~Prolog~
Sejak
zaman dulu, ada empat klan besar yang menanamkan kekuasaannya di tanah yang
sama. Keempat klan itu memiliki caranya sendiri dalam memegang kekuasaan dan
keempatnya terbagi dalam wilayahnya masing-masing. Daerah utara dikuasai klan
Rainlord, daerah timur dikuasai klan Petervine, bagian selatan dikuasai klan
Blackwill, dan yang ada di barat dikuasai klan Nightford. Wilayah masing-masing
klan sebenarnya sangat luas, sehingga ada klan level dua yang kemudian
menguasai beberapa wilayah bagian. Dalam masalah luas wilayah, klan
Petervine-lah pemilik wilayah terluas dan menjadi klan terkuat sehingga
terbitlah sebuah perjanjian yang menyatukan empat klan itu. Empat wilayah itu
bersatu dibawah pimpinan salah satu klan tanpa menghapus hak dan kewajiban
klan-klan lainnya, dengan membebankan urusan pertahanan keamanan wilayah dan
diplomasi eksternal pada pemimpin utama. Sedangkan kewenangan pemerintah
sebagian dilimpahkan pada klan-klan dibawahnya.
Klan
Petervine menjadi pemimpin bagi semua klan. Itu merupakan keputusan final yang
dibuat dalam suatu perjanjian damai. Dalam perjanjian itu tertulis jelas bahwa
klan yang terkuatlah yang akan memimpin. Maka dari itu, seluruh klan yang tidak
lebih kuat dari Petervine tunduk patuh pada perjanjian yang ada. Semua berjalan
lancar dan damai. Tapi, kedamaian itu kini mulai retak..
Pemuda
berambut merah marun dengan mata senada duduk di bangku sebuah taman dengan
menggenggam secarik kertas yang dikeluarkankannya dari saku jas putihnya.
Pemuda yang baru saja lulus sarjana kedokteran itu bahkan belum sempat
menjalankan studi praktiknya untuk lulus dan mendapatkan gelar sebagai
‘dokter’, tapi badai datang menerpanya dan menyeretnya kearah kehancuran
impiannya. Bagaimana tidak? Ia adalah putra sulung dari salah satu klan besar—Nightford.
Ia juga termasuk istimewa karena ia juga memiliki simpanan ilmu yang banyak
didalam otaknya. Mata merahnya yang selalu menyorot tajam itu memandangi kertas yang ada ditangannya
itu sebelum kemudian membakarnya dengan korek api yang memang sengaja ia bawa.
“Aku
tidak peduli pada surat penangkapan macam ini,” gumam pemuda yang benama
lemngkap Revan Rayne Nightford itu tak acuh. Dari sorot matanya, ia jelas
menyimpan kegelisahan yang bercampir dengan kebencian. “Hanya orang pengecut
yang bermain licik seperti ini.”
Surat
penangkapan itu memang ditujukan untuknya. Dikirim secara resmi, namun dengan
sebuah tuduhan fitnah yang memuakkan bagi Revan. Apalagi jika mengingat siapa
dalang kejadian ini, ia semakin muak karena orang itu adalah orang yang
seharusnya tak punya urusan apa-apa dengannya. David Rainlord—adik dari Alfred
Rainlord sang pemimpin klan yang terkenal akan kemampuannya dalam pertarungan
bahkan melebihi klan Nightford. Ya, harus Revan akui semua itu benar, tapi ia
tak berminat dengan permainan konyol dari orang yang begitu menyukai
pertempuran seperti David. Apalagi jika ia melakukannya dengan cara
menghancurkan masa depannya yang hamper ia raih sebagai hasil dari belajar
belajar dan belajar selama ini. Benar-benar menyebalkan, begitu pikir Revan.
Revan
memandangi kertas yang terbakar itu hampa. Ia tak peduli pada tanggal atau
apapun yang tertulis disitu. Menghadapi manusia yang seperti monster itu sangat
menyebalkan baginya. Terlebih saat mengingat David sudah mencabut banyak nyawa
dengan tangannya itu, membuat Revan mual dan ingin muntah dihadapan David.
“Orang
sepertimu hanya akan membuat dunia berantakan. Tapi, jika kau bilang itu demi
menghancurkanku, apa nyawaku semahal itu? Hingga kau harus menyingkirkan yang
lainnya terlebih dahulu dan baru kemudian menghancurkanku sebagai tindakan
final? Kau benar-benar memuakkan..” umpatnya saat ia membayangkan sosok David.
