Wednesday, July 25, 2012

SuZeRain Chapter 2

             Chapter 2
                “Pyarr!!”
             “Ah, maafkan aku,” ujar Revan saat tangannya tak sengaja mendorong gelas hingga terjatuh dari meja. Matanya diturupi perban sehingga ia tak bisa melihat. Ada rasa kesal saat ia merasa tak pernah bisa melakukan hal-hal yang seharusnya ia lakukan sendiri..
             “Tidak apa-apa. Lain kali, mintalah bantuanku.. Jangan paksakan dirimu,” ujar Ralph seraya segera membersihkan pecahan kaca.
             “Aku benci menjadi tidak berguna,” ujar Revan yang hanya diam mematung.
             “Tuan—“
             “Jangan panggil aku seperti itu. Panggil namaku!” bentak Revan tiba-tiba. Saat ini emosinya memang sedang sangat labil. “Aku jadi kesal jika mendengarmu bicara begitu.”
             “Maaf.”
             “Aku yang harus minta maaf. Belakangan ini rasanya aku benar-benar ingin marah. Maaf.”
             “Tidak apa-apa,  Revan..” ujar Ralph untuk pertama kalinya menyebut nama tuannya itu.
             “Terimakasih…”
****
             “Apa yang kaurasakan?”
             “Setelah aku terbiasa melihat kegelapan, tiba-tiba saja aku dipaksa kembali melihat cahaya. Tidakkah itu menyakitkan, Ralph?” ujar Revan seraya menoleh kearah Ralph yang berdiri disamping ranjangnya.
             “Kau sudah sembuh total. Kau bisa pulang hari ini juga.”
             “Terimakasih, Dokter..” jawab Revan sinis.
             “Tuan.. Ayo, kita segera tinggalkan tempat ini..” ajak Ralph seraya membantu Revan turun dari ranjang dan mencoba berdiri.
             “Berlatihlah untuk berjalan, Tuan Nightford,” saran sang dokter.
             “Aah, terimakasih atas perhatiannya. Tapi aku juga tahu apa yang harus kulakukan,” balas Revan ketus.
             “Maaf, dokter. Beliau sedang tidak enak hati, mungkin,” Ralph mencoba meminta maaf pada dokter yang kelihatan mulai kesal.
             “Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan.”
             “Aku tidak berharap bertemu lagi denganmu,” ujar Revan begitu kasar dan dingin. “Aku benci menjadi selemah ini.”
******
             Sekian waktu berlalu akhirnya Revan bisa kembali membuka matanya. Luka-luka di tubuhnya tertutup tanpa bekas berarti. Sekilas semua tampak sama, selain hati Revan yang membeku. Segala kehangatan yang ia miliki hilang entah kemana. Menyisakan hati yang keras dan beku seperti es yang tak mungkin mencair dalam waktu singkat.
             Keputusasaan menghinggapi Revan. Ia akui itu benar. Nyatanya ia memang merasa menjadi beban bagi semua orang dan mulai berusaha mengutuki dirinya sendiri yang menurutnya hanya bisa menyusahkan.
             “Ralph.”
             “Ya, Tuan?” Ralph menghampiri Revan yang berdiri menatap taman dari jendela besar ruang tengah.
             “Aku ingin membebaskanmu. Tinggalkan saja aku sendiri disini, dan nikmatilah hidupmu sebagai manusia yang bebas,” ujar Revan seraya menatap tajam.
             Gelas yang dibawa Ralph jatuh begitu saja dan pecah. Tubuh Ralph gemetar, dan ia terus saja menundukkan kepalanya seraya berkata, “Eh? Kenapa?”
             “Tidakkah menyebalkan bagimu jika aku terus seperti ini?”
             “Aku tidak berpikir begitu. Tapi, apa artinya aku harus pergi?” Tanya Ralph dengan nada gemetar.
             “Hm, begitukah? Sebenarnya artinya memang begitu, tapi terserah padamu saja.”
             Ralph menunduk memandangi pecahan gelas yang ia jatuhkan tadi seraya bergumam, “Jadi, Tuan ingin membuangku?”
