Wednesday, July 25, 2012

Fanfiction (Vincent x Ara)

[SuZeRain] Vincent x Ara

            “Terlambat lagi, Aranda?” Tanya seorang petugas kedisiplinan yang jadi begitu mengenal Aranda Kurotori karena terlalu sering terlambat.
            “Maaf,” ujar Ara pelan. Ia menggaruk rambut hitamnya yang tidak gatal. Ia harus akui ini keselian kalinya ia terlambat bahkan dalam minggu ini.
            “Masuklah. Aku hari ini tidak akan menghukummu. Anggap saja aku sedang baik hati.”
            “Sungguh?!” mata Ara berbinar mendengarnya. Pemuda bernama Reito Tetsuya itu hanya mengangguk.
            Ara berlari secepat kilat menuju kelasnya yang terletak di ujung koridor. Meninggalkan seseorang yang tanpa diketahinya sebenarnya sengaja terlambat untuk menemaninya.

            “Kenapa harus lari-lari? Berisik,” ujar seorang pemuda yang sengaja terlambat karena kasihan melihat Ara selalu dihukum.
            “Eh? Vincent? Tumben kau terlambat,” Tanya Ara heran karena tak biasanya Vincent terlambat.
            Vincent hanya tersenyum.  Kemudian ia membuka pintu ruang kelas dan seperti dugaannya, semua orang melihat kearahnya.
            “Tumben kau terlambat, Rainlord,” ujar seorang siswa yang duduk paling dekat pintu mendahului pertanyaan yang hendak dilontarkan guru.
            “Maaf, ada urusan OSIS tadi. Apakah saya dan Aranda boleh masuk untuk mengikuti pelajaran?” mendengar Vincent yang mengatakannya, Guru IPA yang sedang mengajar itu akhirnya mengangguk.
            “Terima kasih,” ujar Vincent kemudian.
********
            “Kenapa kau menerlambatkan diri?” tanya Evan, teman dekat Vincent.
            “Tidak ada apa-apa,” jawab Vincent dengan wajah yang memerah.
            “Kau jatuh cinta?” tanya Evan asal tebak. Tapi ternyata Vincent mengangguk.
            Evan terbelalak kaget saat melihat Vincent mengangguk. “K-kau serius?!”
            “Iya,” jawab Vincent.
            “Aku tidak percaya.. Siapa perempuan yang berhasil menarik perhatianmu?”
            “Teman sekelasku,” jawab Vincent cepat.
            “Teman sekelas? Yang mana? Selama aku menjabat sebagai ketua OSIS, kelihatannya kau tidak pernah menunjukkan minatmu pada salah seorang eman sekelasmu,” Evan mencoba mencari informasi langsung dari mulut Vincent.
            “Karena saat itu dia belum ada di kelasku,” sangkal Vincent.
            “Berarti dengan kata lain, dia anak baru? Ah, jangan-jangan yang namanya Aranda ya?” goda Evan seraya menepuk-nepuk kepala Vincent.
            “Darimana kau tahu?”
            “Semua data semacam itu masuk kedalam laporanku,” jawab Evan santai. “Apa perlu bantuanku?”
            “T-tidak,” jawab Vincent malu.
            “Wah kau tersipu-sipu.. Lucu sekali,” ejek Evan seraya meninggalkan Vincent. “Aku mau kembali ke asrama. Kau?”
            “Entahlah.”
            “Kalau begitu, bantu aku bereskan perpustakaan. Bisa, ‘kan? Aku harus membuat laporan setelah ini.”
******
            “Aku lelaaaah~” keluh Ara saat melihat masih banyak buku berserakan di perpustakaan. Ia dihukum karena seminggu ini ia terlambat empat kali.
            Vincent yang tadi hanya disuruh membereskan perpustakaan atas permintaan Evan sangat terkejut mengetahui dirinya tak sendirian di perpustakaan. Ia mendengus pelan, merasa sedikit kesal karena dipermainkan Evan walau di sisi lain ia sangat senang bisa berada bersama seseorang yang sedang menarik perhatiannya.
            “Aranda?” tanya Vincent seraya mendekat. “Ada yang bisa kubantu?”
            Ara spontan menoleh dan mengangguk. Tapi sedetik kemudian Ara terkejut setelah sadar Vincent-lah yang datang.
            “Waaaaa!! Apa yang kaulakukan disinii?!! Kau tidak dihukum, kan?”
            Vincent hanya tertawa kecil. “Memang tidak. Tapi, aku bisa membantumu.”
            “Terimakasih.”
*****
            “Kenapa kau baru kembali? Dihukum ya?” tanya Ryuu, teman sekamar Ara di asrama. Ia menyibukkan dirinya dengan PR yang sedang ia kerjakan sungguh-sungguh.
            “Iya.”
