Monday, August 20, 2012

SuZeRain Chapter 9


Chapter 9
             Revan termenung di tepi kolam renang belakang rumahnya. Mulai hari ini, sejak ia dinyatakan tak bersalah oleh David, ia kembali ke rumah keluarganya. Meski sebenarnya ia curiga mengapa David melakukan ini, tapi ia berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Apalagi, kini perebutan kekuasaan antara ia dan David sudah menjadi masalah nasional yang artinya ini akan menjadi perang internal yang besar dan beresiko.
             Tiba-tiba, tiap kali Revan mengingat David dan segala perbuatan jahatnya, bayangan Daniel selalu datang. Sepupunya yang sangat dekat dengannya itu mati di tangan busuk David, dalam skenario iblisnya itu. Revan sendiri sebenarnya sanggup bertahan karena teringat dendam Daniel yang menurutnya harus dibalaskan.
             “Kakak..” panggil Luna—adiknya.  Luna kemudian memeluk Revan dari belakang dengan tangan lembutnya. “Apa kakak baik-baik saja?”
             “Ah, iya aku baik-baik saja. Ada apa? Darimana saja kau?” balas Revan seraya tersenyum.
             “Aku pergi bersama Vincent.”
             Tiba-tiba wajah Revan murung mendengar nama ‘Vincent’ disebut. “Kemana?”
             “Makam ibunya.”
             “Oh,” ujar Revan datar. “Kau sebaiknya jangan dekat-dekat dengannya, Luna..”
             “Kenapa, kak?” tanya Luna tak mengerti.
             “Dia ada hubungannya dengan Rainlord, keluarga yang telah membantai klan Blackwill dan Petervine..”
             “Tapi—“
             “Kusarankan, kau jangan membantah..”
             “Baiklah, kak..”
             “Sekarang pergilah dan ganti bajumu. Ayah akan marah jika tahu kau pergi bersama dia.”
             Luna mendesah pelan dan berlari pergi meninggalkan kakaknya yang masih merenung di tepi kolam.
             Sementara itu, Ralph yang tak sengaja melihat Revan melamun dari jendela, berjalan mendekat. Ia tahu, Revan tak suka digangggu saat sendang memikirkan sesuatu. Tapi, ia ingin mendekat dan setidaknya mendengar apa yang ingin Revan ceritakan.
             “Tuan?” panggil Ralph pelan. Revan menoleh.
             “Ada apa??”
             Ralph menggeleng pelan. “Tidak ada. Aku hanya—“
             “Aku terbayang-bayang Daniel..” terang Revan memotong kalimat Ralph.
             “Eh?”
             “Aku merindukannya.. Sangat.”
             “Tapi itu—”
             “Mustahil. Ya, aku tahu itu mustahil. Tapi, rasanya aku ingin sekali mengingat dan mengulang masa lalu.. Saat aku masih bisa berada bersamanya,” gumam Revan.
             Angin semilir menyapu rambut Revan dan Ralph perlahan sehingga tanpa sadar satu memori kembali berputar..
—FLASHBACK—
             “Hentikaan!! Geli!! Jauhkan tanganmu dariku!” pekik Ralph seraya meronta-ronta sekuatnya.
             “Semakin kau memekik, aku akan semakin senang,” ujar pemuda yang sejak tadi memeluk dan menggelitik pinggang Ralph. Rambutnya berwarna coklat keemasan, berkilau indah saat diterpa cahaya. Matanya yang berwarna senada juga memancarkan karisma dibalik tajamnya sorot mata itu.
             “Aaah, aku mohon hentikaaan!” pinta Ralph memelas. Rambut ungunya yang panjang sebahu dan diikat ekor kuda sudah lepas terjuntai saat ia meronta tadi.
             “Aku tidak mau. Kau ini milik Revan, dan apa yang dimiliki olehnya juga boleh aku pakai,” elak pemuda itu masih tetap memeluk Ralph dari belakang.
             “Daniel~ Aku mohon..” pinta Ralph sekali lagi. Energinya benar-benar terkuras habis karena pemuda itu. Kalau saja pemuda itu bukan Daniel, sepupu sekaligus teman baik Revan—tuannya maka pasti ia sudah menampar wajah tampan Daniel sejak tadi. Tapi, karena semua alasan itu, Ralph tidak berani banyak membantah. Ia takut jika Revan murka padanya.
             “Aku tidak mau. Kecuali kau merajuk padaku dengan manja dan memelas,” jawab Daniel seraya tersenyum penuh kemenangan. Saat tersenyum seperti itu, Daniel tampak mirip dengan Revan dan sebenarnya Ralph agak terganggu dengan kemiripan mereka berdua.
             “Itu tidak adil..” ujar Ralph pelan karena energinya benar-benar habis. Ia merasa sangat lemas, bahkan mungkin tidak kuat berdiri.
             “Ya, terserah padamu saja..” balas Daniel seraya menggelitiki Ralph lagi. “Aku hanya mencoba memberimu pilihan.”
