Chapter 8
“Bisa bicara sebentar?”
pinta seorang pria paruh baya yang tampak masih cukup muda. Rambut merahnya
belum banyak beruban, dan sosoknya masih tetap gagah. Ya, Raymond Rilf
Nightford memang tak pernah banyak berubah.
“Ah? Tentu saja,” jawab
pria berambut silver yang kira-kira sepantaran dengan pria tadi. Tanpa sengaja,
Raymond melihat kalung lawan bicaranya itu putus dan jatuh.
“Benda apa ini?” tanya
Raymond seraya mengambilkannya untuk pria bernama Alfred Rainlord itu.
“Bukan apa-apa,” jawab
Alfred cepat. Ia segera menyambar kalung itu dan menyimpannya. “Jadi, ada perlu
apa?”
Raymond tersenyum tipis
diiringi tatapan sendu yang samar. “Aku tidak percaya kau tega melakukan ini
pada kami, Al.”
“Tapi, kau terlibat.”
“Aku tidak pernah ingin
melukaimu, Ray..”
“Tapi kau sudah
melakukannya.. Kau.. Kalian telah menghancurkan putraku,” ujar Raymond bergetar
tertahan. Air mata menggenang, namun ia berusaha menahan agar tak mengalir
turun.
“Seandainya kau bukan
orang yang berkuasa, maka kalian tidak perlu menderita,” ujar Alfred dingin.
“Aku mengenalmu sejak
lama, Al. Ini bukan kau yang kukenal,” sergah Raymond cepat.
“Kita berteman sejak
lama, itu benar. Tapi, kau tidak mengerti,” Alfred tersenyum sinis. “Kita
berdua berdiri di pihak yang berbeda, Ray.. Sejak awal kita memang harus saling
menghancurkan.”
“Tidak jika kalian
tidak menghancurkan kedamaian yang sudah ada!!” bentak Raymond. “Kau
menghancurkan klan kakakku, dan kemudian kau juga menghancurkan klan Blackwill
yang menjaga hubungan baik denganku, lalu.. lalu yang terakhir..”
“Lalu apa?” tanya
Alfred tak acuh.
“Kau menghancurkan
hidup putraku!! Kau sudah menghancurkan harapanku!” teriak Raymond marah.
Alfred mengacungkan
pistolnya dengan santai. “Memang kenapa? Bukankah kau juga sudah menghancurkan
hidupku dulu? Lalu apa salah jika aku melakukannya juga? Kau telah memaksaku
kehilangan kesempatan yang telah kutunggu-tunggu saat itu.”
“Jika hanya itu
alasanmu, kenapa tidak kaubunuh saja aku? Lalu, biarkan putraku hidup tenang.”
“Tidak. Aku tidak ingin
itu terjadi. Jika aku hanya membunuhmu, maka anakmu itu bisa tetap berjalan.
Sedangkan jika kau kehilangan dia, maka hidupmu juga segera berakhir.”
“Kau mengakhiri
pertemanan kita, Al.”
“Sejak lama aku sudah
membuang kata ‘teman’ dari ingatanku, Ray,” ujar Alfred seraya beranjak pergi.
“Kalau itu memang
maumu, kita bertarung satu lawan satu. Revan adalah kunciku, dan David adalah
kuncimu. Kita lihat siapa yang bertahan hingga akhir,” ujar Raymond seraya
meninggalkan sahabat lamanya yang terpaku mendengar kata-katanya. “Bergeraklah
seperti seorang ksatria, Al. Aku tidak akan membiarkan siapapun dalam pihakku
menjadi korban.”
**
“Vincent!!” panggil
Alfred Rainlord setibanya di rumah.
“Ya,Ayah?” jawab pemuda
berambut perak bernama Vincent itu. Ia berjalan mendekati ayahnya tersebut.
“Ada apa?”
“Mana David?”
“Eh? Aku tidak tahu,”
jawab Vincent jujur. “Aku baru saja kembali—“
“Darimana? Kau baru
saja pergi menemui siapa?” selidik Alfred. “Jangan katakan kau menemuui putri
bungsu Nightford?!”
Vincent menunduk. Ia
tak berani bicara saat nada ayahnya meninggi seperti ini. Dalam hati, ia tak
mengerti mengapa harus ia yang terjebak dalam perang tak berguna ini. Namun,
sekali lagi ia hanya bisa bungkam.
“Jawab aku, Vincent.”
“Iya,” jawab Vincent
lirih.
“Plak!!” satu tamparan
keras mendarat di pipi Vincent.
“Ukh,” rintih Vincent
pelan. Ia tidak berani melawan apalagi membalas tamparan ayahnya itu.
“Sudah kubilang, jangan
dekati gadis itu lagi!” bentak Alfred pada putranya itu.
“Kenapa? Kenapa?!” tanya Vincent tak mengerti.
“Ini demi kebaikanmu.”
“Tapi—“
“Kau tidak boleh mati,”
gumam Alfred sangat pelan bahkan hingga Vincent tak bisa mendengarnya. Kemudian
ia segera meninggalkan putranya itu pergi.
“Ayah..” panggil
Vincent pelan sebelum Alfred berjalan terlalu jauh darinya.
“Ya?” jawab Alfred
tenang.
“Hari ini aku pergi
bersama Luna ke makam Ibu.. Apa ayah lupa tentang hari ini?”
Alfred terperanjat.
Tapi, ia tak menjawab pertanyaan putranya itu dan justru pergi masuk ke ruang
kerjanya.
Setelah memastikan tak
ada siapapun yang masuk ke ruang kerjanya tersebut, Alfred membuka tirai besar
yang menutupi sisi dinding didepannya. Dibalik tirai itu, sebuah foto keluarga
berukuran besar terpajang indah. Ada foto dirinya, Vincent, dan satu lagi...
istrinya.
“Felicia..” gumamnya
seraya meraba foto istrinya tersebut. “Aku akan membalaskan dendam kecilmu pada
keluarga Nightford, jadi tenanglah disana..”
Setetes air mata
membasahi pipi pria berambut perak itu. Senyum getir menghiasi wajahnya.
Kemudian, ia menjauhkan tangannya dari foto itu dan segera menyeka air matanya.
“Aku selalu merasa
bersalah, Felicia.. Aku telah menyimpan satu kebohongan yang ternyata tak
pernah sempat aku buka dihadapanmu. Maafkan aku.. Maafkan keegoisanku,
Felicia..”
Alfred terus saja
memandangi foto itu. Vincent yang masih balita, tampak begitu polos dan
bahagia. Kemudian, istrinya tersenyum bahagia didekatnya. Sungguh sebuah
kenangan yang manis, namun pahit baginya sekarang.
“Aku telah gagal
menjadi seorang ayah..” gumamnya. “Vincent, maafkan ayah..”
Alfred sebenarnya tak
ingin melibatkan putranya dalam perang ini, namun nyatanya itu tak bisa
terjadi. David selalu berusaha melibatkan Vincent, sedangkan ia tak bisa
apa-apa untuk melarang. Bagi dirinya yang telah lama kehilangan semangat hidup,
menjaga Vincent tetap hidup adalah tujuan utamanya. Kemudian, ia ingin
memastikan Vincent aman dan bahagia. Setelah itu ia akan segera menyusul
Felicia yang telah menunggunya.. Di langit sana.
**



0 Komentar:
Post a Comment