Wednesday, July 25, 2012

SuZeRain Chapter 3


Chapter 3
             Revan benar-benar mencarikan apa yang diinginkan Nathael. Sedangkan Nathael juga menepati semua janjinya pada Revan. Ia telah berjanji akan menjadi pelindung bagi Revan, terlebih setelah mengetahui bahwa mereka memiliki musuh yang sma.
             Ralph terus mengawasi Nathael sembari mencoba melacak keberadaan Dennis Alucard Blackwill yang diperkirakan tinggal tak begitu jauh dari tempat tinggal mereka sekarang. Tak jarang Revan ikut turun ke lapangan untuk mencari keberadaan anak yang kelihatannya tidak bodoh karena berhasil memanipulasi data asli yang tersimpan di S.S.S.
             “Tuan.. Tidak apa-apa sebenarnya jika hanya aku yang pergi, ‘kan?” tanya Ralph.
             “Panggil namaku. Aku tidak butuh panggilan seperti itu,” Revan mengalihkan pembicaraan.
             “Baiklah, Revan..”
******
             “Hentikan!! Apa yang kalian inginkan?!” terdengar suara seorang remaja yang menghalangi sekumpulan mafia yang ingin menagih hutang pada ‘orang tua’ anak itu.
             “Minggir!!” bentak salah satu dari mereka seraya memukul anak itu hingga jatuh tersungkur . “Apa kau bisa melunasinya, hah? Jika tidak, sayangi nyawamu dan diamlah.”
             “Tapi, bos.. Kelihatannya anak ini bisa menghasilkan uang.. Lihatlah wajahnya yang manis ini,” ujar seorang yang lainnya.
             “Apa mau kalian?!” tiba-tiba seorang pria paruh baya keluar dari rumah.
             “Kau harus bayar hutangmu,” jawab orang yang paling depan.
             “Aku tidak punya uang.”
             “Lalu dengan apa kau membayar? Apa kau tega menjual anak yang mati-matian melindungimu ini?”
             “Ambil saja.”
             “A-apa?!” anak itu terbelalak kaget saat mendengarnya. Ia segera bangkit dan berusaha berlari secepat yang ia bisa.
             Ia mengenakan mantel putih dan syal berwarna hitam. Rambutnya yang biru kehitaman itu basah karena hujan yang tiba-tiba turun sangat deras. Ia mendengar derap langkah para mafia yang ingin membawanya pergi itu. Ia tak berhenti berlari bahkan meski kakinya seperti mau patah rasanya.
             “Bruk!” anak itu telalu lelah hingga ia tak memperhatikan jalan. Ia segera minta maaf dan berlari lagi.
             “Ada apa?” tanya orang yang ditabrak anak itu. Orang itu adalah Ralph yang kebetulan sedang mensurvei lokasi.
             Ralph membuntuti anak itu dan juga para mafia itu. Ia merasa khawatir pada anak itu. Apalagi dengan tubuhnya yang sekecil itu mungkin ia masih belasan tahun. Berurusan dengan mafia bukanlah urusan mudah bahkan bagi dirinya yang sudah dua puluh tahun itu.
             “Waakh!!” teriak anak itu saat akhirnya ia tertangkap. “Lepaskan aku!”
             “Jangan harap.”
             Mata anak itu berair dan ia menangis ketakutan. Ia memohon-mohon namun percuma. Ia dibius, diikat dan matanya ditutup sebelum kemudian dibawa pergi dengan mobil.
             “Apa yang terjadi barusan?” Ralph menelan ludahnya saat melihat semua itu.
*******
             Anak itu sudah sadar, tapi kondisinya masih lemah. Ia diikat dan disandarkan di sudut ruang. Ia berada di sebuah tempat yang seperti kamar tidur lengkap dengan segala perabotnya. Hanya satu yang membbuatnya tidak nyaman, yaitu bau alkohol yang menyengat.
             Tubuh anak itu masih basah kuyup, sedangkan pendingin ruangan yang menyala membuat tubuhnya seperti akan membeku.
             “Wajahmu sangat manis. Pasti kau bisa menjadi mesin uang untuk kami,” ujar seseorang yang muncul dari balik pintu seraya membelai rambut biru anak itu.
             “Lepaskan aku,” ujar anak itu datar. Tapi dari balik kain yang menutupi matanya, air mata mengalir sangat deras.
             “Aku tidak akan mau melakukannya, kecuali kau menuruti apa yang aku mau,” bisik orang itu tepat di telinga anak yang ketakutan itu. Kemudian dengan cepat, orang itu menciumi leher basah anak itu.
             “Ukhh.. Hentikan.. aku.. moohon,” pinta anak itu memelas dengan suara tertahan.
             “Aaah, hentikan.. Aku tidak tahan,” pinta anak itu lagi. Orang itu telah melepas mantel dan kemeja hijau pupus yang dikenakan anak itu sebelum kemudian mulai menyentuh tubuh itu dengan lidahnyna. Anak itu basah kuyup karena hujan, sehingga ia saat ini menggigil kedinginan ditambah dengan menggigil ketakutan.
             Orang itu berhenti sesaat. Tapi kemudian, ia mencium paksa bibir kecil itu kasar.
             “Mmmph!!” anak itu berusaha berontak namun ia kalah telak. Tangisanny makin menjadi, tapi orang itu tak peduli bahkan saat anak itu mulai demam.
             “Apa urusanku denganmu?!” jerit anak itu putus asa.
             “Kau punya hutang padaku.”
             “Sejak kapan?”
             “Sejak orang itu menyerahkan semuanya padaku. Kasihan sekali kau,” gumam orang itu seraya memainkan jemarinya pada wajah polos anak itu. “Anak kecil  kelihatannya sangat enak untuk dimanfaatkan.”
             “Diam!” bentak anak itu kesal.
             “Kau tidak berhak membentakku. Kau harus segera melunasi hutangmu sebesar tiga puluh juta sebelum musim ini berakhir.”
             “Jangan bercanda! Musim gugur ini sudah berlalu hampir separuhnya!”
             Orang itu melepas penutup mata anak itu. “Aku akan menjadikanmu mesin uang yang berharga bagiku, bocah..”
             Air mata yang menggenang di matanya akhirnya jatuh membasahi pipi anak itu. Pipi itu memerah dan tatapannya begitu memelas. Tapi, tak ada yang peduli.
             “Katakan, siapa namamu?”
             “Dennis,” jawab anak itu gemetar.
             “Umurmu?”
             “Tujuh belas.”
             Orang itu menyeringai puas. “Benar-benar sempurna.”
*****
             “Hentikan! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!” pekik Dennis panik.
             “Kau harus menurut. Jangan pernah membantah.”
             “Aku tidak pernah merasa berhutang padamu! Kenapa aku harus lakukan ini?!”
             “Jangan banyak bicara.”
             Dennis menunduk dan kemudian menatap orang lain yang juga berada di ruangan besar yang menyesakkannya itu. Ia menatapnya penuh kecurigaan, kemudian beralih pada ‘tuan’ yang telah memaksanya seperti ini. Mata besarnya menatap penuh kebencian.
             “Haruskah aku lakukan ini?” gumamnya pada dirinya sendiri sebelum kemudian berjalan mendekati orang asing yang menatapnya penuh nafsu.
             “Kemarilah, Nak..”
             Dennis merinding mendengar nada bicara yang terasa dimanis-maniskan itu. Nafanya tercekat sesaat dan beberapa tetes air mata turun sesaat sebelum orang asing itu dibiarkannya bermain-main dengan tubuhnya.
**

