[SuZeRain]
Vincent x Ara
“Terlambat
lagi, Aranda?” Tanya seorang petugas kedisiplinan yang jadi begitu mengenal
Aranda Kurotori karena terlalu sering terlambat.
“Maaf,”
ujar Ara pelan. Ia menggaruk rambut hitamnya yang tidak gatal. Ia harus akui
ini keselian kalinya ia terlambat bahkan dalam minggu ini.
“Masuklah.
Aku hari ini tidak akan menghukummu. Anggap saja aku sedang baik hati.”
“Sungguh?!”
mata Ara berbinar mendengarnya. Pemuda bernama Reito Tetsuya itu hanya
mengangguk.
Ara
berlari secepat kilat menuju kelasnya yang terletak di ujung koridor.
Meninggalkan seseorang yang tanpa diketahinya sebenarnya sengaja terlambat
untuk menemaninya.
“Kenapa
harus lari-lari? Berisik,” ujar seorang pemuda yang sengaja terlambat karena
kasihan melihat Ara selalu dihukum.
“Eh?
Vincent? Tumben kau terlambat,” Tanya Ara heran karena tak biasanya Vincent
terlambat.
Vincent
hanya tersenyum. Kemudian ia membuka
pintu ruang kelas dan seperti dugaannya, semua orang melihat kearahnya.
“Tumben
kau terlambat, Rainlord,” ujar seorang siswa yang duduk paling dekat pintu
mendahului pertanyaan yang hendak dilontarkan guru.
“Maaf,
ada urusan OSIS tadi. Apakah saya dan Aranda boleh masuk untuk mengikuti
pelajaran?” mendengar Vincent yang mengatakannya, Guru IPA yang sedang mengajar
itu akhirnya mengangguk.
“Terima
kasih,” ujar Vincent kemudian.
********
“Kenapa
kau menerlambatkan diri?” tanya Evan, teman dekat Vincent.
“Tidak
ada apa-apa,” jawab Vincent dengan wajah yang memerah.
“Kau
jatuh cinta?” tanya Evan asal tebak. Tapi ternyata Vincent mengangguk.
Evan
terbelalak kaget saat melihat Vincent mengangguk. “K-kau serius?!”
“Iya,”
jawab Vincent.
“Aku
tidak percaya.. Siapa perempuan yang berhasil menarik perhatianmu?”
“Teman
sekelasku,” jawab Vincent cepat.
“Teman sekelas?
Yang mana? Selama aku menjabat sebagai ketua OSIS, kelihatannya kau tidak
pernah menunjukkan minatmu pada salah seorang eman sekelasmu,” Evan mencoba
mencari informasi langsung dari mulut Vincent.
“Karena
saat itu dia belum ada di kelasku,” sangkal Vincent.
“Berarti
dengan kata lain, dia anak baru? Ah, jangan-jangan yang namanya Aranda ya?”
goda Evan seraya menepuk-nepuk kepala Vincent.
“Darimana
kau tahu?”
“Semua
data semacam itu masuk kedalam laporanku,” jawab Evan santai. “Apa perlu
bantuanku?”
“T-tidak,”
jawab Vincent malu.
“Wah kau
tersipu-sipu.. Lucu sekali,” ejek Evan seraya meninggalkan Vincent. “Aku mau
kembali ke asrama. Kau?”
“Entahlah.”
“Kalau
begitu, bantu aku bereskan perpustakaan. Bisa, ‘kan? Aku harus membuat laporan
setelah ini.”
******
“Aku
lelaaaah~” keluh Ara saat melihat masih banyak buku berserakan di perpustakaan.
Ia dihukum karena seminggu ini ia terlambat empat kali.
Vincent
yang tadi hanya disuruh membereskan perpustakaan atas permintaan Evan sangat
terkejut mengetahui dirinya tak sendirian di perpustakaan. Ia mendengus pelan,
merasa sedikit kesal karena dipermainkan Evan walau di sisi lain ia sangat
senang bisa berada bersama seseorang yang sedang menarik perhatiannya.
“Aranda?”
tanya Vincent seraya mendekat. “Ada yang bisa kubantu?”
Ara
spontan menoleh dan mengangguk. Tapi sedetik kemudian Ara terkejut setelah
sadar Vincent-lah yang datang.
“Waaaaa!! Apa yang
kaulakukan disinii?!! Kau tidak dihukum, kan?”
Vincent
hanya tertawa kecil. “Memang tidak. Tapi, aku bisa membantumu.”
“Terimakasih.”
*****
“Kenapa
kau baru kembali? Dihukum ya?” tanya Ryuu, teman sekamar Ara di asrama. Ia
menyibukkan dirinya dengan PR yang sedang ia kerjakan sungguh-sungguh.
“Iya.”
“Kau
pasti sedang kesal, ya?”
