Chapter 9
Revan termenung di tepi kolam
renang belakang rumahnya. Mulai hari ini, sejak ia dinyatakan tak bersalah oleh
David, ia kembali ke rumah keluarganya. Meski sebenarnya ia curiga mengapa
David melakukan ini, tapi ia berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik
mungkin. Apalagi, kini perebutan kekuasaan antara ia dan David sudah menjadi
masalah nasional yang artinya ini akan menjadi perang internal yang besar dan
beresiko.
Tiba-tiba, tiap kali Revan
mengingat David dan segala perbuatan jahatnya, bayangan Daniel selalu datang.
Sepupunya yang sangat dekat dengannya itu mati di tangan busuk David, dalam
skenario iblisnya itu. Revan sendiri sebenarnya sanggup bertahan karena
teringat dendam Daniel yang menurutnya harus dibalaskan.
“Kakak..” panggil
Luna—adiknya. Luna kemudian memeluk
Revan dari belakang dengan tangan lembutnya. “Apa kakak baik-baik saja?”
“Ah, iya aku baik-baik saja. Ada
apa? Darimana saja kau?” balas Revan seraya tersenyum.
Tiba-tiba wajah Revan murung
mendengar nama ‘Vincent’ disebut. “Kemana?”
“Makam ibunya.”
“Oh,” ujar Revan datar. “Kau
sebaiknya jangan dekat-dekat dengannya, Luna..”
“Kenapa, kak?” tanya Luna tak
mengerti.
“Dia ada hubungannya dengan
Rainlord, keluarga yang telah membantai klan Blackwill dan Petervine..”
“Tapi—“
“Kusarankan, kau jangan
membantah..”
“Baiklah, kak..”
“Sekarang pergilah dan ganti
bajumu. Ayah akan marah jika tahu kau pergi bersama dia.”
Luna mendesah pelan dan berlari
pergi meninggalkan kakaknya yang masih merenung di tepi kolam.
Sementara itu, Ralph yang tak
sengaja melihat Revan melamun dari jendela, berjalan mendekat. Ia tahu, Revan
tak suka digangggu saat sendang memikirkan sesuatu. Tapi, ia ingin mendekat dan
setidaknya mendengar apa yang ingin Revan ceritakan.
“Tuan?” panggil Ralph pelan. Revan
menoleh.
“Ada apa??”
Ralph menggeleng pelan. “Tidak ada.
Aku hanya—“
“Aku terbayang-bayang Daniel..”
terang Revan memotong kalimat Ralph.
“Eh?”
“Aku merindukannya.. Sangat.”
“Tapi itu—”
“Mustahil. Ya, aku tahu itu
mustahil. Tapi, rasanya aku ingin sekali mengingat dan mengulang masa lalu..
Saat aku masih bisa berada bersamanya,” gumam Revan.
Angin semilir menyapu rambut Revan
dan Ralph perlahan sehingga tanpa sadar satu memori kembali berputar..
—FLASHBACK—
“Hentikaan!! Geli!! Jauhkan
tanganmu dariku!” pekik Ralph seraya meronta-ronta sekuatnya.
“Semakin kau memekik, aku akan
semakin senang,” ujar pemuda yang sejak tadi memeluk dan menggelitik pinggang
Ralph. Rambutnya berwarna coklat keemasan, berkilau indah saat diterpa cahaya.
Matanya yang berwarna senada juga memancarkan karisma dibalik tajamnya sorot
mata itu.
“Aaah, aku mohon hentikaaan!” pinta
Ralph memelas. Rambut ungunya yang panjang sebahu dan diikat ekor kuda sudah
lepas terjuntai saat ia meronta tadi.
“Aku tidak mau. Kau ini milik
Revan, dan apa yang dimiliki olehnya juga boleh aku pakai,” elak pemuda itu
masih tetap memeluk Ralph dari belakang.
