Chapter 7
Pagi mulai meretas
dinginnya malam yang menusuk tulang. Dennis membuka mata dan menyadari dirinya
sudah berada di tempat berbeda dari sebelumnya. Kasur yang besar dan nyaman
diletakkan di kamar yang memiliki banyak ventilasi. Sungguh tempat yang
membuatnya merasa nyaman.
Kemudian, ia baru
menyadari bahwa baju yang ia kenakan juga berbeda dari sebelumnya. Dalam hati
Dennis bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dan jika mimpi buruknya
terulang, kenapa ia diperlakukan sebaik ini? Kemudian, siapa pemuda yang kini
masih tertidur disampingnya itu? Dennis benar-benar tidak tahu apa yang telah
terjadi.
“Kenapa bangun? Ini
masih jam lima pagi,” tanya pemuda berambut hitam yang tidur disamping Dennis
itu. Suaranya yang berat membuat Dennis menoleh seketika dan terbelalak melihat
sepasang mata pemuda itu.
“Eh? Mata itu—“
“Kenapa? Kau tidak
senang melihatku, Dennis?” tanya pemuda itu tenang sebelum bangkit.
“Nathael? Kau Nathael?”
tanya Dennis tak percaya. Pemuda itu tersenyum tipis.
“Ya.”
Dennis bengong. Otaknya
berputar dan berpikir cepat. Mencoba merangkai semua yang terjadi menjadi
sebuah kronologi.
“Ini tidak mungkin..”
gumam Dennis.
Naathael tersenyum
tipis seraya bertanya, “Apa yang membuatmu tidak yakin? Atau kau memang tidak
ingin menemuiku?”
Dennis menggeleng
cepat. “Jika aku tidak ingin bertemu denganmu, pasti aku sudah mengakhiri
hidupku sejak lama..”
“Aku minta maaf,” ujar
Nathael menangkap tatapan sedih Dennis. “Aku tidak—“
“Aku percaya kau tidak
meninggalkanku tanpa sebab,” sela Dennis. “Aku juga tidak berniat bertanya apa
alasanmu saat itu.”
“Kau tidak berubah,”
gumam Nathael sendu.
“Karena aku ingin kau
tetap mengenaliku.”
Nathael tersenyum
lemah. “Aku merasa turut berdosa karena telah membuatmu menderita selama ini.”
“Tidak apa-apa..
Bukankah aku baik-baik saja?” hibur Dennis.
“Jangan kaukira aku
tidak tahu apa yang terjadi, Dennis. Jangan berusaha menyembunyikan apapun
dariku,” ujar Nathael. Ia merengkuh lengan kecil Dennis dan memeluknya lembut.
Dennis terperanjat
dalam diam. Satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini hanya tinggal
Nathael. Kini orang itiu ada didekatnya, memeluknya erat, dan juga ada untuknya.
Hangat tubuh Nathael membuat Dennis nyaman. Dennis benar-benar merasa aman
sekarang.
“Aku tahu kau cengeng.
Jadi, aku tidak akan memarahimu jika kau menangis sekarang,” bisik Nathael
tanpa melepaskan pelukannya. Tak lama kemudian, ia bisa merasakan sesuatu yang
hangat membasahi baju tidur yang dipakainya. Dennis benar-benar menangis dalam
pelukannya.
“Apa yang kaurasakan
selama ini?” tanya Nathael setelah isak tangis Dennis mereda.
“Aku takuut,” jawab
Dennis pelan. “Tak ada seorangpun yang berada di pihakku. Sendirian itu sangat
mengerikan.
“Lalu saat ini?’
“Selama ada kau, aku
percaya semua baik-baik saja.”
Nathael melepaskan
pelukannya. “Tapi apa kau siap menerimaku yang sekarang? Aku sudah bukan
Nathael yang dulu,” ujar Nathael. “Aku tidak lagi sesempurna dan sebaik dulu. Sekarang aku adalah orang yang penuh
noda. Jika kau tidak mau lagi bertemu denganku, tidak apa-apa.. Aku akan
menghilang selama aku yakin kau bahagia—“
“Jangan bicara begitu!!
Hentikan~” sela Dennis cepat. “Aku akan tenang jika kau ada bersamaku! Itu
sudah cukup!”
“Tapi, Dennis..
Dengarkan aku—“
“Diam!! Aku tidak ingin
dengar apa-apa darimu! Masa bodoh deengan apa yang terjadi padamu! Aku hanya
peduli bahwa Nathael yang peduli padaku akan selalu ada bersamaku!” sela Dennis
lagi. Ia segera membuang muka dan beranjak turun dari ranjang. Mata biru itu
menatap langit dari jendela besar kamar itu. Air mata sekali lagi mengalir
tanpa seizinnya membasahi kedua pipi tembemnya.
“Aku tidak ingin
melukaimu,” ujar Nathael menjelaskan. Ia menyusul Dennis dan berdiri dibelakang punggung pemuda mungil
itu.
“Tapi kau justru
melakukannya.”
“Eh?”
“Harusnya kau tidak egois. Kau harusnya mengerti bahwa aku bukan lagi anak-anak yang terobsesi pada kesempuranaan dan mengharapkan banyak hal. Sejak kau meninggalkanku, aku belajar banyak hal dari luka-luka yang menyayat diriku. Sekian lama aku mencarimu, aku juga tidak lagi sepolos ataupun serapuh yang kaukira. Aku hidup hingga hari ini karena telah mengorbankan banyak hal yang kumiliki, Nathael. Kau keterlaluan jika mengatakan bahwa kau tidak pantas berada bersamaku.”