            “Kau pasti sedang kesal, ya?”
            “Tidak juga,” jawab Ara enteng. Ia tersenyum dan Ryuu hanya bisa mengangkat satu alisnya melihat kelakuan temannya itu.
            “Apa yang terjadi?”
            Ara merebahkan dirinya ke kasur dan berkata, “Pangeranku datang membantuku hari ini~”
            “Maksudmu, Vincent Rainlord?? Kau serius?” tanya Ryuu memastikan. Ara mengangguk mantap.
            “Hah? Bagaimana bisa terjadi?” tanya Ryuu tak percaya. Ara hanya angkat bahu.
            “Tidak tahu. Yang jelas aku bersyukur bisa masuk ke sekolah ini~”
********
            Yamamoto International High School. Sebuah sekolah yang menerima murid terbaik dari semua negara di dunia. Reputasi sekolah ini sudah diakui dan pengawasannya langsung dibawahi PBB. Ara adalah salah satu siswa yang berhasil meraih beasiswa penuh di sekolah ini. Hanya dia satu-satunya yang berhasil mendapatkannya.
Namun, kebiasaannya tidak berubah meski ia sudah masuk ke lingkungan elit ini. Akibatnya, ia sangat sering dihukum. Tapi, entah sejak kapan, Vincent Rainlord telah menyita perhatian Ara yang tanpa ia sadari telah membuat Vincent Rainlord merasakan hal yang sama.
“Aku jadi koordinator?!” Vincent berteriak kaget saat Evan dengan seenaknya mencantumkan namanya.
“Cuma untuk studi wisata selama 3 hari 2 malam, kok.. Aku tidak bisa pergi karena harus mengunjungi sekolah di Paris selama sebulan,” ujar Evan enteng.
“Kau memanfaatkanku..” desis Vincent kesal.
“Jangan khawatir, semua sudah kuatur,” hibur Evan. “Ah sejam lagi pesawatku berangkat. Aku pergi dulu ya.”
“Heei!! Ini tidak adil!”
******
Seperti yang dikatakan Evan, kegiatan berjalan lancar hingga hari terakhr sebelum kepulangan. Tapi, ada sedikit masalah yang mau tak mau membuatnya harus turun tangan langsung.
“Siapa yang belum kembali?” tanya Vincent menyela pembicaraan beberapa siswi.
“eh.. I-itu—“ mereka gugup saat tiba-tiba Vincent datang.
“Jawab!” bentak Vincent.
“I-iya.. Siswi bernama Aranda belum kembali sejak sore tadi,” jawab salah satu dari mereka.
“Apa?! Sial,” Vincent segera mengambil mantelnya dan berlari keluar. Berlari menuju hutan tempat mereka melakukan penelitian sejak siang tadi. Ia sangat cemas, apalagi karena ini menyangkut seseorang yang begitu bersinar dimatanya itu.
“Kumohon, jangan terjadi apa-apa!” Vincent terus berdoa dalam hati.
*****
“Aduh sakit.. Kenapa aku harus jatuh disaat begini, sih..” keluh Ara seraya memijit kakinya yang sakit. Hutan sudah gelap, dan ia bingung bagaimana caranya kembali.
Vincent berlari secepat yang ia bisa seraya terus memanggil-manggil nama Ara. Ia mencoba mencari ke seluruh penjuru hutan.
“Aranda! Aranda!! Jawab aku!” panggil Vincent yang makin panik saat jam tangannya menunnjuk pukul tujuh malam.
Sementara Ara yang sangat lelah akhirnya tertidur sambil bersandar pada pohon. Ia tak lagi mendengar pangerannya itu memanggil-manggil namanya.
            Setelah beberapa kali mencari, vincent akhirnya menemukan Ara yang tertidur. Ia menghela nafas lega saat mengetahui Ara baik-baik saja. Ia berniat membangunkan Ara, namun setelah melihat kaki Ara yang bengkak, ia mengurungkan niatnya. Vincent menggendong Ara di punggungnya dan membawanya kembali ke penginapan.
*****
            Penginapan itu sangat besar, sehingga satu murid mendapat satu kamar. Vincent sebagai koordinator tahu dimana letak kamar ‘putri’nya itu. Ia menggendongnya masuk dan membaringkannya ke tempat tidur. Kemudian, ia mengobati luka di kaki Ara dengan sangat lembut, khawatir jika nanti ia membuat Ara terbangun.
            “Kau harus ceritakan padaku kenapa kau mendapat luka seperti ini, Tuan Putri,” gumam Vincent tanpa sadar. Kemudian ia mengecup kening Ara sebelum meninggalkan kamar Ara.
            Ara dalam kondisi setengah sadar berpikir jika semua itu adalah mimpi. Tapi, setelah melihat kakinya sudah diperban, ia sedikit berharap yang ia rasakan itu bukan hanya mimpi belaka. Setiap teringat, Ara selalu memerah malu. Bahkan saat mereka hendak kembali ke asrama, Ara tetap saja tidak ingin melupakannya. Antara mimpi dan kenyataan, ia tak bisa membedakannya.