“Jika aku sekejam kau mungkin aku telah menggunting jantungmu dengan gunting
bedah sebagai pembalasan dendam Daniel yang harus mati dibawah ambisi busukmu
itu! Menghabisi putra mahkota klan Petervine hanyalah hiburan bagimu, ya.”
Daniel
Petervine. Revan masih tidak percaya bahwa sepupu sekaligus sahabatnya itu
harus mati disaat usianya masih delapan belas tahun. Kenyataan yang paling
tidak ingin ia terima adalah dengan kematian Daniel, ia kehilangan teman,
saudara, dan juga harus menjadi kandidat pemimpin selanjutnya. Revan tidak
terlalu berminat pada hal semacam itu, tapi kenyataan adalah kenyataan. Dan
David-lah yang membuatnya harus menerima kenyataaan sial itu.
“Tuan?”
panggil seorang pemuda seraya menepuk pundak Revan. Rambut dan matanya berwarna
ungu dan memiliki tattoo di leher sebelah kirinya. Namanya Ralph dan ia adalah
pelayan setia Revan.
“Ah,”
gumam Revan yang tersadar dari lamunannya. Ia menatap pemuda manis itu dan
tersenyum seraya berkata, “Ada apa? Kautahu aku tidak terlalu suka dipanggil
begitu olehmu, ‘kan?”
“Maaf.
Tapi—“
“Jika
kau ingin bertanya apa yang mengganggu pikiranku, kau sudah tahu dimana kau
bisa mendapat jawabannya, ‘kan? Jadi, tolong tinggalkan aku sendiri, Ralph..”
potong Revan seraya kembali menatap abu kertas yang tadi dibakarnya. Ia
mendengar langkah Ralph menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi.
Waktu
terus berjalan. Revan menikmati desir angin yang ada di sisa waktunya itu dan
bernafas serileks mungkin hingga akhirnya suara yang paling tidak ingin
didengar oleh Revan mendekat.
“Kau
tidak mengindahkan perintahku,” ujar seseorang yang sangat dibenci Revan—David.
Rambut dan matanya berwarna keperakan, sehingga jika terkena sinar akan
terlihat bercahaya. Sangat elegan, tapi menjijikkan bagi Revan sekarang.
“Untuk
apa aku mendengarkan kata-kata dari pembunuh tidak berperasaan?” tanya Revan
seraya berdiri dan berbalik kearah suara itu berasal. “Aku tidak tahu kenapa
kau memilih memfitnahku dan tidak langsung membunuhku, tapi yang jelas itu membuatku
semakin tidak menyukaimu. Kau membuatku seolah menjadi pengkhianat, padahal itu
kau sendiri pelakunya. Jangan membalik fakta semudah itu, David..”
“Aku
tidak butuh kata-katamu itu, bocah.. Aku hanya ingin benar-benar
menghancurkanmu.”
Tenggorokan
Revan tercekat. Ia tidak tahu rencana kejam apa yang disiapkan iblis itu
untuknya, tapi yang jelas ia harus siap untuk kemungkinan terburuknya, yaitu
MATI MENGENASKAN.
“Aku
datang kemari dengan surat resmi. Mengkhianatinya sama dengan mengkhianati
tanah ini.”
“Apa
maumu?” tanya Revan muak. Ia melepaskan jasnya dan meletakkannya di bangku.
“Aku tidak akan mau kaubawa pergi.”
“Benarkah?
Padahal aku kemari untuk mengajakmu pergi ke neraka ciptaanku,” ujar David
angkuh. “Jika kau tidak mau maka aku akan membawamu secara paksa! Kalian semua,
pegangi dia!” perintah David pada beberapa aparat keamanan bawahannya.
“Bius
dia,” perintah David kemudian. Revan bisa merasakan pandanggannya makin gelap
dan kesadarannya menjauh. Tubuh itu ambruk tak berdaya dihadapan David yang
hanya tersenyum sinis seraya member komando untuk membawa Revan secepatnya.
“Aku
akan membuat permainan ini menarik, Revan..” gumam David penuh percaya diri.
*****
Tubuh
itu tergeletak tak berdaya dibalik jeruji besi. Rantai melingkari tangan dan
kakinya bahkan meski ia belum sadar samasekali. Revan masih tertidur dibawah
pengaruh obat bius dosis tinggi tadi, sehingga bahkan berjam-jam setelah
kejadian itu ia tidak kuat membuka matanya.