“Tidak
juga,” jawab Ara enteng. Ia tersenyum dan Ryuu hanya bisa mengangkat satu
alisnya melihat kelakuan temannya itu.
“Apa
yang terjadi?”
Ara
merebahkan dirinya ke kasur dan berkata, “Pangeranku datang membantuku hari
ini~”
“Maksudmu,
Vincent Rainlord?? Kau serius?” tanya Ryuu memastikan. Ara mengangguk mantap.
“Hah?
Bagaimana bisa terjadi?” tanya Ryuu tak percaya. Ara hanya angkat bahu.
“Tidak
tahu. Yang jelas aku bersyukur bisa masuk ke sekolah ini~”
********
Yamamoto
International High School. Sebuah sekolah yang menerima murid terbaik dari
semua negara di dunia. Reputasi sekolah ini sudah diakui dan pengawasannya
langsung dibawahi PBB. Ara adalah salah satu siswa yang berhasil meraih
beasiswa penuh di sekolah ini. Hanya dia satu-satunya yang berhasil
mendapatkannya.
Namun, kebiasaannya
tidak berubah meski ia sudah masuk ke lingkungan elit ini. Akibatnya, ia sangat
sering dihukum. Tapi, entah sejak kapan, Vincent Rainlord telah menyita
perhatian Ara yang tanpa ia sadari telah membuat Vincent Rainlord merasakan hal
yang sama.
“Aku jadi
koordinator?!” Vincent berteriak kaget saat Evan dengan seenaknya mencantumkan
namanya.
“Cuma untuk studi
wisata selama 3 hari 2 malam, kok.. Aku tidak bisa pergi karena harus
mengunjungi sekolah di Paris selama sebulan,” ujar Evan enteng.
“Kau memanfaatkanku..”
desis Vincent kesal.
“Jangan khawatir,
semua sudah kuatur,” hibur Evan. “Ah sejam lagi pesawatku berangkat. Aku pergi
dulu ya.”
“Heei!! Ini tidak
adil!”
******
Seperti yang dikatakan
Evan, kegiatan berjalan lancar hingga hari terakhr sebelum kepulangan. Tapi,
ada sedikit masalah yang mau tak mau membuatnya harus turun tangan langsung.
“Siapa yang belum
kembali?” tanya Vincent menyela pembicaraan beberapa siswi.
“eh.. I-itu—“ mereka
gugup saat tiba-tiba Vincent datang.
“Jawab!” bentak
Vincent.
“I-iya.. Siswi bernama
Aranda belum kembali sejak sore tadi,” jawab salah satu dari mereka.
“Apa?! Sial,” Vincent
segera mengambil mantelnya dan berlari keluar. Berlari menuju hutan tempat
mereka melakukan penelitian sejak siang tadi. Ia sangat cemas, apalagi karena
ini menyangkut seseorang yang begitu bersinar dimatanya itu.
“Kumohon, jangan
terjadi apa-apa!” Vincent terus berdoa dalam hati.
*****
“Aduh sakit.. Kenapa
aku harus jatuh disaat begini, sih..” keluh Ara seraya memijit kakinya yang
sakit. Hutan sudah gelap, dan ia bingung bagaimana caranya kembali.
Vincent berlari
secepat yang ia bisa seraya terus memanggil-manggil nama Ara. Ia mencoba
mencari ke seluruh penjuru hutan.
“Aranda! Aranda!!
Jawab aku!” panggil Vincent yang makin panik saat jam tangannya menunnjuk pukul
tujuh malam.
Sementara Ara yang
sangat lelah akhirnya tertidur sambil bersandar pada pohon. Ia tak lagi
mendengar pangerannya itu memanggil-manggil namanya.
Setelah
beberapa kali mencari, vincent akhirnya menemukan Ara yang tertidur. Ia
menghela nafas lega saat mengetahui Ara baik-baik saja. Ia berniat membangunkan
Ara, namun setelah melihat kaki Ara yang bengkak, ia mengurungkan niatnya.
Vincent menggendong Ara di punggungnya dan membawanya kembali ke penginapan.
*****
Penginapan
itu sangat besar, sehingga satu murid mendapat satu kamar. Vincent sebagai
koordinator tahu dimana letak kamar ‘putri’nya itu. Ia menggendongnya masuk dan
membaringkannya ke tempat tidur. Kemudian, ia mengobati luka di kaki Ara dengan
sangat lembut, khawatir jika nanti ia membuat Ara terbangun.
“Kau
harus ceritakan padaku kenapa kau mendapat luka seperti ini, Tuan Putri,” gumam
Vincent tanpa sadar. Kemudian ia mengecup kening Ara sebelum meninggalkan kamar
Ara.
Ara
dalam kondisi setengah sadar berpikir jika semua itu adalah mimpi. Tapi,
setelah melihat kakinya sudah diperban, ia sedikit berharap yang ia rasakan itu
bukan hanya mimpi belaka. Setiap teringat, Ara selalu memerah malu. Bahkan saat
mereka hendak kembali ke asrama, Ara tetap saja tidak ingin melupakannya.
