. Ia melepaskan jasnya dan meletakkannya di bangku. “Aku tidak akan mau kaubawa pergi.”
             “Benarkah? Padahal aku kemari untuk mengajakmu pergi ke neraka ciptaanku,” ujar David angkuh. “Jika kau tidak mau maka aku akan membawamu secara paksa! Kalian semua, pegangi dia!” perintah David pada beberapa aparat keamanan bawahannya.
             “Bius dia,” perintah David kemudian. Revan bisa merasakan pandanggannya makin gelap dan kesadarannya menjauh. Tubuh itu ambruk tak berdaya dihadapan David yang hanya tersenyum sinis seraya member komando untuk membawa Revan secepatnya.
             “Aku akan membuat permainan ini menarik, Revan..” gumam David penuh percaya diri.
*****
             Tubuh itu tergeletak tak berdaya dibalik jeruji besi. Rantai melingkari tangan dan kakinya bahkan meski ia belum sadar samasekali. Revan masih tertidur dibawah pengaruh obat bius dosis tinggi tadi, sehingga bahkan berjam-jam setelah kejadian itu ia tidak kuat membuka matanya.
             Tempat pengap itu hanya berbalut cahaya temaram dari lampu remang-remang yang jumlahnya sedikit sekali. Ada bekas darah-darah yang mengering di beberapa tempat, dan juga aroma dari keringat yang mengalir di detik-detik menjelang kematian. Semuanya menjadi bagian dari penjara ini. Tempat mengerikan yang jauh berbeda dari tempat Revan bernaung selama ini..
***
             “Vincent, jika ia bangun nanti kau harus menyiksanya untukku. Anggap saja seperti sebuah permainan..” bisik David tepat di telinga kiri keponakannya—Vincent. Ia memilin sisi kanan rambut Vincent yang agak panjang itu pelan agar Vincent merasa tidak nyaman dan cepat mengiyakan perintahnya. Ia berdiri dibelakang sofa tempat Vincent duduk, sehinggga Vincent harus menengadah untuk bicara dengan David.
             “Kenapa aku harus lakukan itu?” tanya Vincent tak acuh. Usianya baru delapan belas tahun, tapi pamannya dan juga ayahnya itu telah mengajarinya melakukan tindakan kejam. “Dan lagi, singkirkan tanganmu atau aku bahkan akan memukulmu lebih dulu.”
             “Itu pertanyaan tidak penting, Vincent. Aku hanya ingin kau bersenang-senang bersamanya..” jawab David pelan. “Jika kau memukulku, aku akan menghajarmu.” Tambahnya tanpa menghentikan aktifitasnya.
             “Apa yang harus kulakukan padanya?”
             “Cukup siksa dia dengan cara apapun sesukamu. Jangan sampai dia mati.”
             “Aku mengerti. Jadi, singkirkan tanganmu segera.”
             David hanya menyeringai tipis dan menyingkirkan tangannya seperti keinginan keponakannya itu.
*****
             “Ukh..” desah Revan saat ia merasa kepalanya pening. Kesadarannya kemabli, tapi kini ia tak bisa kembali ke rumahnya karena rantai-rantai itu membelitnya hingga ia sangat sulit bergerak. “Kenapa aku ada disini?”
             Vincent melangkah mendekat dengan wajah datar. Ia membawa sebilah pisau lipat yang disimpan di sakunya sedangkan tangan kirinya membawa seember air dan tangan kanannya membawa kunci. Tepat sebelum membuka kunci sel Revan, Vincent menyiram Revan dengan air yang ia bawa dan melempar embernya sesukanya.
             “Bersyukurlah aku menyiramkan air bersih. Anggap itu sebagai salamku untukmu, Revan Nightford,” ujar Vincent seraya membuka kunci. Ia kemudian masuk dan memandangi Revan sesaat.
             “Rambut perak.. Kau juga Rainlord, ya.. Apa maumu?” tanya Revan dingin. Ia tak peduli pada apapun yang akan terjadi setelah ini.
             Vincent hanya tersenyum tipis. Sebenarnya terbesit keraguan karena orang yang kini ada dihadapannya adalah kakak dari sahabatnya sendiri, Luna Nightford. Tapi, keraguan itu samasekali tidak muncul ke permukaan karena nafsunya untuk melukai orang lain jauh lebih kuat.
             “Walaupun diam-diam, kau berteman akrab dengan Luna, ‘kan? Jangan kira aku tidak tahu,” ujar Revan tegas hingga Vincent sempat terperanjat.
             “Kau tahu hal itu juga tidak masalah.”
             “Benarkah? Kau sedang bicara dengan Revan Nightford, bocah.. Hati-hati terhadap bicaramu,” ujar Revan seolah ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. “Aku bisa membaca keraguan hatimu.”
             Kalimat terakhir Revan seakan memecah nafsu murni yang selama ini ditanamkan pada Vincent. Semuanya seakan terbaca oleh Revan.
             “Aku bisa membacanya dengan jelas.”
             “Berisik!!” bentak Vincent kesal. Dengan kasar ia menendang pelipis kiri Revan dengan kaki kananny hingga kepala Revan terpaksa harus membentur jeruji besi. Darah belum mengalir, tapi Revan sudah merasa cukup kesakitan.
             “Kau sedang memungkirinya? Ternyata masih ada orang baik dalam lumpur bernama Rainlord, ya.. Ini menarik,” ujar Revan seraya menyorot tajam kearah Vincent.
             “Orang yang akan mati sebaiknya tidak terlalu banyak bicara,” ujar Vincent mencoba mengendalikan emosinya. Ia mengeluarkan pisaunya dan dengan tenang segera mendekat untuk menyayat pipi kiri Revan. “Aku akan membuatmu merintih agar kau berhenti bicara.”
             “Begitu, ya? Apa kau pernah merasakan kulitmu digunting dengan pisau bedah? Suatu saat kau harus merasakannya, hei anak manis..” ujar Revan menahan perih yang menjalarinya. Meski tangannya dirantai, ia masih bisa bergerak karena rantainya cukup panjang setidaknnya utnuk mencengkeram tangan Vincent. “Kira-kira apa reaksi Luna saat mengetahui hal ini, ha?”
