Chapter 3
Revan
benar-benar mencarikan apa yang diinginkan Nathael. Sedangkan Nathael juga
menepati semua janjinya pada Revan. Ia telah berjanji akan menjadi pelindung
bagi Revan, terlebih setelah mengetahui bahwa mereka memiliki musuh yang sma.
Ralph terus
mengawasi Nathael sembari mencoba melacak keberadaan Dennis Alucard Blackwill
yang diperkirakan tinggal tak begitu jauh dari tempat tinggal mereka sekarang.
Tak jarang Revan ikut turun ke lapangan untuk mencari keberadaan anak yang
kelihatannya tidak bodoh karena berhasil memanipulasi data asli yang tersimpan
di S.S.S.
“Tuan.. Tidak
apa-apa sebenarnya jika hanya aku yang pergi, ‘kan?” tanya Ralph.
“Panggil
namaku. Aku tidak butuh panggilan seperti itu,” Revan mengalihkan pembicaraan.
******
“Hentikan!!
Apa yang kalian inginkan?!” terdengar suara seorang remaja yang menghalangi
sekumpulan mafia yang ingin menagih hutang pada ‘orang tua’ anak itu.
“Minggir!!”
bentak salah satu dari mereka seraya memukul anak itu hingga jatuh tersungkur .
“Apa kau bisa melunasinya, hah? Jika tidak, sayangi nyawamu dan diamlah.”
“Tapi,
bos.. Kelihatannya anak ini bisa menghasilkan uang.. Lihatlah wajahnya yang
manis ini,” ujar seorang yang lainnya.
“Apa mau
kalian?!” tiba-tiba seorang pria paruh baya keluar dari rumah.
“Kau harus
bayar hutangmu,” jawab orang yang paling depan.
“Aku tidak
punya uang.”
“Lalu
dengan apa kau membayar? Apa kau tega menjual anak yang mati-matian
melindungimu ini?”
“Ambil
saja.”
“A-apa?!”
anak itu terbelalak kaget saat mendengarnya. Ia segera bangkit dan berusaha
berlari secepat yang ia bisa.
Ia
mengenakan mantel putih dan syal berwarna hitam. Rambutnya yang biru kehitaman
itu basah karena hujan yang tiba-tiba turun sangat deras. Ia mendengar derap
langkah para mafia yang ingin membawanya pergi itu. Ia tak berhenti berlari
bahkan meski kakinya seperti mau patah rasanya.
“Bruk!” anak
itu telalu lelah hingga ia tak memperhatikan jalan. Ia segera minta maaf dan
berlari lagi.
“Ada apa?”
tanya orang yang ditabrak anak itu. Orang itu adalah Ralph yang kebetulan
sedang mensurvei lokasi.
Ralph membuntuti
anak itu dan juga para mafia itu. Ia merasa khawatir pada anak itu. Apalagi
dengan tubuhnya yang sekecil itu mungkin ia masih belasan tahun. Berurusan
dengan mafia bukanlah urusan mudah bahkan bagi dirinya yang sudah dua puluh
tahun itu.
“Waakh!!” teriak
anak itu saat akhirnya ia tertangkap. “Lepaskan aku!”
“Jangan
harap.”
Mata anak
itu berair dan ia menangis ketakutan. Ia memohon-mohon namun percuma. Ia
dibius, diikat dan matanya ditutup sebelum kemudian dibawa pergi dengan mobil.
“Apa yang
terjadi barusan?” Ralph menelan ludahnya saat melihat semua itu.
*******
Anak itu
sudah sadar, tapi kondisinya masih lemah. Ia diikat dan disandarkan di sudut
ruang. Ia berada di sebuah tempat yang seperti kamar tidur lengkap dengan
segala perabotnya. Hanya satu yang membbuatnya tidak nyaman, yaitu bau alkohol
yang menyengat.
Tubuh anak
itu masih basah kuyup, sedangkan pendingin ruangan yang menyala membuat
tubuhnya seperti akan membeku.
“Wajahmu
sangat manis. Pasti kau bisa menjadi mesin uang untuk kami,” ujar seseorang
yang muncul dari balik pintu seraya membelai rambut biru anak itu.
“Lepaskan
aku,” ujar anak itu datar. Tapi dari balik kain yang menutupi matanya, air mata
mengalir sangat deras.
“Aku tidak
akan mau melakukannya, kecuali kau menuruti apa yang aku mau,” bisik orang itu
tepat di telinga anak yang ketakutan itu. Kemudian dengan cepat, orang itu
menciumi leher basah anak itu.
“Ukhh..
Hentikan.. aku.. moohon,” pinta anak itu memelas dengan suara tertahan.
“Aaah,
hentikan.. Aku tidak tahan,” pinta anak itu lagi. Orang itu telah melepas
mantel dan kemeja hijau pupus yang dikenakan anak itu sebelum kemudian mulai menyentuh
tubuh itu dengan lidahnyna. Anak itu basah kuyup karena hujan, sehingga ia saat
ini menggigil kedinginan ditambah dengan menggigil ketakutan.
Orang itu
berhenti sesaat. Tapi kemudian, ia mencium paksa bibir kecil itu kasar.
“Mmmph!!”
anak itu berusaha berontak namun ia kalah telak. Tangisanny makin menjadi, tapi
orang itu tak peduli bahkan saat anak itu mulai demam.