Antara mimpi dan kenyataan, ia tak bisa membedakannya.
Sementara
Vincent selalu tersenyum-senyum saat ingat hari itu. Mungkin terlalu cepat,
tapi ia ingin menyatakan perasaannya.
Apalagi, setelah kegiatan ini ia akan pergi mengikuti pertukaran pelajar ke
Jerman. Setidaknya, ia ingin pergi tanpa beban. Karena, mungkin setelah kembali
nanti ia takkan berkesempatan melakukannya.
**
“Aranda?” panggil Vincent
tepat sebelum Ara meninggalkan penginapan.
“Ya?” Ara menoleh dan
menahan diri untuk tidak membuat dirinya memerah didepan Vincent.
“Kakimu.. Sudah baikan?”
“Eh? Sudah,” jawab Ara
singkat karena kaget. “Apa kau yang mengobati lukaku saat itu? Aku merasa
bermimpi kau yang melakukannya,” tanya Ara memberanikan diri.
“a-apa?” Vincent kaget dan
takut jika Ara marah karenanya.
“Bukan, ya..”
“Maafkan aku, tapi aku
memang melakukannya. Maaf aku telah bersikap kurang ajar padamu sebelum ini.
Tapi boleh aku mengatakan sesuatu?”
“Apa?”
“Aku menyukaimu.”
Ara bengong. Antara
senang, kaget, bingung, dan juga tidak percaya.
“Aku tidak berbohong,”
lanjut Vincent sambil menunduk malu. “Sebentar lagi aku akan ke Jerman, dan
mungkin saat aku kembali kita sudah lulus dari sini.”
“Lalu?” Ara merasa ini
mimpi.
“Aku cuma mau mengatakan
itu sebelum berangkat.”
“Hanya itu? Kau tidak
ingin mendengar jawabanku?”
“Aku ‘kan tidak bertanya,”
jawab Vincent. “Tapi, aku sangat senang jika kau mau mengatakan apa pendapatmu
tentangku.”
Ara tersenyum.
“Setelah ini, aku langsung
pergi. Jadi, kau tidak akan bertemu lagi denganku di kelas,” Vincent
menambahkan.
“Aku juga menyukaimu sejak
pertama kali pindah kemari.”
“Kau tidak sedang
menghiburku?”
Ara menggeleng.
“Sungguh?”
“Ya,” jawab Ara seraya
tersenyum. Ia membiarkan Vincent memeluknya sebagai salam perpisahan. Padahal
semua baru saja dimulai, tapi kenapa mereka harus mengungkapkan salam
perpisahan?
“Tunggu aku kembali, ya..
Jaga dirimu dan sering-seringlah kirimi aku e-mail,” pinta Vincent kemudian.
Ara mengangguk.
“Sampai jumpa.”
****
“Kau
masih setia menunggunya?”
“Ya,
tentu saja. Dia pangeran yang sangat aku sayangi,” jawab Ara.
“Mungkin
dia punya pacar di Jerman?”
“Aku
percaya padanya.”
Saat ini
keduanya sudah kelas dua SMA. Vincent tinggal lebih lama dari seharusnya, dan
Ara yang sudah kembali ke Indonesia masih tetap menunggu Vincent. Hari ini
mereka berjanji akan bertemu lagi. Vincent akan mengunjungi Indonesia,
mengunjungi kota tempat tinggalnya.
Sejam
Ara menunggu di bandara Adisucipto, Yogyakarta. Vincent belum nampak. Temannya
juga sudah pulang duluan karena harus menemani ibunya ke RS. Kini ia menunggu
sendirian, seraya mencari-cari vincent.
Tiba-tiba
seseorang datang dan memeluk Ara dari belakang. Nyaris Ara menjerit jika tidak
melihat siapa pelakunya. Vincent.
“Kau
mengagetkanku.”
“Syukurlah,”
jawab Vincent. “Sungguh aku merindukanmu, My Princess..”
“Aku
kira kau sudah mencari orang lain,” ujar Ara.
“Aku
tidak akan lakukan itu,” ujar vincent menyangkal. “Aku hanya mencintaimu.”
“Aku
juga sama,” balas Ara. “Ayo, aku ingin memperkenalkanmu pada keluargaku.”
“Baiklah,”
ujar Vincent seraya membopong Ara keluar.
“Hentikan!
Ini tempat umum!” pekik Ara.
“Oh,
benar. Kalau begitu nanti saja di rumah,” goda Vincent.
“Apa-apan
kau ini?!”
“Hahahaha
aku hanya bercanda, My Princess. Jangan marah padaku, ya?”
Ara
hanya tersenyum serang menggandeng kekasiihnya itu keluar dari bandara.



0 Komentar:
Post a Comment