             “Berhenti panggil aku dengan sebutan itu. Aku sudah bukan siapa-siapa,” hardik Revan cepat. “Jika kau memang tidak ingin bebas, sebenarnya apa maumu?”
             “Apa aku terlihat seperti orang yang menginginkan sesuatu?” Tanya Ralph seraya mengangkat kepalanya dan menatap Revan sendu. “Aku tidak akan mengkhianatimu.”
             “Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa keinginan, Ralph.”
             “Aku hanya ingin berada didekatmu,” ujar Ralph kemudian.
             Revan tersenyum dan berkata, “Bahkan meski kau berhasil menemukan ayahmu?”
             Ralph mengangguk. “Sejak awal, kaulah yang menjadi ‘tuan’ku. Aku akan tetap disini, selamanya.”
             “Sebenarnya, aku tidak terlalu ingin percaya padamu. Tapi, jika aku percaya, mungkinkah suatu hari nanti kau pergi meninggalkanku?” Tanya Revan dengan nada datar. Mata merahnya menyorot tajam seperti elang yang sedang mencari celah untuk mendapatkan mangsa.
             Ralph diam. Matanya terpaku pada Revan yang menatapnya dengan sorot mata mengerikan itu.
             “Jadi, apakah kau bisa menjadi orang yang bisa kupercaya? Apa kau tidak akan membantahku kelak?” Tanya Revan yang tiba-tiba kehilangan rasa percayanya pada semua orang. Kejadian yang melibatkan David itu membuatnya teringat pada Daniel yang mati dibunuh orang kepercayaannya yang ternyata mengkhianatinya dengan begitu mudah. Saat Revan meningat kematian Daniel yang cepat itu, ia harus akui bahwa ia takut untuk kehilangan nyawanya. Apalagi jika itu terjadi karena pengkhianatan. Ia tak ingin itu terjadi.
             “Aku tidak akan mengkhianatimu yang telah membawaku pergi menuju cahaya. Apapun akan kulakukan, selama itu berguna untukmu.”
             “Benarkah?” Revan menyeringai tipis. Ia menangkap kejujuran dalam sorot mata Ralph, sehingga itu membuatnya tenang dan kembali menjadi Revan yang dulu. Tiba-tiba saja ia kehilangan minat untuk mengingat kesedihan masa lalunya tentang Daniel.
             “Apa mataku menyorotkan kebohongan?”
             “Tidak,” jawab Revan tenang. “Aku hanya tidak ingin bernasib sama seperti Daniel. Apa kau mengerti rasanya?”
             “Eh?” Ralph melihat sorot mata Revan berubah sendu.
             “Tanpa sadar, kejadian itu membuatku trauma, Ralph. Aku tidak bisa memungkiri jika semua terasa begitu mengerikan.”
             “Maaf jika aku telah memancing pembicaraan ini. Maafkan aku,” ujar Ralph menyesal.
             “Lupakan. Aku benci mengingatnya. Mengingat semua itu hanya membuatku muak,” ujar Revan seraya pergi meninggalkan Ralph dan naik ke lantai dua rumah itu. “Besok ayo kita kunjungi makam Daniel.”
             Sejak kejadian itu, Revan tinggal di rumah terpisah dari keluarganya. Rumah itu memiliki dua lantai dengan halaman yang luas dan ditumbuhi banyak pepohonan. Lokasi rumah itu ada di pinggir kota, nyaris berbatasan dengan wilayah perbukitan. Udara yang berhembus memasuki rumah melalui lubang-lubang ventilasi terasa selalu sejuk dan menenangkan. Jauh berbeda dengan suasana kota pada umumnya yang padat.
             Walau setengahnya Revan merasa agak terasingkan, pada kenyataannya memang itulah yang terjadi padanya sekarang. Ia harus bertahan untuk terus hidup. Hanya itu yang paling penting saat ini. Karena kunci kebenaran hanya ada padanya dan tugasnya adalah membuka kebenaran itu setelah saatnya tiba..
***
                                     