“Apa urusanku
denganmu?!” jerit anak itu putus asa.
“Kau punya
hutang padaku.”
“Sejak
kapan?”
“Sejak
orang itu menyerahkan semuanya padaku. Kasihan sekali kau,” gumam orang itu
seraya memainkan jemarinya pada wajah polos anak itu. “Anak kecil kelihatannya sangat enak untuk dimanfaatkan.”
“Diam!”
bentak anak itu kesal.
“Kau tidak
berhak membentakku. Kau harus segera melunasi hutangmu sebesar tiga puluh juta
sebelum musim ini berakhir.”
“Jangan
bercanda! Musim gugur ini sudah berlalu hampir separuhnya!”
Orang itu
melepas penutup mata anak itu. “Aku akan menjadikanmu mesin uang yang berharga
bagiku, bocah..”
Air mata
yang menggenang di matanya akhirnya jatuh membasahi pipi anak itu. Pipi itu
memerah dan tatapannya begitu memelas. Tapi, tak ada yang peduli.
“Katakan,
siapa namamu?”
“Dennis,”
jawab anak itu gemetar.
“Umurmu?”
“Tujuh
belas.”
Orang itu
menyeringai puas. “Benar-benar sempurna.”
*****
“Hentikan!
Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!” pekik Dennis panik.
“Kau harus
menurut. Jangan pernah membantah.”
“Aku tidak
pernah merasa berhutang padamu! Kenapa aku harus lakukan ini?!”
“Jangan
banyak bicara.”
Dennis
menunduk dan kemudian menatap orang lain yang juga berada di ruangan besar yang
menyesakkannya itu. Ia menatapnya penuh kecurigaan, kemudian beralih pada
‘tuan’ yang telah memaksanya seperti ini. Mata besarnya menatap penuh
kebencian.
“Haruskah
aku lakukan ini?” gumamnya pada dirinya sendiri sebelum kemudian berjalan
mendekati orang asing yang menatapnya penuh nafsu.
“Kemarilah,
Nak..”
Dennis merinding
mendengar nada bicara yang terasa dimanis-maniskan itu. Nafanya tercekat sesaat
dan beberapa tetes air mata turun sesaat sebelum orang asing itu dibiarkannya
bermain-main dengan tubuhnya.
**
“Ini yang
kesekian kalinya, aku lelah.. Aku mohon hentikan,” pinta Dennis pada ‘tuan’nya.
Berada dalam cengkraman mafia sungguh merupakan mimpi yang sangat buruk.
Tak ada
yang peduli padanya. Ia tak kuat lagi. Ia ingin sekali menanyakan, apa yang
terjadi hingga ia terbawa ke lubang hitam ini? Tapi, tak ada siapapun yang
bersedia menjawab. Ia sendirian.
Pada suatu
saat, ia memberanikan diri melarikan diri. Sekuat tenaga ia menghajar para
penjaga yang menghalanginya lari, namun tepat beberapa langkah setelah ia
meraih kebebasannya, semua itu direnggut lagi.
“Argh!”
jerit Dennis saat kakinya tertembak. Ia ambruk seketika dan tak sadarkan diri.
“Bawa dia
kembali.”
Samar-samar
Dennis masih bisa merasakan apa yang terjadi, dan saat ia sadar, kakinya telah
diibebat perban dan tangannya diikat untuk kedua kalinya.
“Anak
bodoh,” ejek ‘tuan’nya itu seraya menghisap rokok. Kemudian dengan sengaja, ia
menempelkan bara rokoknya pada leher Dennis.
“Aah,
panas..” gumam Dennis tertahan. Ia menggigit bibirnya menahan rasa perih pada kulitnya yang terbakar.
“Kenapa
lari?” tanya orang itu seraya membelai rambut Dennis kasar. “Kau juga tak punya
tempat kembali, bukan?”
“Aku lelah
dengan semua ini! Aku harus pergi dan mencari seseorang yang masih ingin
kutemui! Aku mohon lepaskan aku!”
“Berapa
kali aku harus berkata, TIDAK AKAN!”
“Kau tidak
memberiku apa-apa! Kau tidak peduli padaku!”
“Memang
benar. Karena kau hanyalah alat untuk menghasilkan uang,” jawab orang itu
dingin. “Jangan harap bisa pergi dari tempat ini, Dennis. Ataukah sebaiknya aku
menjualmu saja?”
Mata Dennis
membulat. “Jangan!”
“Jika
memang kau ingin begitu, hasilkan uang yang banyak untukku.”
Air mata
menggenang dan mengalir membasahi pipi Dennis. Bagaimanapun ia tetaplah anak
yang haus cinta kasih. Ia ingin pergi mencari seseorang yang pernah mengisi
hari-harinya. Ia rela melakukan apapun untuk bertahan hidup dan menemukan orang
itu. Bahkan meski setelah bertemu dengan orang itupun hidupnya tak berubah,
tidak masalah. Ia telah kehilangan cita-cita dan harapan, maka dari itu ia
hanya ingin menghabiskan umurnya untuk mengetahui kebenaran yang tertutup kabut
gelap. Setelah itu tercapai, matipun tidak masalah..
***



0 Komentar:
Post a Comment