            Sementara Vincent selalu tersenyum-senyum saat ingat hari itu. Mungkin terlalu cepat, tapi ia ingin menyatakan  perasaannya. Apalagi, setelah kegiatan ini ia akan pergi mengikuti pertukaran pelajar ke Jerman. Setidaknya, ia ingin pergi tanpa beban. Karena, mungkin setelah kembali nanti ia takkan berkesempatan melakukannya.
**
            “Aranda?” panggil Vincent tepat sebelum Ara meninggalkan penginapan.
            “Ya?” Ara menoleh dan menahan diri untuk tidak membuat dirinya memerah didepan Vincent.
            “Kakimu.. Sudah baikan?”
            “Eh? Sudah,” jawab Ara singkat karena kaget. “Apa kau yang mengobati lukaku saat itu? Aku merasa bermimpi kau yang melakukannya,” tanya Ara memberanikan diri.
            “a-apa?” Vincent kaget dan takut jika Ara marah karenanya.
            “Bukan, ya..”
            “Maafkan aku, tapi aku memang melakukannya. Maaf aku telah bersikap kurang ajar padamu sebelum ini. Tapi boleh aku mengatakan sesuatu?”
            “Apa?”
            “Aku menyukaimu.”
            Ara bengong. Antara senang, kaget, bingung, dan juga tidak percaya.
            “Aku tidak berbohong,” lanjut Vincent sambil menunduk malu. “Sebentar lagi aku akan ke Jerman, dan mungkin saat aku kembali kita sudah lulus dari sini.”
            “Lalu?” Ara merasa ini mimpi.
            “Aku cuma mau mengatakan itu sebelum berangkat.”
            “Hanya itu? Kau tidak ingin mendengar jawabanku?”
            “Aku ‘kan tidak bertanya,” jawab Vincent. “Tapi, aku sangat senang jika kau mau mengatakan apa pendapatmu tentangku.”
            Ara tersenyum.
            “Setelah ini, aku langsung pergi. Jadi, kau tidak akan bertemu lagi denganku di kelas,” Vincent menambahkan.
            “Aku juga menyukaimu sejak pertama kali pindah kemari.”
            “Kau tidak sedang menghiburku?”
            Ara menggeleng.
            “Sungguh?”
            “Ya,” jawab Ara seraya tersenyum. Ia membiarkan Vincent memeluknya sebagai salam perpisahan. Padahal semua baru saja dimulai, tapi kenapa mereka harus mengungkapkan salam perpisahan?
            “Tunggu aku kembali, ya.. Jaga dirimu dan sering-seringlah kirimi aku e-mail,” pinta Vincent kemudian. Ara mengangguk.
            “Sampai jumpa.”
****
            “Kau masih setia menunggunya?”
            “Ya, tentu saja. Dia pangeran yang sangat aku sayangi,” jawab Ara.
            “Mungkin dia punya pacar di Jerman?”
            “Aku percaya padanya.”
            Saat ini keduanya sudah kelas dua SMA. Vincent tinggal lebih lama dari seharusnya, dan Ara yang sudah kembali ke Indonesia masih tetap menunggu Vincent. Hari ini mereka berjanji akan bertemu lagi. Vincent akan mengunjungi Indonesia, mengunjungi kota tempat tinggalnya.
            Sejam Ara menunggu di bandara Adisucipto, Yogyakarta. Vincent belum nampak. Temannya juga sudah pulang duluan karena harus menemani ibunya ke RS. Kini ia menunggu sendirian, seraya mencari-cari vincent.
            Tiba-tiba seseorang datang dan memeluk Ara dari belakang. Nyaris Ara menjerit jika tidak melihat siapa pelakunya. Vincent.
            “Kau mengagetkanku.”
            “Syukurlah,” jawab Vincent. “Sungguh aku merindukanmu, My Princess..”
            “Aku kira kau sudah mencari orang lain,” ujar Ara.
            “Aku tidak akan lakukan itu,” ujar vincent menyangkal. “Aku hanya mencintaimu.”
            “Aku juga sama,” balas Ara. “Ayo, aku ingin memperkenalkanmu pada keluargaku.”
            “Baiklah,” ujar Vincent seraya membopong Ara keluar.
            “Hentikan! Ini tempat umum!” pekik Ara.
            “Oh, benar. Kalau begitu nanti saja di rumah,” goda Vincent.
            “Apa-apan kau ini?!”
            “Hahahaha aku hanya bercanda, My Princess. Jangan marah padaku, ya?”
            Ara hanya tersenyum serang menggandeng kekasiihnya itu keluar dari bandara.


0 Komentar:

Post a Comment