Tempat
pengap itu hanya berbalut cahaya temaram dari lampu remang-remang yang
jumlahnya sedikit sekali. Ada bekas darah-darah yang mengering di beberapa
tempat, dan juga aroma dari keringat yang mengalir di detik-detik menjelang
kematian. Semuanya menjadi bagian dari penjara ini. Tempat mengerikan yang jauh
berbeda dari tempat Revan bernaung selama ini..
***
“Vincent,
jika ia bangun nanti kau harus menyiksanya untukku. Anggap saja seperti sebuah
permainan..” bisik David tepat di telinga kiri keponakannya—Vincent. Ia memilin
sisi kanan rambut Vincent yang agak panjang itu pelan agar Vincent merasa tidak
nyaman dan cepat mengiyakan perintahnya. Ia berdiri dibelakang sofa tempat
Vincent duduk, sehinggga Vincent harus menengadah untuk bicara dengan David.
“Kenapa
aku harus lakukan itu?” tanya Vincent tak acuh. Usianya baru delapan belas
tahun, tapi pamannya dan juga ayahnya itu telah mengajarinya melakukan tindakan
kejam. “Dan lagi, singkirkan tanganmu atau aku bahkan akan memukulmu lebih
dulu.”
“Itu
pertanyaan tidak penting, Vincent. Aku hanya ingin kau bersenang-senang
bersamanya..” jawab David pelan. “Jika kau memukulku, aku akan menghajarmu.”
Tambahnya tanpa menghentikan aktifitasnya.
“Apa
yang harus kulakukan padanya?”
“Cukup
siksa dia dengan cara apapun sesukamu. Jangan sampai dia mati.”
“Aku
mengerti. Jadi, singkirkan tanganmu segera.”
David
hanya menyeringai tipis dan menyingkirkan tangannya seperti keinginan
keponakannya itu.
*****
“Ukh..”
desah Revan saat ia merasa kepalanya pening. Kesadarannya kemabli, tapi kini ia
tak bisa kembali ke rumahnya karena rantai-rantai itu membelitnya hingga ia
sangat sulit bergerak. “Kenapa aku ada disini?”
Vincent
melangkah mendekat dengan wajah datar. Ia membawa sebilah pisau lipat yang
disimpan di sakunya sedangkan tangan kirinya membawa seember air dan tangan kanannya
membawa kunci. Tepat sebelum membuka kunci sel Revan, Vincent menyiram Revan
dengan air yang ia bawa dan melempar embernya sesukanya.
“Bersyukurlah
aku menyiramkan air bersih. Anggap itu sebagai salamku untukmu, Revan
Nightford,” ujar Vincent seraya membuka kunci. Ia kemudian masuk dan memandangi
Revan sesaat.
“Rambut
perak.. Kau juga Rainlord, ya.. Apa maumu?” tanya Revan dingin. Ia tak peduli
pada apapun yang akan terjadi setelah ini.
Vincent
hanya tersenyum tipis. Sebenarnya terbesit keraguan karena orang yang kini ada
dihadapannya adalah kakak dari sahabatnya sendiri, Luna Nightford. Tapi,
keraguan itu samasekali tidak muncul ke permukaan karena nafsunya untuk melukai
orang lain jauh lebih kuat.
“Walaupun
diam-diam, kau berteman akrab dengan Luna, ‘kan? Jangan kira aku tidak tahu,”
ujar Revan tegas hingga Vincent sempat terperanjat.
“Kau
tahu hal itu juga tidak masalah.”
“Benarkah?
Kau sedang bicara dengan Revan Nightford, bocah.. Hati-hati terhadap bicaramu,”
ujar Revan seolah ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. “Aku bisa membaca
keraguan hatimu.”
Kalimat
terakhir Revan seakan memecah nafsu murni yang selama ini ditanamkan pada
Vincent. Semuanya seakan terbaca oleh Revan.
“Aku
bisa membacanya dengan jelas.”
“Berisik!!”
bentak Vincent kesal. Dengan kasar ia menendang pelipis kiri Revan dengan kaki
kananny hingga kepala Revan terpaksa harus membentur jeruji besi. Darah belum
mengalir, tapi Revan sudah merasa cukup kesakitan.
“Kau
sedang memungkirinya? Ternyata masih ada orang baik dalam lumpur bernama
Rainlord, ya.. Ini menarik,” ujar Revan seraya menyorot tajam kearah Vincent.
