Chapter 2
“Pyarr!!”
“Ah,
maafkan aku,” ujar Revan saat tangannya tak sengaja mendorong gelas hingga
terjatuh dari meja. Matanya diturupi perban sehingga ia tak bisa melihat. Ada
rasa kesal saat ia merasa tak pernah bisa melakukan hal-hal yang seharusnya ia
lakukan sendiri..
“Tidak
apa-apa. Lain kali, mintalah bantuanku.. Jangan paksakan dirimu,” ujar Ralph
seraya segera membersihkan pecahan kaca.
“Aku benci
menjadi tidak berguna,” ujar Revan yang hanya diam mematung.
“Jangan
panggil aku seperti itu. Panggil namaku!” bentak Revan tiba-tiba. Saat ini
emosinya memang sedang sangat labil. “Aku jadi kesal jika mendengarmu bicara
begitu.”
“Maaf.”
“Aku yang
harus minta maaf. Belakangan ini rasanya aku benar-benar ingin marah. Maaf.”
“Tidak
apa-apa, Revan..” ujar Ralph untuk
pertama kalinya menyebut nama tuannya itu.
“Terimakasih…”
****
“Apa yang
kaurasakan?”
“Setelah
aku terbiasa melihat kegelapan, tiba-tiba saja aku dipaksa kembali melihat
cahaya. Tidakkah itu menyakitkan, Ralph?” ujar Revan seraya menoleh kearah
Ralph yang berdiri disamping ranjangnya.
“Kau sudah
sembuh total. Kau bisa pulang hari ini juga.”
“Terimakasih,
Dokter..” jawab Revan sinis.
“Tuan..
Ayo, kita segera tinggalkan tempat ini..” ajak Ralph seraya membantu Revan
turun dari ranjang dan mencoba berdiri.
“Berlatihlah
untuk berjalan, Tuan Nightford,” saran sang dokter.
“Aah,
terimakasih atas perhatiannya. Tapi aku juga tahu apa yang harus kulakukan,”
balas Revan ketus.
“Maaf,
dokter. Beliau sedang tidak enak hati, mungkin,” Ralph mencoba meminta maaf
pada dokter yang kelihatan mulai kesal.
“Tidak
apa-apa. Hati-hati di jalan.”
“Aku tidak
berharap bertemu lagi denganmu,” ujar Revan begitu kasar dan dingin. “Aku benci
menjadi selemah ini.”
******
Sekian
waktu berlalu akhirnya Revan bisa kembali membuka matanya. Luka-luka di
tubuhnya tertutup tanpa bekas berarti. Sekilas semua tampak sama, selain hati
Revan yang membeku. Segala kehangatan yang ia miliki hilang entah kemana.
Menyisakan hati yang keras dan beku seperti es yang tak mungkin mencair dalam
waktu singkat.
Keputusasaan
menghinggapi Revan. Ia akui itu benar. Nyatanya ia memang merasa menjadi beban
bagi semua orang dan mulai berusaha mengutuki dirinya sendiri yang menurutnya
hanya bisa menyusahkan.
“Ralph.”
“Ya, Tuan?”
Ralph menghampiri Revan yang berdiri menatap taman dari jendela besar ruang
tengah.
“Aku ingin
membebaskanmu. Tinggalkan saja aku sendiri disini, dan nikmatilah hidupmu
sebagai manusia yang bebas,” ujar Revan seraya menatap tajam.
Gelas yang
dibawa Ralph jatuh begitu saja dan pecah. Tubuh Ralph gemetar, dan ia terus
saja menundukkan kepalanya seraya berkata, “Eh? Kenapa?”
“Tidakkah menyebalkan
bagimu jika aku terus seperti ini?”
“Aku tidak
berpikir begitu. Tapi, apa artinya aku harus pergi?” Tanya Ralph dengan nada
gemetar.
“Hm,
begitukah? Sebenarnya artinya memang begitu, tapi terserah padamu saja.”
Ralph
menunduk memandangi pecahan gelas yang ia jatuhkan tadi seraya bergumam, “Jadi,
Tuan ingin membuangku?”
“Berhenti
panggil aku dengan sebutan itu. Aku sudah bukan siapa-siapa,” hardik Revan
cepat. “Jika kau memang tidak ingin bebas, sebenarnya apa maumu?”
“Apa aku
terlihat seperti orang yang menginginkan sesuatu?” Tanya Ralph seraya
mengangkat kepalanya dan menatap Revan sendu. “Aku tidak akan mengkhianatimu.”
“Tidak ada
manusia yang bisa hidup tanpa keinginan, Ralph.”
“Aku hanya
ingin berada didekatmu,” ujar Ralph kemudian.
Revan
tersenyum dan berkata, “Bahkan meski kau berhasil menemukan ayahmu?”
Ralph
mengangguk. “Sejak awal, kaulah yang menjadi ‘tuan’ku. Aku akan tetap disini,
selamanya.”