             Tangan Vincent seperti akan diremukkan karena Revan mencengkram sangat kuat.  Bahkan ia sendiri tak bisa melepaskan diri dari cengkraman itu bahkan meski ia telah melukai tangan Revan. Kini secara tidak langsung posisinya terkunci. Setidaknya terkunci untuk mendegnar kata-kata Revan.
             “Apa maumu?” tanya Vincent menahan erangannya yang terlah ia tahan dalam mulutnya sendiri.
             “Aku ingin kau mendengarkanku dan pikirkan baik-baik tiap kata yang kuucapkan,” jawab Revan serius. Mata merahnya menyorot sangat tajam dan tak ada senyuman yang biasa ia tunjukkan. Wajah serius yang bisa membuat siapapun membeku dan diam.
             “Kau—“ Vincent membuang muka saat mata Renatapnya. Ia menjatuhkan pisaunya dan mencoba melepaskan cengkraman Revan, namun yang ada justru Revan yang mendapatkan kedua tangannya.
             “Sakit, ‘kan?” ujar Revan seraya mencengkram kedua tangan Vincent makin kuat. Kepalanya bersandar pada jeruji besi dan kedua kakinya tidak bisa bergerak sedikit banyak karena rantainya jauh lebih pendek. “Aku tidak tahu berapa nyawa yang telah kaurampas dengan kedua tanganmu ini, tapi aku bisa membaca seperti apa dirimu. Aku membaca dengan sangat jelas.”
             Vincent menendan Revan, namun Revan tetap mencengkramnya. Dengan tetap memasang wajah dingin, Vincent menggigit tangan Revan hingga berdarah.
             “Ukh.. Kau mau berlama-lama berurusan denganku? Akan kupenuhi,” ujar Revan menahan sakit tanpa sedikitpun merenggangkan cengramannya. Ia bangkit dan duduk menghadap Vincent sesaat sebelum membenturkan kepalanya sendiri ke wajah Vincent. Meski kesadarannya belum pulih total, ia mendorong Vincent sekuat tenaga hindda posisi mereka berubah. Dengan mulutnya, Revan mengambil pisau dari tangan Vincent dan balas merobek kulit pipi Vincent.
             “Jangan main-main!!” Vincent yang murka menendang Revan hingga batuk darah. Kemudian saat cengkraman itu terlepas, Vincent memukul dan menendangi Revan berkali-kali. “Aku tidak butuh nasihat!”
             Revan hanya tersenyum tipis. “Kenapa tidak kauakui bahwa kau tidak suka melukai?”
             “Berisik!” bentak Vincent yang berhasil membuat Revan ambruk total dan kemudian menginijak tangan Revan. “Kau tidak bisa menghancurkan prinsipku.”
             “Prinsip? Kau bahkan tidak berprinsip, nak.. Lakukan saja apapun padaku, tapi pertimbangkan kata-kataku ini baik-baik. Luna itu tidak bosoh, sehingga kita lihat saja nanti bagaimana jadinya kalau dia tahu,” ujar Revan disela rintihan pelannya.
             Vincent mengambil kembali pisaunya dan menyayat-nyayat lengan Revan hingga darah mulai mewarnai kemeja putih yang dikenakan Revan. “Sakit, ya?” tanya Vincent meledek.
             “Oh, ya tentu saja ini sangat menyakitkan. Tapi aku jadi tahu bahwa kau memang benar-benar tidak berbakat untuk menjadi jahat,” jawab Revan dengan tatapan mata mengejek.
             “Aku tidak diperintahkan untuk membunuhmu, jadi bersyukurlah.”
             “Oh jadi rupanya kau hanya bergerah dibawah perintah? Ckckckck, kau benar-benar anak kecil yang dimanfaatkan dengan mudah, rupanya..” ujar  Revan sinis. Sebenarnya ia sedang mengutuki bocah abu-abu yang sudah seenaknya menghajarnya itu, tapi demi kelancaran usahanya maka ia berusaha tetap tenang. Bahkan dibalik rasa sakit yang menghinggapi tubuhnya. Apalagi bajunya basah, sehingga tiap angin berhembus tubuhnya seperti membeku kedinginan. Ia tak terbiasa dengan kondisi seperti ini.
             Vincent merasa dirinya jadi begitu mudah tebaca oleh pemuda dihadapannya itu. Mendengar semua itu, tanpa sadar membuat Vincent berpikir juga. Saat otaknya sedang terbuka menerima informasi, itulah saat paling tepat bagi Revan intuk mendoktrinnya, meski resiko terburuknya adalah ia akan dibunuh saat itu juga.
             “Apa kau tidak kasihan pada dirimu sendiri yang hanya dijadikan bidak olehnya? Apa kau hidup tanpa tujuan? Apa kau tidak meiliki sesuatu yang ingin kauperjuangkan? Prinsip, misalnya..” ujar Revan sugestif. Ia tersenyum samar dibalik wajah seriusnya.
             “Jangan mempengaruhiku!!” Vincent menghunuskan pisaunya kearah jantung Revan. Nyaris saja Revan mendapatkan keberuntungan terburuknya jika tangannya kalah cepat menahan pisau itu walau konsekuensinya adalah tangannya terluka cukup dalam.
             “Aku hanya menyampaikan prinsipku,” jawab Revan tenang. Ia tidak peduli arahnya mengalir deras melumuri pisau itu. Kini ia merasa bahwa usahanya sedikit membuahkan hasil. “Apa kau merasa dipengaruhi?”
             Vincent merasa terdesak. Ia menatap Revan yang bermandi darah itu dengan tatapan kebencian. Kemudian ia menendang kepala Revan hingga tubuhnya terkapar dan kemudian menginjak kepala Revan sebelum akhirnya meninggalkannya. Mendapat perlakuan buruk seperti itu, Revan tetap tersenyum puas karena sepertinya Vincent mulai menjadi labil sesuai keinginannya.
             “Ternyata, kau lebih mengerikan dari dugaanku, Revan Nightford,” gumam Vincent seraya meninggalkan Revan yang sejak tadi sebenarnya ingin pingsan karena menahan sakit.
*******
             Ralph melangkah pelan memasuki kamar majikannya—Revan. Seperti biasa, ia menemukan buku tulis tergeletak diatas meja dan kemudian membacanya. Revan telah menceritakan semuanya dalam buku itu, lengkap dengan petunjuk apa yang harus Ralph lakukan.