             “Ini yang kesekian kalinya, aku lelah.. Aku mohon hentikan,” pinta Dennis pada ‘tuan’nya. Berada dalam cengkraman mafia sungguh merupakan mimpi yang sangat buruk.
             Tak ada yang peduli padanya. Ia tak kuat lagi. Ia ingin sekali menanyakan, apa yang terjadi hingga ia terbawa ke lubang hitam ini? Tapi, tak ada siapapun yang bersedia menjawab. Ia sendirian.
             Pada suatu saat, ia memberanikan diri melarikan diri. Sekuat tenaga ia menghajar para penjaga yang menghalanginya lari, namun tepat beberapa langkah setelah ia meraih kebebasannya, semua itu direnggut lagi.
             “Argh!” jerit Dennis saat kakinya tertembak. Ia ambruk seketika dan tak sadarkan diri.
             “Bawa dia kembali.”
             Samar-samar Dennis masih bisa merasakan apa yang terjadi, dan saat ia sadar, kakinya telah diibebat perban dan tangannya diikat untuk kedua kalinya.
             “Anak bodoh,” ejek ‘tuan’nya itu seraya menghisap rokok. Kemudian dengan sengaja, ia menempelkan bara rokoknya pada leher Dennis.
             “Aah, panas..” gumam Dennis tertahan. Ia menggigit bibirnya menahan  rasa perih pada kulitnya yang terbakar.
             “Kenapa lari?” tanya orang itu seraya membelai rambut Dennis kasar. “Kau juga tak punya tempat kembali, bukan?”
             “Aku lelah dengan semua ini! Aku harus pergi dan mencari seseorang yang masih ingin kutemui! Aku mohon lepaskan aku!”
             “Berapa kali aku harus berkata, TIDAK AKAN!”
             “Kau tidak memberiku apa-apa! Kau tidak peduli padaku!”
             “Memang benar. Karena kau hanyalah alat untuk menghasilkan uang,” jawab orang itu dingin. “Jangan harap bisa pergi dari tempat ini, Dennis. Ataukah sebaiknya aku menjualmu saja?”
             Mata Dennis membulat. “Jangan!”
             “Jika memang kau ingin begitu, hasilkan uang yang banyak untukku.”
             Air mata menggenang dan mengalir membasahi pipi Dennis. Bagaimanapun ia tetaplah anak yang haus cinta kasih. Ia ingin pergi mencari seseorang yang pernah mengisi hari-harinya. Ia rela melakukan apapun untuk bertahan hidup dan menemukan orang itu. Bahkan meski setelah bertemu dengan orang itupun hidupnya tak berubah, tidak masalah. Ia telah kehilangan cita-cita dan harapan, maka dari itu ia hanya ingin menghabiskan umurnya untuk mengetahui kebenaran yang tertutup kabut gelap. Setelah itu tercapai, matipun tidak masalah..
***

0 Komentar:

Post a Comment