Friday, July 27, 2012

SuZeRain chapter 5


Chapter 5

             “Oh, jadi begitu?” Revan hanya menanggapi dengan nada datar. “Siapa namanya?”
             “Dennis,” jawab Dennis pelan.
             “Oh. Baiklah Dennis, kemarilah. Ralph, siapkan kamar untuk anak ini,” perintah Revan.

             “Baik,” jawab Ralph seraya beranjak pergi.
**
             Revan membawa Dennis  ke kamarnnya. Kemudian ia meminta Dennis duduk di tepi ranjang besarnya. Dennis hanya menurut seperti biasanya.
             “Lepas kemeja kusutmu itu,” perintah Revan. “Aku akan memeriksa kesehatanmu dulu. Jangan takut.”
             Dennis menatap mata marun Revan yang setajam mata elang itu. Tapi, ia melakukan semua seperti apa yang Revan bilang. Tanpa sengaja, Revan memperhatikan liontin kalung yang dipakai Dennis. Meski begitu, ia diam saja. Otaknya sibuk mengingat-ingat kalung itu bentuknya menyerupai apa.
             “Dennis, mandilah dan ganti bajumu. Aku akan menunggumu diluar,” ujar Revan kemudian pergi. Ia naik ke ruang kerjanya, dan akhirnya mendapatkan jawaban. Kalung itu mirip dengan kalung klan Blackwill.
             “Ralph!!” panggil Revan setengah berteriak.
             “Ya?” jawab Ralph seraya menyusul naik.
             “Setelah anak itu keluar, ambil kalungnya! Ada sesuatu yang harus kupasatikan.”
             “Kenapa? Jangan-jangan—“
             “Mungkin.”
**
             “Dennis,” panggil Revan seraya membuka pintu kamarnya. Ia melihat Dennis berdiri menatap jendela sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia telah mengganti bajunya dengan baju Ralph. Meski itu adalah baju yang dipakai saat Ralph berumur lima belas tahun, baju itu terlihat masih kebesaran bagi Dennis.
             “Ya?”
             “Aku ingin bertanya. Kalung itu kaudapat dari mana?” Revan langsung bertanya. Saat itu Ralph juga menyusul masuk.
             “Aku memakainya sejak aku kecil. Pengasuh di panti dulu bilang ini sudah aku kenakan sejak masuk kesana.”
             “Dengan kata lain, kau tidak tahu apa-apa?” tanya Revan.
             “M-memang ada apa?”
             Revan meraih kedua tangan Dennis dan mendorongnya ke dindiing. “Serahkan benda itu padaku. Aku ingin meminjamnya.”
             “Tidak mau! Ini hartaku!”
             “Serahkan!” paksa Revan. Ia menangkap kedua tangan Dennis dan mengangkatnya tinggi-tingi diatas kepala, kemudian menarik kalung itu kasar. Setelah itu, ia berlalu pergi tanpa mengatakan apa-apa.
             “Tunggu! Kembalikan!”
             “Aku mohon, tenanglah. Ia pasti mengembalikannya. Sama seperti bertahun-tahun lalu saat aku juga mengalaminya..” ujar Ralph menenangkan. “Ia sedang sensitif sekarang, jadi maaf jika ia sangat kasar.”
             “Kau membelanya?”
             “Dia tuanku. Bahkan meski ia telah melarangku menyebutnya demikian.”
             “Aku tidak mengerti.”
             “Tidak apa-apa. Kau pasti mengerti,” Ralph tersenyum. “Jadi tunggulah. Hartamu itu pasti akan dikembalikan. Revan bukan tipe orang yang suka merenggut sesuatu yang berharga dari orang lain..”
**

0 Komentar:

Post a Comment