“Orang
yang akan mati sebaiknya tidak terlalu banyak bicara,” ujar Vincent mencoba
mengendalikan emosinya. Ia mengeluarkan pisaunya dan dengan tenang segera mendekat
untuk menyayat pipi kiri Revan. “Aku akan membuatmu merintih agar kau berhenti
bicara.”
“Begitu,
ya? Apa kau pernah merasakan kulitmu digunting dengan pisau bedah? Suatu saat
kau harus merasakannya, hei anak manis..” ujar Revan menahan perih yang
menjalarinya. Meski tangannya dirantai, ia masih bisa bergerak karena rantainya
cukup panjang setidaknnya utnuk mencengkeram tangan Vincent. “Kira-kira apa
reaksi Luna saat mengetahui hal ini, ha?”
Tangan
Vincent seperti akan diremukkan karena Revan mencengkram sangat kuat. Bahkan ia sendiri tak bisa melepaskan diri
dari cengkraman itu bahkan meski ia telah melukai tangan Revan. Kini secara
tidak langsung posisinya terkunci. Setidaknya terkunci untuk mendegnar
kata-kata Revan.
“Apa
maumu?” tanya Vincent menahan erangannya yang terlah ia tahan dalam mulutnya
sendiri.
“Aku
ingin kau mendengarkanku dan pikirkan baik-baik tiap kata yang kuucapkan,”
jawab Revan serius. Mata merahnya menyorot sangat tajam dan tak ada senyuman
yang biasa ia tunjukkan. Wajah serius yang bisa membuat siapapun membeku dan
diam.
“Kau—“
Vincent membuang muka saat mata Renatapnya. Ia menjatuhkan pisaunya dan mencoba
melepaskan cengkraman Revan, namun yang ada justru Revan yang mendapatkan kedua
tangannya.
“Sakit,
‘kan?” ujar Revan seraya mencengkram kedua tangan Vincent makin kuat. Kepalanya
bersandar pada jeruji besi dan kedua kakinya tidak bisa bergerak sedikit banyak
karena rantainya jauh lebih pendek. “Aku tidak tahu berapa nyawa yang telah
kaurampas dengan kedua tanganmu ini, tapi aku bisa membaca seperti apa dirimu.
Aku membaca dengan sangat jelas.”
Vincent
menendan Revan, namun Revan tetap mencengkramnya. Dengan tetap memasang wajah
dingin, Vincent menggigit tangan Revan hingga berdarah.
“Ukh..
Kau mau berlama-lama berurusan denganku? Akan kupenuhi,” ujar Revan menahan
sakit tanpa sedikitpun merenggangkan cengramannya. Ia bangkit dan duduk
menghadap Vincent sesaat sebelum membenturkan kepalanya sendiri ke wajah
Vincent. Meski kesadarannya belum pulih total, ia mendorong Vincent sekuat
tenaga hindda posisi mereka berubah. Dengan mulutnya, Revan mengambil pisau
dari tangan Vincent dan balas merobek kulit pipi Vincent.
“Jangan
main-main!!” Vincent yang murka menendang Revan hingga batuk darah. Kemudian
saat cengkraman itu terlepas, Vincent memukul dan menendangi Revan
berkali-kali. “Aku tidak butuh nasihat!”
Revan
hanya tersenyum tipis. “Kenapa tidak kauakui bahwa kau tidak suka melukai?”
“Berisik!”
bentak Vincent yang berhasil membuat Revan ambruk total dan kemudian menginijak
tangan Revan. “Kau tidak bisa menghancurkan prinsipku.”
“Prinsip?
Kau bahkan tidak berprinsip, nak.. Lakukan saja apapun padaku, tapi
pertimbangkan kata-kataku ini baik-baik. Luna itu tidak bosoh, sehingga kita
lihat saja nanti bagaimana jadinya kalau dia tahu,” ujar Revan disela rintihan
pelannya.
Vincent
mengambil kembali pisaunya dan menyayat-nyayat lengan Revan hingga darah mulai
mewarnai kemeja putih yang dikenakan Revan. “Sakit, ya?” tanya Vincent meledek.
“Oh,
ya tentu saja ini sangat menyakitkan. Tapi aku jadi tahu bahwa kau memang
benar-benar tidak berbakat untuk menjadi jahat,” jawab Revan dengan tatapan
mata mengejek.
“Aku
tidak diperintahkan untuk membunuhmu, jadi bersyukurlah.”
