Thursday, July 26, 2012

SuZeRain Chapter 4


Chapter 4
             Ralph terbayang sosok anak berambut biru yang menabraknya beberapa waktu lalu. Wajah ketakutan dan panik anak itu sama sekali tidak bisa hilang dari kepala Ralph. Apalagi mata berwarna biru safir itu mirip sekali dengan deskripsi orang yang Nathael cari. Ia segera pergi ke wilayah yang biasanya menjadi markas para mafia, dan juga tempat ia menghabiskan masa kanak-kanak..

             Ralph berjalan menyusuri jalanan yang begitu sepi. Ini sudah hampir tengah malam, pasati kegiatan prostitusi sedang berjalan. Ralph menangkap bayangan anak berambut biru yang telah menabraknya beberapa waktu lalu itu duduk di balik pagar berduri. Ralph melihat sekeliling, dan rasanya ia seperti kembali ke rumah. Walau ia sangat membenci tempat ‘kotor’ ini, nyatanya tempat ini pernah menaunginya selama sepuluh tahun.
             “Apa yang kaulakukan disini? Kau harus mencari uang.”
             “Aku lelah,” terdengar anak itu membantah.
             “Kau—“ terdengar suara cambukan dari tempat anak itu tadi duduk. Kini ia tak sendirian, ada seseorang yang berdiri diepan anak itu.

             Ralph mendekat. Ia mendengarkan pembicaraan mereka dan matanya terbelalak saat mengetahui apa yang terjadi. Ralph menelan  ludah. Ingatannnya seperti dihempaskan kembali padanya. Sebuah mimpi buruk yang telah menimpanya teryata dialami oleh orang lain juga. Ia adalah orang yang beruntung, karena Revan saat itu datang dan bersedia membelinya dan kemudian memberinya ‘hidup’ yang seperti sekarang. Tapi, anak ini?
             “Jangan paksa aku! Aku lelah menjadi objek mereka! Bebaskan aku!” pinta Dennis yang kemudian dijawab dengan tamparan keras di pipi kirinya.
             “Kau adalah budak yang harus bekerja untuk menghasilkan banyak uang untukku. Malam ini, kau harus ‘bekerja’ juga seperti biasanya.”
             “Tapi—“
             “Aku tidak menerima bantahan dari anak ‘kotor’ sepertimu!”
             “Tuan jauh lebih kejam dari iblis! Aku tidak tahan lagi! Aku tidak pernah menerima apapun selama ini darimu! Aku lelah dipermainkan oleh kalian!” anak itu berdiri dan berlari pergi. Saat ia berlari, untuk kedua kalinya ia menabrak Ralph. Tapi, kali ini Ralph lansung memeluk anak itu erat.
             “Jangan takut. Aku bukan orang jahat,” bisik Ralph pada Dennis yang berusaha berontak.
             “Serahkan dia padaku,” orang yang menjadi lawan bicara Dennis tadi berdiri seraya menodongkan pistolnya.
             “Kenapa?” tanya Ralph seraya menyeringai tipis. “Apa aku harus membayar untuk bisa menyentuhnya?”
             “Serahkan.”
             “Tidak mau. Aku menginginkannya.”
             “Serahkan.”
             “Aku akan membayarnya,” ujar Ralph seraya menyerahkan cek. “Tuanku dulu bilang, kau tidak boleh protes berapapun bayaran untuk budak ini. Karena kau sudah pernah menyentuhnya, maka pasti ia sudah memiliki luka. Dan kau harus membayar untuk luka itu padaku.”
             “Kau—“
             “Aku berbaik hati memberikan bayaran sebanyak itu padamu. Aku yakin kau sudah terima banyak dari anak ini, bukan?” ujar Ralph seraya menggandeng paksa Dennis pergi.
**
             Dengan agak memaksa, Ralph mendorong Dennis masuk ke mobilnya dan segera melesat pergi.
             “Kenapa?” tanya Dennis.
             “Apanya? Aku melakukannya tanpa berpikir tadi,” jawab Ralph santai. “Itu tadi uang milik tuanku. Jadi, jangan berterimakasih padaku.”
             “Kenapa?”
             “Karena, kau mirip denganku dulu. Aku tidak ingin kau harus terluka lebih lama,” jawab Ralph seraya menghentikan mobilnya.
             Dennis bengong. Matanya berkaca-kaca dan reflek ia memeluk Ralph yang duduk disampingnya. “Terima kasih!”
             “Sudah kubilang itu uang milik tuanku.”
             “Tapi, pokoknya terimakasih!”
             Ralph menghela nafas dan tersenyum. “Boleh aku tahu namamu?”
             “Dennis.”
             “Hanya itu?”
             “Iya. Aku sudah tidak punya keluarga lagi. Jadi aku sekarang juga tidak tahu harus pulang kemana.”
             “Benarkah? Aku bisa saja membawamu pulang, tapi—“
             “Tapi apa?”
             “Bersiap-siaplah menghadapi tuanku,” jawab Ralph seraya kembali memacu mobilnya.
**
             “Apa yang kau bawa, Ralph?” tanya Revan saat melihat Ralph pulang tidak sendirian. Terlebih saat melihat yang ia bawa adalah anak yang kusut.

0 Komentar:

Post a Comment