Sunday, July 29, 2012

SuZeRain Chapter 7


Chapter 7
             Pagi mulai meretas dinginnya malam yang menusuk tulang. Dennis membuka mata dan menyadari dirinya sudah berada di tempat berbeda dari sebelumnya. Kasur yang besar dan nyaman diletakkan di kamar yang memiliki banyak ventilasi. Sungguh tempat yang membuatnya merasa nyaman.
             Kemudian, ia baru menyadari bahwa baju yang ia kenakan juga berbeda dari sebelumnya. Dalam hati Dennis bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dan jika mimpi buruknya terulang, kenapa ia diperlakukan sebaik ini? Kemudian, siapa pemuda yang kini masih tertidur disampingnya itu? Dennis benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi.
             “Kenapa bangun? Ini masih jam lima pagi,” tanya pemuda berambut hitam yang tidur disamping Dennis itu. Suaranya yang berat membuat Dennis menoleh seketika dan terbelalak melihat sepasang mata pemuda itu.
             “Eh? Mata itu—“

             “Kenapa? Kau tidak senang melihatku, Dennis?” tanya pemuda itu tenang sebelum bangkit.
             “Nathael? Kau Nathael?” tanya Dennis tak percaya. Pemuda itu tersenyum tipis.
             “Ya.”
             Dennis bengong. Otaknya berputar dan berpikir cepat. Mencoba merangkai semua yang terjadi menjadi sebuah kronologi.
             “Ini tidak mungkin..” gumam Dennis.
             Naathael tersenyum tipis seraya bertanya, “Apa yang membuatmu tidak yakin? Atau kau memang tidak ingin menemuiku?”
             Dennis menggeleng cepat. “Jika aku tidak ingin bertemu denganmu, pasti aku sudah mengakhiri hidupku sejak lama..”
             “Aku minta maaf,” ujar Nathael menangkap tatapan sedih Dennis. “Aku tidak—“
             “Aku percaya kau tidak meninggalkanku tanpa sebab,” sela Dennis. “Aku juga tidak berniat bertanya apa alasanmu saat itu.”
             “Kau tidak berubah,” gumam Nathael sendu.
             “Karena aku ingin kau tetap mengenaliku.”
             Nathael tersenyum lemah. “Aku merasa turut berdosa karena telah membuatmu menderita selama ini.”
             “Tidak apa-apa.. Bukankah aku baik-baik saja?” hibur Dennis.
             “Jangan kaukira aku tidak tahu apa yang terjadi, Dennis. Jangan berusaha menyembunyikan apapun dariku,” ujar Nathael. Ia merengkuh lengan kecil Dennis dan memeluknya lembut.
             Dennis terperanjat dalam diam. Satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini hanya tinggal Nathael. Kini orang itiu ada didekatnya, memeluknya erat, dan juga ada untuknya. Hangat tubuh Nathael membuat Dennis nyaman. Dennis benar-benar merasa aman sekarang.
             “Aku tahu kau cengeng. Jadi, aku tidak akan memarahimu jika kau menangis sekarang,” bisik Nathael tanpa melepaskan pelukannya. Tak lama kemudian, ia bisa merasakan sesuatu yang hangat membasahi baju tidur yang dipakainya. Dennis benar-benar menangis dalam pelukannya.
             “Apa yang kaurasakan selama ini?” tanya Nathael setelah isak tangis Dennis mereda.
             “Aku takuut,” jawab Dennis pelan. “Tak ada seorangpun yang berada di pihakku. Sendirian itu sangat mengerikan.
             “Lalu saat ini?’
             “Selama ada kau, aku percaya semua baik-baik saja.”
             Nathael melepaskan pelukannya. “Tapi apa kau siap menerimaku yang sekarang? Aku sudah bukan Nathael yang dulu,” ujar Nathael. “Aku tidak lagi sesempurna dan sebaik  dulu. Sekarang aku adalah orang yang penuh noda. Jika kau tidak mau lagi bertemu denganku, tidak apa-apa.. Aku akan menghilang selama aku yakin kau bahagia—“
             “Jangan bicara begitu!! Hentikan~” sela Dennis cepat. “Aku akan tenang jika kau ada bersamaku! Itu sudah cukup!”
             “Tapi, Dennis.. Dengarkan aku—“
             “Diam!! Aku tidak ingin dengar apa-apa darimu! Masa bodoh deengan apa yang terjadi padamu! Aku hanya peduli bahwa Nathael yang peduli padaku akan selalu ada bersamaku!” sela Dennis lagi. Ia segera membuang muka dan beranjak turun dari ranjang. Mata biru itu menatap langit dari jendela besar kamar itu. Air mata sekali lagi mengalir tanpa seizinnya membasahi kedua pipi tembemnya.
             “Aku tidak ingin melukaimu,” ujar Nathael menjelaskan. Ia menyusul Dennis  dan berdiri dibelakang punggung pemuda mungil itu.
             “Tapi kau justru melakukannya.”
             “Eh?”
