Chapter 4
Ralph terbayang sosok
anak berambut biru yang menabraknya beberapa waktu lalu. Wajah ketakutan dan
panik anak itu sama sekali tidak bisa hilang dari kepala Ralph. Apalagi mata
berwarna biru safir itu mirip sekali dengan deskripsi orang yang Nathael cari.
Ia segera pergi ke wilayah yang biasanya menjadi markas para mafia, dan juga
tempat ia menghabiskan masa kanak-kanak..
Ralph berjalan
menyusuri jalanan yang begitu sepi. Ini sudah hampir tengah malam, pasati
kegiatan prostitusi sedang berjalan. Ralph menangkap bayangan anak berambut
biru yang telah menabraknya beberapa waktu lalu itu duduk di balik pagar
berduri. Ralph melihat sekeliling, dan rasanya ia seperti kembali ke rumah.
Walau ia sangat membenci tempat ‘kotor’ ini, nyatanya tempat ini pernah
menaunginya selama sepuluh tahun.
“Apa yang kaulakukan
disini? Kau harus mencari uang.”
“Aku lelah,” terdengar
anak itu membantah.
“Kau—“ terdengar suara
cambukan dari tempat anak itu tadi duduk. Kini ia tak sendirian, ada seseorang
yang berdiri diepan anak itu.
Ralph mendekat. Ia
mendengarkan pembicaraan mereka dan matanya terbelalak saat mengetahui apa yang
terjadi. Ralph menelan ludah.
Ingatannnya seperti dihempaskan kembali padanya. Sebuah mimpi buruk yang telah
menimpanya teryata dialami oleh orang lain juga. Ia adalah orang yang
beruntung, karena Revan saat itu datang dan bersedia membelinya dan kemudian
memberinya ‘hidup’ yang seperti sekarang. Tapi, anak ini?
“Jangan paksa aku! Aku
lelah menjadi objek mereka! Bebaskan aku!” pinta Dennis yang kemudian dijawab
dengan tamparan keras di pipi kirinya.
“Kau adalah budak yang
harus bekerja untuk menghasilkan banyak uang untukku. Malam ini, kau harus
‘bekerja’ juga seperti biasanya.”
“Tapi—“
“Aku tidak menerima
bantahan dari anak ‘kotor’ sepertimu!”
“Tuan jauh lebih kejam
dari iblis! Aku tidak tahan lagi! Aku tidak pernah menerima apapun selama ini
darimu! Aku lelah dipermainkan oleh kalian!” anak itu berdiri dan berlari
pergi. Saat ia berlari, untuk kedua kalinya ia menabrak Ralph. Tapi, kali ini
Ralph lansung memeluk anak itu erat.
“Jangan takut. Aku
bukan orang jahat,” bisik Ralph pada Dennis yang berusaha berontak.
“Serahkan dia padaku,”
orang yang menjadi lawan bicara Dennis tadi berdiri seraya menodongkan
pistolnya.
“Kenapa?” tanya Ralph
seraya menyeringai tipis. “Apa aku harus membayar untuk bisa menyentuhnya?”
“Serahkan.”
“Tidak mau. Aku
menginginkannya.”
“Serahkan.”
“Aku akan membayarnya,”
ujar Ralph seraya menyerahkan cek. “Tuanku dulu bilang, kau tidak boleh protes
berapapun bayaran untuk budak ini. Karena kau sudah pernah menyentuhnya, maka
pasti ia sudah memiliki luka. Dan kau harus membayar untuk luka itu padaku.”
“Kau—“
“Aku berbaik hati
memberikan bayaran sebanyak itu padamu. Aku yakin kau sudah terima banyak dari
anak ini, bukan?” ujar Ralph seraya menggandeng paksa Dennis pergi.
**
Dengan agak memaksa,
Ralph mendorong Dennis masuk ke mobilnya dan segera melesat pergi.
“Kenapa?” tanya Dennis.
“Apanya? Aku
melakukannya tanpa berpikir tadi,” jawab Ralph santai. “Itu tadi uang milik
tuanku. Jadi, jangan berterimakasih padaku.”
“Kenapa?”
“Karena, kau mirip
denganku dulu. Aku tidak ingin kau harus terluka lebih lama,” jawab Ralph
seraya menghentikan mobilnya.
Dennis bengong. Matanya
berkaca-kaca dan reflek ia memeluk Ralph yang duduk disampingnya. “Terima
kasih!”
“Sudah kubilang itu
uang milik tuanku.”
“Tapi, pokoknya
terimakasih!”
Ralph menghela nafas
dan tersenyum. “Boleh aku tahu namamu?”
“Dennis.”
“Hanya itu?”
“Iya. Aku sudah tidak punya
keluarga lagi. Jadi aku sekarang juga tidak tahu harus pulang kemana.”
“Benarkah? Aku bisa
saja membawamu pulang, tapi—“
“Tapi apa?”
“Bersiap-siaplah
menghadapi tuanku,” jawab Ralph seraya kembali memacu mobilnya.
**
“Apa yang kau bawa,
Ralph?” tanya Revan saat melihat Ralph pulang tidak sendirian. Terlebih saat
melihat yang ia bawa adalah anak yang kusut.



0 Komentar:
Post a Comment