“Sebenarnya,
aku tidak terlalu ingin percaya padamu. Tapi, jika aku percaya, mungkinkah
suatu hari nanti kau pergi meninggalkanku?” Tanya Revan dengan nada datar. Mata
merahnya menyorot tajam seperti elang yang sedang mencari celah untuk
mendapatkan mangsa.
Ralph diam.
Matanya terpaku pada Revan yang menatapnya dengan sorot mata mengerikan itu.
“Jadi,
apakah kau bisa menjadi orang yang bisa kupercaya? Apa kau tidak akan
membantahku kelak?” Tanya Revan yang tiba-tiba kehilangan rasa percayanya pada
semua orang. Kejadian yang melibatkan David itu membuatnya teringat pada Daniel
yang mati dibunuh orang kepercayaannya yang ternyata mengkhianatinya dengan
begitu mudah. Saat Revan meningat kematian Daniel yang cepat itu, ia harus akui
bahwa ia takut untuk kehilangan nyawanya. Apalagi jika itu terjadi karena
pengkhianatan. Ia tak ingin itu terjadi.
“Aku tidak
akan mengkhianatimu yang telah membawaku pergi menuju cahaya. Apapun akan
kulakukan, selama itu berguna untukmu.”
“Benarkah?”
Revan menyeringai tipis. Ia menangkap kejujuran dalam sorot mata Ralph,
sehingga itu membuatnya tenang dan kembali menjadi Revan yang dulu. Tiba-tiba
saja ia kehilangan minat untuk mengingat kesedihan masa lalunya tentang Daniel.
“Apa mataku
menyorotkan kebohongan?”
“Tidak,”
jawab Revan tenang. “Aku hanya tidak ingin bernasib sama seperti Daniel. Apa
kau mengerti rasanya?”
“Eh?” Ralph
melihat sorot mata Revan berubah sendu.
“Tanpa
sadar, kejadian itu membuatku trauma, Ralph. Aku tidak bisa memungkiri jika
semua terasa begitu mengerikan.”
“Maaf jika
aku telah memancing pembicaraan ini. Maafkan aku,” ujar Ralph menyesal.
“Lupakan.
Aku benci mengingatnya. Mengingat semua itu hanya membuatku muak,” ujar Revan
seraya pergi meninggalkan Ralph dan naik ke lantai dua rumah itu. “Besok ayo
kita kunjungi makam Daniel.”
Sejak
kejadian itu, Revan tinggal di rumah terpisah dari keluarganya. Rumah itu
memiliki dua lantai dengan halaman yang luas dan ditumbuhi banyak pepohonan.
Lokasi rumah itu ada di pinggir kota, nyaris berbatasan dengan wilayah
perbukitan. Udara yang berhembus memasuki rumah melalui lubang-lubang ventilasi
terasa selalu sejuk dan menenangkan. Jauh berbeda dengan suasana kota pada
umumnya yang padat.
Walau
setengahnya Revan merasa agak terasingkan, pada kenyataannya memang itulah yang
terjadi padanya sekarang. Ia harus bertahan untuk terus hidup. Hanya itu yang
paling penting saat ini. Karena kunci kebenaran hanya ada padanya dan tugasnya
adalah membuka kebenaran itu setelah saatnya tiba..
***
Pemuda
berambut merah itu berdiri mematung didepan sebuah pusara. Ia menggenggam
sebuket bunga yang kemudian ia letakkan didepan nisan pusara itu. Sekilas ia
tersenyum sebelum air matanya mengalir begitu saja dari matanya. Revan tetap
berdiri menatap makam Daniel yang terawat itu hingga waktu yang cukup lama
hingga akhirnya tiba-tiba ia berlutut disana.
“Maafkan
aku, Daniel. Aku tidak bisa melindungimu saat itu,” gumamnya disela isakannya.
Ralph yang semula hanya diam disamping Revan akhirnya mencoba menenangkan
Revan.
“Tuan,
anda harus lebih kuat.. Jangan menyalahkan diri terus menerus,” ujar Ralph
seraya berusaha menyeka air mata Revan namun Revan melarangnya.
“Dia
mati terlalu cepat,” gumam Revan seraya tersenyum sendu pada Ralph. “Aku
benar-benar menyayanginya.”
Ralph
mematung.
“Dia
benar-benar membuatku merasa kehilangan. Kehilangan orang yang dekat dengan
kita itu rasanya menyakitkan..”
“Anda
benar,” Ralph tiba-tiba teringat ayahnnnya.
“Aku
tidak bisa memaafkan orang yang telah merenggutnya dariku. Aku tidak bisa
menerima kebahagiaan yang terenggut paksa,” gumam Revan kemudian. Ia menatap
nisan bertuliskan nama “DANIEL KYLE PETERVINE” sebelum kemudian mencoba
mengalihkan pandangannya.