             “Aaaaahkhh!! Hentikaan!! Baiklah, baiklah... Aku menyerah,” ujar Ralph akhirnya. Bahkan tangannya tidak sanggup untuk menyingkirkan tangan Daniel yang melingkari pinggangnya.
             “Oh, cepat sekali menyerah ya.. Kau dan Revan sama-sama mudah menyerah jika kusentuh.”
             “Bagaimana tidak menyerah? Tangan setanmu itu benar-benar menyiksa, tahu!” teriak Ralph dalam hati. Matanya menatap Daniel penuh kekesalan.
             “Ayo, sebelum Revan kembali dari sekolah..” bisik Daniel tepat di telinga Ralph hingga membuatnya bergidik geli. “Atau nanti aku akan katakan pada Revan kalau kau tidak menurut..” ancam Daniel licik.
             “Curang!” protes Ralph. Tapi, menyadari posisinya saat ini ia memutuskan menyerah.
             “Tapi aku tidak securang Revan, kan? Jadi, cepat lakukan.”
             Ralph menghela nafas panjang. Kemudian, ia berbalik menghadap Daniel yang sejak tadi memangkunya diatas ranjang. Setelah itu, Ralph melingkarkan kedua tangannya ke leher Daniel seraya berkata, “Tuan, maukah kau melepaskanku?” dengan nada yang sangat memelas dan tatapan yang benar-benar merajuk.
             Daniel tersenyum puas. “Apa yang akan terjadi jika Revan tahu kau mau kusuruh melakukan ini, ya..”
             “Jangan ceritakan apapun padanya!!” teriak Ralph yang memerah malu.
             “Kau jadi salah tingkah jika sedang malu seperti ini, ya.. Lucu sekali. Benar begitu kan, Revan?”
             “Ya ya ya ya ya.. Sampai kapan kau mau mempermainkannya, Daniel?” ujar Revan yang entah sejak kapan sudah ada di ambang pintu.
             “Tuaaan~” panggil Ralph penuh harap agar Revan segera menyuruh Daniel pergi.
             “Apa yang sudah kaulakukan padanya, hah? Dia jadi kelihatan sangat lelah seperti ini...” gumam Revan setelah mendekat dan memperhatikan Ralph.
             “Sebenarnya kau tidak perlu jawabanku, ‘kan? Apa saja yang terjadi di sekolah hingga kau pulang terlambat?” tanya Daniel mengabaikan Ralph yang putus asa.
             “Ah, aku tertidur di taman sekolah tadi. Ketika aku sadar, hari sudah hampir malam,” jawab Revan seraya memberi kode agar Ralph duduk didekatnya diantara dirinya dan Daniel.
             “Hm, kelihatannya menyenangkan jika aku bisa melakukan hal yang sama. Tapi, hari ini sangat membosankan bagiku..” keluh Daniel iri.
             “Tapi bukan berarti kau boleh mempermainkanku seperti tadi—aww!” Ralph terpaksa diam setelah Revan mencubit pipinya agar ia diam.
             “Aku mengerti perasaanmu. Karenanya sejak tadi aku membiarkanmu bermain dengannya,” ujar Revan santai mengabaikan tatapan marah dari Ralph.
             “Revan, kenapa bukan kau saja yang jadi raja?” tiba-tiba Daniel mengubah arah pembicaraan.
             “Karena bukan aku yang berhak menjadi raja. Lagipula, aku tidak merasa sanggup..” jawab Revan. “Aku yakin kau sanggup. Berjuanglah, Niel..”
             Sesaat, suasana menjad hening.  Daniel kemudian beranjak berdiri dan pergi.
             “Kau selalu berusaha meyakinkanku, Revan.. Aku akan membunuhmu jika yang kaukatakan adalah bohong,” canda Daniel seraya tertawa sebelum menghilang dibalik pintu.
             “Kita lihat saja,” balas Revan diiringi seringaian khasnya.
             Kemudian, setelah Daniel pergi, Revan menoleh pada Ralph yang kusut. “Hei, apa yang dia lakukan padamu? Apa dia berbuat yang macam-macam?” tanyanya seraya memperhatikan tiap jengkal penampilan Ralph.
             Ralph hanya menggeleng lemah.
             “Lalu, kenapa kau kusut sekali?” tanya Revan heran.
             “Dia terus saja menggellitikiku dan juga mempermainkanku sesukanya,” terang Ralph.
             “Hanya itu?” Revan tidak percaya.
             Ralph mengangguk. “Meski terdengar biasa, tapi tadi itu mengerikan.. Tuan harus percaya padaku, aku tidak bohong.”
             “Aku percaya,” jawab Revan tenang. Ia tersenyum menahan tawa saat melihat Ralph menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kau pasti sangat lelah, ya.. Maaf aku tidak secepatnya pulang.”
             Ralph hanya mengangguk. Sebenarnya ia ingin beranjak, namun ia sangat lemas sekarang.
             “Ah? Kenapa? Tanya Ralph tidak mengerti saat Revan membaringkannya paksa. “Aku bisa kembali ke kamarku dan tidur disana..”
             “Bodoh. Kalau kau tidur di kamarmu sekarang, Daniel bisa saja kembali dan menjahilimu lagi.. Dia dulu sering melakukn hal itu padaku jika aku tidak mau bermain dengannya..” ujar Revan. “Jadi tidurlah disini.”