             Pemuda berambut merah itu berdiri mematung didepan sebuah pusara. Ia menggenggam sebuket bunga yang kemudian ia letakkan didepan nisan pusara itu. Sekilas ia tersenyum sebelum air matanya mengalir begitu saja dari matanya. Revan tetap berdiri menatap makam Daniel yang terawat itu hingga waktu yang cukup lama hingga akhirnya tiba-tiba ia berlutut disana.
             “Maafkan aku, Daniel. Aku tidak bisa melindungimu saat itu,” gumamnya disela isakannya. Ralph yang semula hanya diam disamping Revan akhirnya mencoba menenangkan Revan.
             “Tuan, anda harus lebih kuat.. Jangan menyalahkan diri terus menerus,” ujar Ralph seraya berusaha menyeka air mata Revan namun Revan melarangnya.
             “Dia mati terlalu cepat,” gumam Revan seraya tersenyum sendu pada Ralph. “Aku benar-benar menyayanginya.”
             Ralph mematung.
             “Dia benar-benar membuatku merasa kehilangan. Kehilangan orang yang dekat dengan kita itu rasanya menyakitkan..”
             “Anda benar,” Ralph tiba-tiba teringat ayahnnnya.
             “Aku tidak bisa memaafkan orang yang telah merenggutnya dariku. Aku tidak bisa menerima kebahagiaan yang terenggut paksa,” gumam Revan kemudian. Ia menatap nisan bertuliskan nama “DANIEL KYLE PETERVINE” sebelum kemudian mencoba mengalihkan pandangannya.
             Dari komplek pemakaman keluarga Blackwill, yang kebetulan lokasinya tak begitu jauh dari makam Daniel, Revan menangkap sosok pemuda yang berdiri menghormat pada salah satu nisan. Rambutnya hitam dan matanya perak. Tubuhnya berpostur tinggi dengan jas hitam rapi yang memperjelas aura yang ia miliiki. Tak lama, pemuda asiing itu berjalan meninggalkan makam itu dan mendekati Revan. Dari depan, pemuda itu tampak tidak ekspresif. Raut mukanya benar-benar dingin dan tidak mempunyai perasaan. Revan mengernyitkan kening saat pemuda itu berhenti didepannya.
             “Revan.. Nightford?” tanya pemuda itu dengan suaranya yang berat.
             “Siapa kau?” tanya Ralph tanpa ragu menodongkan pistolnya tepat kearah pemuda berambut hitam yang menutupi mata kanannya dengan poni nya yang cukup panjang.
             Pemuda itu tersenyum tipis. Tapi sekilas, senyumannya itu justru memancarkan tekanan bagi siapapun yang melihatnya. Kemudian ia membungkuk pada Revan dan memberi hormat.
             “Siapa kau?” tanya Revan cepat seraya siap mengeluarkan pistolnya dari balik jasnya.
             Pemuda itu mengangkat kepalanya pelan seraya berkata, “Nathael Claude Arlanne.. Tuan Harald pernah mengatakan bahwa klan Nightford mungkin bisa memberiku informasi.”
             “Orang itu mati dalam tragedi Blackwill, kan? Darimana kau mengenal Harald Blackwill?” tanya Ralph cepat. Ia siap menarik pelatuk.
             “Orang itulah yang telah membantuku menanam mata ini,” jawab Nathael pelan seraya menyibakkan poninya hingga mata kanannya terlihat.
             “Biru safir.. Itu mata klan Blackwill. Kau—“
             “Aku ingin minta tolong. Apa anda mau membantuku? Aku mencari putra Harald Blackwill yang masih hidup,” terang Nathael yang tidak peduli pada Ralph yang kaget melihat matannya yang berbeda warna kanan-kirinya.
             “Semua mati dalam tragedi itu,” jawab Ralph cepat.
             “Tenanglah Ralph. Biarkan aku saja yang bicara,” pinta Revan kemudian.
             “Maaf,” jawab Ralph cepat. Ia menunduk dan diam.
             “Aku tidak mengerti. Yang aku tahu, semua sudah tewas,” jawab Revan.
             “Aku bersedia membayarmu dengan apapun,” ujar Nathael.
             “Aku bukan orang yang bisa dibayar dengan uang,” jawab Revan seraya menyeringai tipis.
             “Apa yang anda minta? Aku hanya butuh informasi yang jujur dari anda,” tanya Nathael seraya menyerahkan kartu nama dari sakunya pada Revan. Tangan kanannya  memakai sesuatu seperti kalung yang dililitkan di tangan. Liontinnya besar berbentuk petir. Tanpa Sadar, Revan malah memperhatikan benda itu.
             “Ada apa dengan kalung ini?” tanya Nathael kemudian. Revan menggeleng.
             “Jadi informasi apa yang ingin kauketahui?”
             “Siapa pemilik kalung yang kukenakan ini, kemudian siapa pembunuh klan Blackwill, dan yang terakhir.. Aku ingin menemukan putra Harald Blackwill yang masih hidup,” jawab Nathael tenang.
             “Lalu bayarannya? Kau tahu ini tidak mudah. Aku tidak punya kunci utama untuk mengakses data dari S.S.S yang harusnya dipegang klan Blackwill,” terang Revan.
             “Apapun. Aku tidak akan ingkar,” jawab Nathael yakin.
             “Aku beri tahu sesuatu yang bisa kusebutkan. Pembunuh klan Blackwill adalah David Rainlord beserta keluarganya. Apa itu cukup? Sekarang, katakan apa yang akan kauberikan padaku.”
             “Apa yang anda minta?”
             “Kau,” jawab Revan. “Bekerjalah untukku. Aku akan beri kau akses untuk membunuh klan Rainlord, tapi kau harus mendengarkan kata-kataku. Apa itu tidak adil?”
             “Aku terima. Asalkan aku mendapat apa yang aku inginkan,” ujar Nathael.
             “Aku akan menyelidikimu juga, Tuan Arlanne. Hati-hati terhadap langkahmu,” Revan menyeringai saat Nathael hendak pergi. “Aku yakin ini bukan kebetulan kau bertemu denganku, kan?”
             Nathael berhenti melangkah sejenak. Kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Revan dan Ralph tanpa ekspresi berarti.
********
             “Ralph, awasi dia. Dia bisa jadi pisau bermata dua,” perintah Revan yang kemudian hanya diiyakan dengan satu anggukan oleh Ralph.



0 Komentar:

Post a Comment