“Daniel~ Aku mohon..” pinta Ralph
sekali lagi. Energinya benar-benar terkuras habis karena pemuda itu. Kalau saja
pemuda itu bukan Daniel, sepupu sekaligus teman baik Revan—tuannya maka pasti
ia sudah menampar wajah tampan Daniel sejak tadi. Tapi, karena semua alasan
itu, Ralph tidak berani banyak membantah. Ia takut jika Revan murka padanya.
“Aku tidak mau. Kecuali kau merajuk
padaku dengan manja dan memelas,” jawab Daniel seraya tersenyum penuh
kemenangan. Saat tersenyum seperti itu, Daniel tampak mirip dengan Revan dan
sebenarnya Ralph agak terganggu dengan kemiripan mereka berdua.
“Itu tidak adil..” ujar Ralph pelan
karena energinya benar-benar habis. Ia merasa sangat lemas, bahkan mungkin
tidak kuat berdiri.
“Ya, terserah padamu saja..” balas
Daniel seraya menggelitiki Ralph lagi. “Aku hanya mencoba memberimu pilihan.”
“Aaaaahkhh!! Hentikaan!! Baiklah,
baiklah... Aku menyerah,” ujar Ralph akhirnya. Bahkan tangannya tidak sanggup
untuk menyingkirkan tangan Daniel yang melingkari pinggangnya.
“Oh, cepat sekali menyerah ya.. Kau
dan Revan sama-sama mudah menyerah jika kusentuh.”
“Bagaimana tidak menyerah? Tangan
setanmu itu benar-benar menyiksa, tahu!” teriak Ralph dalam hati. Matanya
menatap Daniel penuh kekesalan.
“Ayo, sebelum Revan kembali dari
sekolah..” bisik Daniel tepat di telinga Ralph hingga membuatnya bergidik geli.
“Atau nanti aku akan katakan pada Revan kalau kau tidak menurut..” ancam Daniel
licik.
“Curang!” protes Ralph. Tapi,
menyadari posisinya saat ini ia memutuskan menyerah.
“Tapi aku tidak securang Revan,
kan? Jadi, cepat lakukan.”
Ralph menghela nafas panjang.
Kemudian, ia berbalik menghadap Daniel yang sejak tadi memangkunya diatas
ranjang. Setelah itu, Ralph melingkarkan kedua tangannya ke leher Daniel seraya
berkata, “Tuan, maukah kau melepaskanku?” dengan nada yang sangat memelas dan
tatapan yang benar-benar merajuk.
Daniel tersenyum puas. “Apa yang
akan terjadi jika Revan tahu kau mau kusuruh melakukan ini, ya..”
“Jangan ceritakan apapun padanya!!”
teriak Ralph yang memerah malu.
“Kau jadi salah tingkah jika sedang
malu seperti ini, ya.. Lucu sekali. Benar begitu kan, Revan?”
“Ya ya ya ya ya.. Sampai kapan kau
mau mempermainkannya, Daniel?” ujar Revan yang entah sejak kapan sudah ada di
ambang pintu.
“Tuaaan~” panggil Ralph penuh harap
agar Revan segera menyuruh Daniel pergi.
“Apa yang sudah kaulakukan padanya,
hah? Dia jadi kelihatan sangat lelah seperti ini...” gumam Revan setelah
mendekat dan memperhatikan Ralph.
“Sebenarnya kau tidak perlu
jawabanku, ‘kan? Apa saja yang terjadi di sekolah hingga kau pulang terlambat?”
tanya Daniel mengabaikan Ralph yang putus asa.
“Ah, aku tertidur di taman sekolah
tadi. Ketika aku sadar, hari sudah hampir malam,” jawab Revan seraya memberi
kode agar Ralph duduk didekatnya diantara dirinya dan Daniel.
“Hm, kelihatannya menyenangkan jika
aku bisa melakukan hal yang sama. Tapi, hari ini sangat membosankan bagiku..”
keluh Daniel iri.