             “Tapi—“
             “Sudahlah.. Aku sedang tidak ingin dibantah siapapun. Apalagi olehmu. Atau aku harus berkata jika aku ingin tidur bersamamu sekarang baru kau mau diam?” Revan merebahkan tubuhnya disamping Ralph. “Aku sebenarnya tadi tidak tidur di taman. Aku tidak berani berkata pada Daniel bahwa aku masuk jalur akselerasi, sama sepertinya.”
             Ralph bangkit dan duduk menghadap Revan yang tetap berbaring. “Kenapa?”
             “Nanti dia akan berpikir bahwa aku juga layak menjadi raja. Aku tidak mau itu terjadi.”
             “Begitu, ya.. Aku tidak sepenuhnya mengerti,” gumam Ralph.
             “Nanti kau juga mengerti..” ujar Revan. “Sekarang, bukakan kancing baju seragamku. Aku sedang tidak ingin melakukannya sendiri.”
             “Itu bukan cara meminta tolong,” gerutu Ralph seraya mulai membuka satu demi satu kancing kemeja putih Revan.
             “Tapi itu cara memerintah, “ elak Revan yang sudah memejamkan mata. “Cepat tidur.”
             “Baik,” jawab Ralph patuh. Ia segera merebahkan tubuhnya ke ranjang empuk itu. Tak lama kdemudian, ia sudah terlelap dalam alam mimpinya. Ralph tidak menyadari bahwa Revan mengecup keningnya saat ia tidur.
             Setelah itu Revan beranjak pergi meninggalkan Ralph yang masih terlelap karena harus menghadiri rapat di sekolah. Segera dilepasnya kemeja putihnya itu dan menggantinya dengan seragam berwarna abu-abu yang biasa dipakai saat kelas malam. Kemudian, Revan melesat pergi. Hari ini keluarganya belum kembali dari luar negeri, sedangkan Daniel sudah pulang ke rumahnya sejak tadi sehingga Revan terpaksa menghubungi Daniel agar kembali untuk menemani Ralph.
             “Ayolah Daniel.. Hari ini aku pulang larut malam.. Kau bisa kan melakukannya untukku?”
--FLASHBACK END—
             Revan tersenyum tipis saat mengingat salah satu kejadian masa lalu itu. Ralph hanya menatap sambil bertanya-tanya dalam hati.
             “Kenapa ya, jika aku ingat Daniel.. Kau juga selalu teringat dalam benakku?” tanya Revan menahan tawa yang ingin meledak karena teringat saat Ralph dipermainkan Daniel sedemikian rupa.
             “Eh?”
             “Aku tiba-tiba ingat saat kau kelelahan setelah Daniel menggelitikmu.”
             “A-apa?!” Ralph tiba-tiba memerah karena malu. “Itu—“
             “Kemudian aku pergi meninggalkanmu hingga larut malam untuk pertama kalinya, ‘kan?”
             “Dan saat aku bangun, Daniel tersenyum begitu tulus padaku. Saat itu, aku tidak menyangka jika itu adalah senyum tulus terakhirnya padaku..” gumam Ralph sedih.
             “Aku juga tidak menyangka, jika ia benar-benar ingin agar akulah yang menjadi raja.. Aku merasa bersalah padanya karena tidak mengerti perasaannya dan membiarkannya mati tepat didepan mataku,” ujar Revan seraya menunduk.
             “Aku yang baru setahun mengenalnya saja sudah merasa sangat kehilangan, apalagi dirimu yang bahkan selalu berada bersamanya..” desis Ralph melihat Revan yang masih merasa bahwa kematian Daniel adalah kesalahannya.
             “Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.. Aku.. Aku ingin.. ingin sekali meminta maaf pada Daniel dan membalaskan dendamnya pada David. Tapi, jika aku membunuh David, maka aku sama biadabnya dengannya, ‘kan?” Ralph hanya mengangguk setuju. “Au juga merasa tak layak menjadi raja.”
             “Cepat atau lambat, kemenangan akan berpihak pada kebenaran. Aku berada disini karena merasa kau layak menjadi orang yang kuikuti.. Jangan hancurkan keyakinanku untuk mempercayaimu, Tuanku..” ujar Ralph seraya membungkuk memberi hormat.
             “Aku bahkan merasa tak layak menjadi tuan bagimu, Ralph.. Aku ingin menjadi Revan yang bukan siapa-siapa...”
             “Tapi—“
             “Tapi aku sadar, kau tidak mungkin semudah itu percaya ataupun meninggalkanku. Sebagai seorang majikan yang baik, aku berkewajiban untuk menjaga perasaanmu juga..” ujar Revan seraya tersenyum meski matanya sudah berkaca-kaca. “Karenanya, aku tidak boleh mati sekarang.. Demi semua orang.”

             “Iya, seperti yang dikatakan Daniel sebelum kematiannya.. Nyawa seorang raja adalah nyawa milik smua orang..” tambah Ralph seraya membalas senyum sendu Revan dengan senyum manisnya.
**

0 Komentar:

Post a Comment