“Harusnya kau tidak egois. Kau harusnya mengerti bahwa aku bukan lagi anak-anak yang terobsesi pada kesempuranaan dan mengharapkan banyak hal. Sejak kau meninggalkanku, aku belajar banyak hal dari luka-luka yang menyayat diriku. Sekian lama aku mencarimu, aku juga tidak lagi sepolos ataupun serapuh yang kaukira. Aku hidup hingga hari ini karena telah mengorbankan banyak hal yang kumiliki, Nathael. Kau keterlaluan jika mengatakan bahwa kau tidak pantas berada bersamaku.”
“Aku—“
“Jika kau benar-benar
telah mengetahui apa yang kulakukan sebelum ini, maka harusnya kau tahu bahwa
aku sudah sekotor ini.. Harus kuakui aku justru tersinggung saat kaukatakan
seolah aku ini begitu suci,” jelas Dennis tanpa menoleh pada Nathael. “Apa
sekarang kau mengerti? Aku tidak sebaik yang kaubayangkan.”
Nathael melangkah makin
dekat dengan Dennis. Tubuhnya yang jangkung itu cukup kontras saat berdiri di
dekat sosok mungil Dennis.
“Aku mengerti sekarang.
Maaf atas kata-kataku sebelumnya,” ujar Nathael sesaat setelah ia melingkarkan
tangannya untuk memeluk Dennis.
“Aku tahu kau pasti
akan mengatakannya, Nathael..” Dennis berbalik dan menatap Nathael dengan
senyum manisnya.
“Tapi aku tidak mau
tahu jika kelakuanku setelah ini akan membuatmu teringat pada mmimpi-mimpi
burukmu.. Karena ini keputusanmu untuk berada disampingku.”
“Hah? Aku tidak takut!
Aku bukan anak kecil lagi,” sanggah Dennis seraya sedikit mengerucutkan
bibirnya.
“Benarkah?” goda
Nathael. “Tapi kau tetap anak dibawah umur.”
“Aku tidak takut. Aku
sudah merasakan mimpi buruk berulang-ulang, jadi jika terulang lagi itu tidak
masalah selama kau tetap ada untukku.”
“Jika tidak?”
“Aku akan membencimu.”
“Tapi jika aku yang
memberi mimpi buruk itu, bagaimana?”
“Tidak masalah.”
“Benarkah? Aku tidak
yakin,” ujar Nathael dengan sigap mengunci tangan Dennis dan mencium bibir
Dennis.
Dennis tidak melawan
sedikitpun. Meski ia tidak mau mengakuinya, tapi tubuhnya terlanjur terbiasa
dan tidak sanggup melawan. Dalam hati ia sibuk mengutuk dirinya sendiri yang
tidak bisa melawan lgi, padahal ia punya kesemmpatan.
“Sialan. Jadi, itu tadi
maumu?” tanya Dennis setelah Nathael menyudahi morning kiss mereka. Ia
mencoba menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
Nathael menyeringai.
“Sebenarnya tidak hanya ini. Awalnya aku benar-benar tidak habis pikir kenapa
orang-orang itu bisa terobsesi padamu. Karena aku hanya mendengar penjelasan
Revan, saat itu aku hanya bisa menebak-nebak seperti apa kelakuanmu. Ternyata,
seperti ini ya..” ujarnya menahan tawa.
“Kau mentertawakan
nasib burukku?” tanya Dennis kesal.
“Yaa, mungkin memang
aku sempat tidak mengerti tapi nyatanya sekarang aku menjadi orang yang juga
terobsesi padamu. Kutukan apa yang kaubawa, ha?”
“Kau menghinaku.”
“Aku memujimu barusan.”
“Kalau begitu aku saja
yang memang bernasib sial.”
“Apakah bertemu
denganku juga termasuk kesialan?”
“Jika kau hanya
termakan nafsu saat melihatku, maka jawabannya ‘iya’. Tapi jika kau benar-benar
menyayangiku maka aku akan pertimbangkan jawaban lain.”
“Kau bicara seolah
sedang mencoba menaklukkanku. Padahal itu sia-sia,” ujar Nathael seraya
mengelus pipi Dennis. “Apa kau tidak tahu, sejak awal aku ada untuk melayanimu
hingga akhir nafasku? Aku tidak bisa mengkhianatimiu karena aku telah berjanji
sejak kedua mataku bisa melihat.”
“Eh?”
Nathael mendorong tubuh
mungil itu ke dinding dengan hati-hati. Kemudian, dengan tangannya Nathael
menahan pinggang Dennis. “Orang baik-baik akan berpikir bahwa kau yang ternodai
dunia adalah sampah yang tidak bisa dipakai lagi. Tapi, cara berpikir orang
jahat sepertiku adalah sebaliknya.”
“Katakan saja langsung
apa maumu,” pinta Dennis.
“Aku hanya ingin
dirumu. Kau yang berharga, kau yang dititipkakn padaku untuk kujaga. Hanya kau
yang menjadi alasanku terus mempertahankakn nafas ini,” jawab Nathael.
Dennis memeluk Nathael
erat. “Aku masih tidak percaya kau sudah ada bersamaku.”
“Aku juga.”
“Jangan pergi lagi,”
gumam Dennis. “Berjanjilah padaku.”
Nathael menatap sedih
seraya membelai rambut hitam kebiruan milik Dennis. “Iya, aku tidak akan pergi.”
**



0 Komentar:
Post a Comment