“Tapi bukan berarti kau boleh
mempermainkanku seperti tadi—aww!” Ralph terpaksa diam setelah Revan mencubit
pipinya agar ia diam.
“Aku mengerti perasaanmu. Karenanya
sejak tadi aku membiarkanmu bermain dengannya,” ujar Revan santai mengabaikan
tatapan marah dari Ralph.
“Revan, kenapa bukan kau saja yang
jadi raja?” tiba-tiba Daniel mengubah arah pembicaraan.
“Karena bukan aku yang berhak
menjadi raja. Lagipula, aku tidak merasa sanggup..” jawab Revan. “Aku yakin kau
sanggup. Berjuanglah, Niel..”
Sesaat, suasana menjad hening. Daniel kemudian beranjak berdiri dan pergi.
“Kau selalu berusaha meyakinkanku,
Revan.. Aku akan membunuhmu jika yang kaukatakan adalah bohong,” canda Daniel seraya
tertawa sebelum menghilang dibalik pintu.
“Kita lihat saja,” balas Revan
diiringi seringaian khasnya.
Kemudian, setelah Daniel pergi,
Revan menoleh pada Ralph yang kusut. “Hei, apa yang dia lakukan padamu? Apa dia
berbuat yang macam-macam?” tanyanya seraya memperhatikan tiap jengkal penampilan
Ralph.
Ralph hanya menggeleng lemah.
“Lalu, kenapa kau kusut sekali?”
tanya Revan heran.
“Dia terus saja menggellitikiku dan
juga mempermainkanku sesukanya,” terang Ralph.
“Hanya itu?” Revan tidak percaya.
Ralph mengangguk. “Meski terdengar
biasa, tapi tadi itu mengerikan.. Tuan harus percaya padaku, aku tidak bohong.”
“Aku percaya,” jawab Revan tenang.
Ia tersenyum menahan tawa saat melihat Ralph menatapnya dengan mata
berkaca-kaca. “Kau pasti sangat lelah, ya.. Maaf aku tidak secepatnya pulang.”
Ralph hanya mengangguk. Sebenarnya
ia ingin beranjak, namun ia sangat lemas sekarang.
“Ah? Kenapa? Tanya Ralph tidak mengerti
saat Revan membaringkannya paksa. “Aku bisa kembali ke kamarku dan tidur
disana..”
“Bodoh. Kalau kau tidur di kamarmu
sekarang, Daniel bisa saja kembali dan menjahilimu lagi.. Dia dulu sering
melakukn hal itu padaku jika aku tidak mau bermain dengannya..” ujar Revan.
“Jadi tidurlah disini.”
“Tapi—“
“Sudahlah.. Aku sedang tidak ingin
dibantah siapapun. Apalagi olehmu. Atau aku harus berkata jika aku ingin tidur
bersamamu sekarang baru kau mau diam?” Revan merebahkan tubuhnya disamping
Ralph. “Aku sebenarnya tadi tidak tidur di taman. Aku tidak berani berkata pada
Daniel bahwa aku masuk jalur akselerasi, sama sepertinya.”
Ralph bangkit dan duduk menghadap
Revan yang tetap berbaring. “Kenapa?”
“Nanti dia akan berpikir bahwa aku
juga layak menjadi raja. Aku tidak mau itu terjadi.”
“Begitu, ya.. Aku tidak sepenuhnya
mengerti,” gumam Ralph.
“Nanti kau juga mengerti..” ujar
Revan. “Sekarang, bukakan kancing baju seragamku. Aku sedang tidak ingin
melakukannya sendiri.”
“Itu bukan cara meminta tolong,” gerutu
Ralph seraya mulai membuka satu demi satu kancing kemeja putih Revan.
“Tapi itu cara memerintah, “ elak
Revan yang sudah memejamkan mata. “Cepat tidur.”
