Monday, August 20, 2012

SuZeRainChapter 8


Chapter 8


             “Bisa bicara sebentar?” pinta seorang pria paruh baya yang tampak masih cukup muda. Rambut merahnya belum banyak beruban, dan sosoknya masih tetap gagah. Ya, Raymond Rilf Nightford memang tak pernah banyak berubah.
             “Ah? Tentu saja,” jawab pria berambut silver yang kira-kira sepantaran dengan pria tadi. Tanpa sengaja, Raymond melihat kalung lawan bicaranya itu putus dan jatuh.
             “Benda apa ini?” tanya Raymond seraya mengambilkannya untuk pria bernama Alfred Rainlord itu.
             “Bukan apa-apa,” jawab Alfred cepat. Ia segera menyambar kalung itu dan menyimpannya. “Jadi, ada perlu apa?”
             Raymond tersenyum tipis diiringi tatapan sendu yang samar. “Aku tidak percaya kau tega melakukan ini pada kami, Al.”
             “Aku tidak melakukan apapun,” jawab Alfred serius. “Semua itu hasil kerja adik bungsuku.”
             “Tapi, kau terlibat.”
             “Aku tidak pernah ingin melukaimu, Ray..”
             “Tapi kau sudah melakukannya.. Kau.. Kalian telah menghancurkan putraku,” ujar Raymond bergetar tertahan. Air mata menggenang, namun ia berusaha menahan agar tak mengalir turun.
             “Seandainya kau bukan orang yang berkuasa, maka kalian tidak perlu menderita,” ujar Alfred dingin.
             “Aku mengenalmu sejak lama, Al. Ini bukan kau yang kukenal,” sergah Raymond cepat.
             “Kita berteman sejak lama, itu benar. Tapi, kau tidak mengerti,” Alfred tersenyum sinis. “Kita berdua berdiri di pihak yang berbeda, Ray.. Sejak awal kita memang harus saling menghancurkan.”
             “Tidak jika kalian tidak menghancurkan kedamaian yang sudah ada!!” bentak Raymond. “Kau menghancurkan klan kakakku, dan kemudian kau juga menghancurkan klan Blackwill yang menjaga hubungan baik denganku, lalu.. lalu yang terakhir..”
             “Lalu apa?” tanya Alfred tak acuh.
             “Kau menghancurkan hidup putraku!! Kau sudah menghancurkan harapanku!” teriak Raymond marah.
             Alfred mengacungkan pistolnya dengan santai. “Memang kenapa? Bukankah kau juga sudah menghancurkan hidupku dulu? Lalu apa salah jika aku melakukannya juga? Kau telah memaksaku kehilangan kesempatan yang telah kutunggu-tunggu saat itu.”
             “Jika hanya itu alasanmu, kenapa tidak kaubunuh saja aku? Lalu, biarkan putraku hidup tenang.”
             “Tidak. Aku tidak ingin itu terjadi. Jika aku hanya membunuhmu, maka anakmu itu bisa tetap berjalan. Sedangkan jika kau kehilangan dia, maka hidupmu juga segera berakhir.”
             “Kau mengakhiri pertemanan kita, Al.”
             “Sejak lama aku sudah membuang kata ‘teman’ dari ingatanku, Ray,” ujar Alfred seraya beranjak pergi.
             “Kalau itu memang maumu, kita bertarung satu lawan satu. Revan adalah kunciku, dan David adalah kuncimu. Kita lihat siapa yang bertahan hingga akhir,” ujar Raymond seraya meninggalkan sahabat lamanya yang terpaku mendengar kata-katanya. “Bergeraklah seperti seorang ksatria, Al. Aku tidak akan membiarkan siapapun dalam pihakku menjadi korban.”
**
             “Vincent!!” panggil Alfred Rainlord setibanya di rumah.
             “Ya,Ayah?” jawab pemuda berambut perak bernama Vincent itu. Ia berjalan mendekati ayahnya tersebut. “Ada apa?”
             “Mana David?”
             “Eh? Aku tidak tahu,” jawab Vincent jujur. “Aku baru saja kembali—“
             “Darimana? Kau baru saja pergi menemui siapa?” selidik Alfred. “Jangan katakan kau menemuui putri bungsu Nightford?!”
             Vincent menunduk. Ia tak berani bicara saat nada ayahnya meninggi seperti ini. Dalam hati, ia tak mengerti mengapa harus ia yang terjebak dalam perang tak berguna ini. Namun, sekali lagi ia hanya bisa bungkam.
             “Jawab aku, Vincent.”
             “Iya,” jawab Vincent lirih.
             “Plak!!” satu tamparan keras mendarat di pipi Vincent.
             “Ukh,” rintih Vincent pelan. Ia tidak berani melawan apalagi membalas tamparan ayahnya itu.
             “Sudah kubilang, jangan dekati gadis itu lagi!” bentak Alfred pada putranya itu.
             “Kenapa? Kenapa?!”  tanya Vincent tak mengerti.
             “Ini demi kebaikanmu.”
             “Tapi—“
             “Kau tidak boleh mati,” gumam Alfred sangat pelan bahkan hingga Vincent tak bisa mendengarnya. Kemudian ia segera meninggalkan putranya itu pergi.
             “Ayah..” panggil Vincent pelan sebelum Alfred berjalan terlalu jauh darinya.
             “Ya?” jawab Alfred tenang.
             “Hari ini aku pergi bersama Luna ke makam Ibu.. Apa ayah lupa tentang hari ini?”
             Alfred terperanjat. Tapi, ia tak menjawab pertanyaan putranya itu dan justru pergi masuk ke ruang kerjanya.
             Setelah memastikan tak ada siapapun yang masuk ke ruang kerjanya tersebut, Alfred membuka tirai besar yang menutupi sisi dinding didepannya. Dibalik tirai itu, sebuah foto keluarga berukuran besar terpajang indah. Ada foto dirinya, Vincent, dan satu lagi... istrinya.
             “Felicia..” gumamnya seraya meraba foto istrinya tersebut. “Aku akan membalaskan dendam kecilmu pada keluarga Nightford, jadi tenanglah disana..”
             Setetes air mata membasahi pipi pria berambut perak itu. Senyum getir menghiasi wajahnya. Kemudian, ia menjauhkan tangannya dari foto itu dan segera menyeka air matanya.
             “Aku selalu merasa bersalah, Felicia.. Aku telah menyimpan satu kebohongan yang ternyata tak pernah sempat aku buka dihadapanmu. Maafkan aku.. Maafkan keegoisanku, Felicia..”
             Alfred terus saja memandangi foto itu. Vincent yang masih balita, tampak begitu polos dan bahagia. Kemudian, istrinya tersenyum bahagia didekatnya. Sungguh sebuah kenangan yang manis, namun pahit baginya sekarang.
             “Aku telah gagal menjadi seorang ayah..” gumamnya. “Vincent, maafkan ayah..”
             Alfred sebenarnya tak ingin melibatkan putranya dalam perang ini, namun nyatanya itu tak bisa terjadi. David selalu berusaha melibatkan Vincent, sedangkan ia tak bisa apa-apa untuk melarang. Bagi dirinya yang telah lama kehilangan semangat hidup, menjaga Vincent tetap hidup adalah tujuan utamanya. Kemudian, ia ingin memastikan Vincent aman dan bahagia. Setelah itu ia akan segera menyusul Felicia yang telah menunggunya.. Di langit sana.
**

0 Komentar:

Post a Comment