“Oh
jadi rupanya kau hanya bergerah dibawah perintah? Ckckckck, kau benar-benar
anak kecil yang dimanfaatkan dengan mudah, rupanya..” ujar Revan sinis. Sebenarnya ia sedang mengutuki
bocah abu-abu yang sudah seenaknya menghajarnya itu, tapi demi kelancaran
usahanya maka ia berusaha tetap tenang. Bahkan dibalik rasa sakit yang
menghinggapi tubuhnya. Apalagi bajunya basah, sehingga tiap angin berhembus
tubuhnya seperti membeku kedinginan. Ia tak terbiasa dengan kondisi seperti
ini.
Vincent
merasa dirinya jadi begitu mudah tebaca oleh pemuda dihadapannya itu. Mendengar
semua itu, tanpa sadar membuat Vincent berpikir juga. Saat otaknya sedang
terbuka menerima informasi, itulah saat paling tepat bagi Revan intuk
mendoktrinnya, meski resiko terburuknya adalah ia akan dibunuh saat itu juga.
“Apa
kau tidak kasihan pada dirimu sendiri yang hanya dijadikan bidak olehnya? Apa
kau hidup tanpa tujuan? Apa kau tidak meiliki sesuatu yang ingin
kauperjuangkan? Prinsip, misalnya..” ujar Revan sugestif. Ia tersenyum samar
dibalik wajah seriusnya.
“Jangan
mempengaruhiku!!” Vincent menghunuskan pisaunya kearah jantung Revan. Nyaris
saja Revan mendapatkan keberuntungan terburuknya jika tangannya kalah cepat
menahan pisau itu walau konsekuensinya adalah tangannya terluka cukup dalam.
“Aku
hanya menyampaikan prinsipku,” jawab Revan tenang. Ia tidak peduli arahnya
mengalir deras melumuri pisau itu. Kini ia merasa bahwa usahanya sedikit
membuahkan hasil. “Apa kau merasa dipengaruhi?”
Vincent
merasa terdesak. Ia menatap Revan yang bermandi darah itu dengan tatapan
kebencian. Kemudian ia menendang kepala Revan hingga tubuhnya terkapar dan
kemudian menginjak kepala Revan sebelum akhirnya meninggalkannya. Mendapat
perlakuan buruk seperti itu, Revan tetap tersenyum puas karena sepertinya
Vincent mulai menjadi labil sesuai keinginannya.
“Ternyata,
kau lebih mengerikan dari dugaanku, Revan Nightford,” gumam Vincent seraya
meninggalkan Revan yang sejak tadi sebenarnya ingin pingsan karena menahan
sakit.
*******
Ralph
melangkah pelan memasuki kamar majikannya—Revan. Seperti biasa, ia menemukan
buku tulis tergeletak diatas meja dan kemudian membacanya. Revan telah
menceritakan semuanya dalam buku itu, lengkap dengan petunjuk apa yang harus
Ralph lakukan.
“Tuan
Besar sudah tahu?” tanya Ralph pada Raymond—ayah Revan.
“Ya.
Tapi karena David membuatnya begitu rapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa,”
jawab Raymond sedih. “Tapi aku punya rencana.”
************
Hari
berganti. Darah Revan telah mengering dengan sendirinya. Tubuhnya terasa tidak
bertenaga samasekali. Kelihatannya ia harus berusaha merelakan dirinya mati di
usia dua puluh lima jika keadaan ini terus berlanjut. Ia menghela nafas panjang
saat ia tak berhasil melepas atau setidaknya merengganggkan belitan rantai itu.
“Jadi
ini maunya? Jika ia memang ingin berperang denganku, baiklah..” gumamnya untuk
David. Kini ia hanya berbaring, atau tepatnya terkapar lemah. Ia membiarkan
matanya terpejam dan nafasnya teratur lagi agar mungkin ia bisa berpikir jernih
atau berdoa dengan baik untuk kematiannya.
*****
“Kau
tidak membunuhnya, ‘kan?” tanya David saat Vincent kembali dengan sedikit luka.
“Ya.”
“Bagus.”
“Minggirlah,
aku ingin istirahat. Kepalaku tiba-tiba sakit,” ujar Vincent seraya berjalan
lurus mengabaikan David yang bersandar pada dinding.
“Begitukah?
Yang penting tugasmu selesai,” ujar David yang kemudian beranjak pergi.
“Kau
egois sekali, David Rainlord..” gumam Vincent seraya merebahkan diri ke
ranjangnya dan mulai berpikir. “Sejak awal kelihatannya kau memang tidak ada
niat lain selain memanfaatkanku.”
*****



0 Komentar:
Post a Comment