Chapter 5
“Oh, jadi begitu?” Revan
hanya menanggapi dengan nada datar. “Siapa namanya?”
“Dennis,” jawab Dennis
pelan.
“Oh. Baiklah Dennis,
kemarilah. Ralph, siapkan kamar untuk anak ini,” perintah Revan.
“Baik,” jawab Ralph
seraya beranjak pergi.
**
Revan membawa
Dennis ke kamarnnya. Kemudian ia meminta
Dennis duduk di tepi ranjang besarnya. Dennis hanya menurut seperti biasanya.
“Lepas kemeja kusutmu
itu,” perintah Revan. “Aku akan memeriksa kesehatanmu dulu. Jangan takut.”
Dennis menatap mata
marun Revan yang setajam mata elang itu. Tapi, ia melakukan semua seperti apa
yang Revan bilang. Tanpa sengaja, Revan memperhatikan liontin kalung yang
dipakai Dennis. Meski begitu, ia diam saja. Otaknya sibuk mengingat-ingat
kalung itu bentuknya menyerupai apa.
“Dennis, mandilah dan
ganti bajumu. Aku akan menunggumu diluar,” ujar Revan kemudian pergi. Ia naik
ke ruang kerjanya, dan akhirnya mendapatkan jawaban. Kalung itu mirip dengan
kalung klan Blackwill.
“Ralph!!” panggil Revan
setengah berteriak.
“Ya?” jawab Ralph
seraya menyusul naik.
“Setelah anak itu
keluar, ambil kalungnya! Ada sesuatu yang harus kupasatikan.”
“Kenapa?
Jangan-jangan—“
“Mungkin.”
**
“Dennis,” panggil Revan
seraya membuka pintu kamarnya. Ia melihat Dennis berdiri menatap jendela sambil
mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia telah mengganti bajunya dengan baju
Ralph. Meski itu adalah baju yang dipakai saat Ralph berumur lima belas tahun,
baju itu terlihat masih kebesaran bagi Dennis.
“Ya?”
“Aku ingin bertanya.
Kalung itu kaudapat dari mana?” Revan langsung bertanya. Saat itu Ralph juga
menyusul masuk.
“Aku memakainya sejak
aku kecil. Pengasuh di panti dulu bilang ini sudah aku kenakan sejak masuk
kesana.”
“Dengan kata lain, kau
tidak tahu apa-apa?” tanya Revan.
“M-memang ada apa?”
Revan meraih kedua
tangan Dennis dan mendorongnya ke dindiing. “Serahkan benda itu padaku. Aku
ingin meminjamnya.”
“Tidak mau! Ini
hartaku!”
“Serahkan!” paksa
Revan. Ia menangkap kedua tangan Dennis dan mengangkatnya tinggi-tingi diatas
kepala, kemudian menarik kalung itu kasar. Setelah itu, ia berlalu pergi tanpa
mengatakan apa-apa.
“Tunggu! Kembalikan!”
“Aku mohon, tenanglah.
Ia pasti mengembalikannya. Sama seperti bertahun-tahun lalu saat aku juga
mengalaminya..” ujar Ralph menenangkan. “Ia sedang sensitif sekarang, jadi maaf
jika ia sangat kasar.”
“Kau membelanya?”
“Dia tuanku. Bahkan
meski ia telah melarangku menyebutnya demikian.”
“Aku tidak mengerti.”
“Tidak apa-apa. Kau
pasti mengerti,” Ralph tersenyum. “Jadi tunggulah. Hartamu itu pasti akan
dikembalikan. Revan bukan tipe orang yang suka merenggut sesuatu yang berharga
dari orang lain..”
**



0 Komentar:
Post a Comment