Dari
komplek pemakaman keluarga Blackwill, yang kebetulan lokasinya tak begitu jauh
dari makam Daniel, Revan menangkap sosok pemuda yang berdiri menghormat pada
salah satu nisan. Rambutnya hitam dan matanya perak. Tubuhnya berpostur tinggi
dengan jas hitam rapi yang memperjelas aura yang ia miliiki. Tak lama, pemuda
asiing itu berjalan meninggalkan makam itu dan mendekati Revan. Dari depan,
pemuda itu tampak tidak ekspresif. Raut mukanya benar-benar dingin dan tidak
mempunyai perasaan. Revan mengernyitkan kening saat pemuda itu berhenti
didepannya.
“Revan..
Nightford?” tanya pemuda itu dengan suaranya yang berat.
“Siapa
kau?” tanya Ralph tanpa ragu menodongkan pistolnya tepat kearah pemuda berambut
hitam yang menutupi mata kanannya dengan poni nya yang cukup panjang.
Pemuda
itu tersenyum tipis. Tapi sekilas, senyumannya itu justru memancarkan tekanan
bagi siapapun yang melihatnya. Kemudian ia membungkuk pada Revan dan memberi
hormat.
“Siapa
kau?” tanya Revan cepat seraya siap mengeluarkan pistolnya dari balik jasnya.
Pemuda
itu mengangkat kepalanya pelan seraya berkata, “Nathael Claude Arlanne.. Tuan
Harald pernah mengatakan bahwa klan Nightford mungkin bisa memberiku
informasi.”
“Orang
itu mati dalam tragedi Blackwill, kan? Darimana kau mengenal Harald Blackwill?”
tanya Ralph cepat. Ia siap menarik pelatuk.
“Orang
itulah yang telah membantuku menanam mata ini,” jawab Nathael pelan seraya
menyibakkan poninya hingga mata kanannya terlihat.
“Biru
safir.. Itu mata klan Blackwill. Kau—“
“Aku
ingin minta tolong. Apa anda mau membantuku? Aku mencari putra Harald Blackwill
yang masih hidup,” terang Nathael yang tidak peduli pada Ralph yang kaget
melihat matannya yang berbeda warna kanan-kirinya.
“Semua
mati dalam tragedi itu,” jawab Ralph cepat.
“Tenanglah
Ralph. Biarkan aku saja yang bicara,” pinta Revan kemudian.
“Maaf,”
jawab Ralph cepat. Ia menunduk dan diam.
“Aku
tidak mengerti. Yang aku tahu, semua sudah tewas,” jawab Revan.
“Aku
bersedia membayarmu dengan apapun,” ujar Nathael.
“Aku
bukan orang yang bisa dibayar dengan uang,” jawab Revan seraya menyeringai
tipis.
“Apa
yang anda minta? Aku hanya butuh informasi yang jujur dari anda,” tanya Nathael
seraya menyerahkan kartu nama dari sakunya pada Revan. Tangan kanannya memakai sesuatu seperti kalung yang
dililitkan di tangan. Liontinnya besar berbentuk petir. Tanpa Sadar, Revan
malah memperhatikan benda itu.
“Ada
apa dengan kalung ini?” tanya Nathael kemudian. Revan menggeleng.
“Jadi
informasi apa yang ingin kauketahui?”
“Siapa
pemilik kalung yang kukenakan ini, kemudian siapa pembunuh klan Blackwill, dan
yang terakhir.. Aku ingin menemukan putra Harald Blackwill yang masih hidup,”
jawab Nathael tenang.
“Lalu
bayarannya? Kau tahu ini tidak mudah. Aku tidak punya kunci utama untuk
mengakses data dari S.S.S yang harusnya dipegang klan Blackwill,” terang Revan.
“Apapun.
Aku tidak akan ingkar,” jawab Nathael yakin.
“Aku beri
tahu sesuatu yang bisa kusebutkan. Pembunuh klan Blackwill adalah David
Rainlord beserta keluarganya. Apa itu cukup? Sekarang, katakan apa yang akan
kauberikan padaku.”
“Apa yang
anda minta?”
“Kau,”
jawab Revan. “Bekerjalah untukku. Aku akan beri kau akses untuk membunuh klan
Rainlord, tapi kau harus mendengarkan kata-kataku. Apa itu tidak adil?”
“Aku
terima. Asalkan aku mendapat apa yang aku inginkan,” ujar Nathael.
“Aku akan
menyelidikimu juga, Tuan Arlanne. Hati-hati terhadap langkahmu,” Revan
menyeringai saat Nathael hendak pergi. “Aku yakin ini bukan kebetulan kau
bertemu denganku, kan?”
Nathael
berhenti melangkah sejenak. Kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Revan
dan Ralph tanpa ekspresi berarti.
********
“Ralph,
awasi dia. Dia bisa jadi pisau bermata dua,” perintah Revan yang kemudian hanya
diiyakan dengan satu anggukan oleh Ralph.



0 Komentar:
Post a Comment