             “Harusnya kau tidak egois. Kau harusnya mengerti bahwa aku bukan lagi anak-anak yang terobsesi pada kesempuranaan dan mengharapkan banyak hal. Sejak kau meninggalkanku, aku belajar banyak hal dari luka-luka yang menyayat diriku. Sekian lama aku mencarimu, aku juga tidak lagi sepolos ataupun serapuh yang kaukira. Aku hidup hingga hari ini karena telah mengorbankan banyak hal yang kumiliki, Nathael. Kau keterlaluan jika mengatakan bahwa kau tidak pantas berada bersamaku.”
             “Aku—“
             “Jika kau benar-benar telah mengetahui apa yang kulakukan sebelum ini, maka harusnya kau tahu bahwa aku sudah sekotor ini.. Harus kuakui aku justru tersinggung saat kaukatakan seolah aku ini begitu suci,” jelas Dennis tanpa menoleh pada Nathael. “Apa sekarang kau mengerti? Aku tidak sebaik yang kaubayangkan.”
             Nathael melangkah makin dekat dengan Dennis. Tubuhnya yang jangkung itu cukup kontras saat berdiri di dekat sosok mungil Dennis.
             “Aku mengerti sekarang. Maaf atas kata-kataku sebelumnya,” ujar Nathael sesaat setelah ia melingkarkan tangannya untuk memeluk Dennis.
             “Aku tahu kau pasti akan mengatakannya, Nathael..” Dennis berbalik dan menatap Nathael dengan senyum manisnya.
             “Tapi aku tidak mau tahu jika kelakuanku setelah ini akan membuatmu teringat pada mmimpi-mimpi burukmu.. Karena ini keputusanmu untuk berada disampingku.”
             “Hah? Aku tidak takut! Aku bukan anak kecil lagi,” sanggah Dennis seraya sedikit mengerucutkan bibirnya.
             “Benarkah?” goda Nathael. “Tapi kau tetap anak dibawah umur.”
             “Aku tidak takut. Aku sudah merasakan mimpi buruk berulang-ulang, jadi jika terulang lagi itu tidak masalah selama kau tetap ada untukku.”
             “Jika tidak?”
             “Aku akan membencimu.”
             “Tapi jika aku yang memberi mimpi buruk itu, bagaimana?”
             “Tidak masalah.”
             “Benarkah? Aku tidak yakin,” ujar Nathael dengan sigap mengunci tangan Dennis dan mencium bibir Dennis.
             Dennis tidak melawan sedikitpun. Meski ia tidak mau mengakuinya, tapi tubuhnya terlanjur terbiasa dan tidak sanggup melawan. Dalam hati ia sibuk mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melawan lgi, padahal ia punya kesemmpatan.
             “Sialan. Jadi, itu tadi maumu?” tanya Dennis setelah Nathael menyudahi morning kiss mereka.  Ia mencoba menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
             Nathael menyeringai. “Sebenarnya tidak hanya ini. Awalnya aku benar-benar tidak habis pikir kenapa orang-orang itu bisa terobsesi padamu. Karena aku hanya mendengar penjelasan Revan, saat itu aku hanya bisa menebak-nebak seperti apa kelakuanmu. Ternyata, seperti ini ya..” ujarnya menahan tawa.
             “Kau mentertawakan nasib burukku?” tanya Dennis kesal.
             “Yaa, mungkin memang aku sempat tidak mengerti tapi nyatanya sekarang aku menjadi orang yang juga terobsesi padamu. Kutukan apa yang kaubawa, ha?”
             “Kau menghinaku.”
             “Aku memujimu barusan.”
             “Kalau begitu aku saja yang memang bernasib sial.”
             “Apakah bertemu denganku juga termasuk kesialan?”
             “Jika kau hanya termakan nafsu saat melihatku, maka jawabannya ‘iya’. Tapi jika kau benar-benar menyayangiku maka aku akan pertimbangkan jawaban lain.”
             “Kau bicara seolah sedang mencoba menaklukkanku. Padahal itu sia-sia,” ujar Nathael seraya mengelus pipi Dennis. “Apa kau tidak tahu, sejak awal aku ada untuk melayanimu hingga akhir nafasku? Aku tidak bisa mengkhianatimiu karena aku telah berjanji sejak kedua mataku bisa melihat.”
             “Eh?”
             Nathael mendorong tubuh mungil itu ke dinding dengan hati-hati. Kemudian, dengan tangannya Nathael menahan pinggang Dennis. “Orang baik-baik akan berpikir bahwa kau yang ternodai dunia adalah sampah yang tidak bisa dipakai lagi. Tapi, cara berpikir orang jahat sepertiku adalah sebaliknya.”
             “Katakan saja langsung apa maumu,” pinta Dennis.
             “Aku hanya ingin dirumu. Kau yang berharga, kau yang dititipkakn padaku untuk kujaga. Hanya kau yang menjadi alasanku terus mempertahankakn nafas ini,” jawab Nathael.
             Dennis memeluk Nathael erat. “Aku masih tidak percaya kau sudah ada bersamaku.”
             “Aku juga.”
             “Jangan pergi lagi,” gumam Dennis. “Berjanjilah padaku.”
             Nathael menatap sedih seraya membelai rambut hitam kebiruan milik Dennis.  “Iya, aku tidak akan pergi.”
**



0 Komentar:

Post a Comment