             “Tuan Besar sudah tahu?” tanya Ralph pada Raymond—ayah Revan.
             “Ya. Tapi karena David membuatnya begitu rapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” jawab Raymond sedih. “Tapi aku punya rencana.”
************

             Hari berganti. Darah Revan telah mengering dengan sendirinya. Tubuhnya terasa tidak bertenaga samasekali. Kelihatannya ia harus berusaha merelakan dirinya mati di usia dua puluh lima jika keadaan ini terus berlanjut. Ia menghela nafas panjang saat ia tak berhasil melepas atau setidaknya merengganggkan belitan rantai itu.
             “Jadi ini maunya? Jika ia memang ingin berperang denganku, baiklah..” gumamnya untuk David. Kini ia hanya berbaring, atau tepatnya terkapar lemah. Ia membiarkan matanya terpejam dan nafasnya teratur lagi agar mungkin ia bisa berpikir jernih atau berdoa dengan baik untuk kematiannya.
*****
             “Kau tidak membunuhnya, ‘kan?” tanya David saat Vincent kembali dengan sedikit luka.
             “Ya.”
             “Bagus.”
             “Minggirlah, aku ingin istirahat. Kepalaku tiba-tiba sakit,” ujar Vincent seraya berjalan lurus mengabaikan David yang bersandar pada dinding.
             “Begitukah? Yang penting tugasmu selesai,” ujar David yang kemudian beranjak pergi.

             “Kau egois sekali, David Rainlord..” gumam Vincent seraya merebahkan diri ke ranjangnya dan mulai berpikir. “Sejak awal kelihatannya kau memang tidak ada niat lain selain memanfaatkanku.”
*****

0 Komentar:

Post a Comment