“Baik,” jawab Ralph patuh. Ia
segera merebahkan tubuhnya ke ranjang empuk itu. Tak lama kdemudian, ia sudah
terlelap dalam alam mimpinya. Ralph tidak menyadari bahwa Revan mengecup
keningnya saat ia tidur.
Setelah itu Revan beranjak pergi
meninggalkan Ralph yang masih terlelap karena harus menghadiri rapat di
sekolah. Segera dilepasnya kemeja putihnya itu dan menggantinya dengan seragam
berwarna abu-abu yang biasa dipakai saat kelas malam. Kemudian, Revan melesat
pergi. Hari ini keluarganya belum kembali dari luar negeri, sedangkan Daniel
sudah pulang ke rumahnya sejak tadi sehingga Revan terpaksa menghubungi Daniel
agar kembali untuk menemani Ralph.
“Ayolah Daniel.. Hari ini aku
pulang larut malam.. Kau bisa kan melakukannya untukku?”
--FLASHBACK
END—
Revan tersenyum tipis saat
mengingat salah satu kejadian masa lalu itu. Ralph hanya menatap sambil
bertanya-tanya dalam hati.
“Kenapa ya, jika aku ingat Daniel..
Kau juga selalu teringat dalam benakku?” tanya Revan menahan tawa yang ingin
meledak karena teringat saat Ralph dipermainkan Daniel sedemikian rupa.
“Eh?”
“Aku tiba-tiba ingat saat kau
kelelahan setelah Daniel menggelitikmu.”
“A-apa?!” Ralph tiba-tiba memerah
karena malu. “Itu—“
“Kemudian aku pergi meninggalkanmu
hingga larut malam untuk pertama kalinya, ‘kan?”
“Dan saat aku bangun, Daniel
tersenyum begitu tulus padaku. Saat itu, aku tidak menyangka jika itu adalah
senyum tulus terakhirnya padaku..” gumam Ralph sedih.
“Aku juga tidak menyangka, jika ia
benar-benar ingin agar akulah yang menjadi raja.. Aku merasa bersalah padanya
karena tidak mengerti perasaannya dan membiarkannya mati tepat didepan mataku,”
ujar Revan seraya menunduk.
“Aku yang baru setahun mengenalnya
saja sudah merasa sangat kehilangan, apalagi dirimu yang bahkan selalu berada
bersamanya..” desis Ralph melihat Revan yang masih merasa bahwa kematian Daniel
adalah kesalahannya.
“Aku tidak bisa memaafkan diriku
sendiri.. Aku.. Aku ingin.. ingin sekali meminta maaf pada Daniel dan
membalaskan dendamnya pada David. Tapi, jika aku membunuh David, maka aku sama
biadabnya dengannya, ‘kan?” Ralph hanya mengangguk setuju. “Au juga merasa tak
layak menjadi raja.”
“Cepat atau lambat, kemenangan akan
berpihak pada kebenaran. Aku berada disini karena merasa kau layak menjadi
orang yang kuikuti.. Jangan hancurkan keyakinanku untuk mempercayaimu,
Tuanku..” ujar Ralph seraya membungkuk memberi hormat.
“Aku bahkan merasa tak layak
menjadi tuan bagimu, Ralph.. Aku ingin menjadi Revan yang bukan siapa-siapa...”
“Tapi—“
“Tapi aku sadar, kau tidak mungkin
semudah itu percaya ataupun meninggalkanku. Sebagai seorang majikan yang baik,
aku berkewajiban untuk menjaga perasaanmu juga..” ujar Revan seraya tersenyum
meski matanya sudah berkaca-kaca. “Karenanya, aku tidak boleh mati sekarang..
Demi semua orang.”
“Iya, seperti yang dikatakan Daniel
sebelum kematiannya.. Nyawa seorang raja adalah nyawa milik smua orang..”
tambah Ralph seraya membalas senyum sendu Revan dengan senyum manisnya.
**



0 Komentar:
Post a Comment