Chapter 6
“Ralph, kapan kalungku
dikembalikan?” tanya Dennis setengah merengek. Sudah hampir seminggu Revan
‘menyita’ kalung Dennis.
Ralph tersenyum.
“Sabarlah. Ia sedang berusaha mengembalikan masa lalumu dan membuka amasa
depanmu.”
“Aku tidak mengerti.”
“Kau akan mengerti
nanti..”
**
Revan duduk bersandar
di kursi kerjanya. Mata tajamnya sibuk meneliti kalung Dennis hingga akhirnya
ia berhasil menggabungkannya dengan liontin kalung yang ia punya.
“Benar-benar menarik..”
gumamnya saat berhasil menemukan ‘fungsi tersembunyi’ dari kalung itu. Ia
tersenyum puas dengan hasil yang ia dapat.
“Kelihatannya orang
bernama Nathael itu memang agak berbahaya.. Apalagi jika ia dihadapkan pada
anak sepolos Dennis.. Kelihatannya akan mengerikan,” gumamnya seraya menerawang
jauh.
“Nyatanya, ia berhasil
memisahkan satu liontin penting menjadi dua.”
**
“Kau serius dengan
semua ini?” tanya Dennis tak percaya saat Revan menunjukkan semua kenyataan
tentang dirinya.
“Apa aku tampak sedang
bercanda?” tanya Revan datar.
“Mengerikan—“ gumam
Dennis.
“Ya. Lalu apa yang
ingin kaulakukan?” tanya Revan kemudian. “Balas dendam?”
“Aku tidak tahu.. Aku
takut,” jawab Dennis.
“Apa yang membuatmu
takut? Pada kenyataannya kau terlibat dalam drama berdarah ini..”
“Entahlah..”
“Pahamilah, Dennis..
Kau masih anak dibawah umur, memang. Tapi ternyata kelihatannya kau harus
menjadi dewasa lebih cepat. Tentukan apa yang akan kaulakukan, sebagai Dennis
Alucard Blackwill,” terang Revan tenang. Sebenarnya, jika Dennis mempercayainya
maka bisa dipastikan Nathael juga akan melakukan hal yang sama. Sekali panggil
dua kelinci mendekat.
“Balas dendam? Aku
tidak mengerti..”
“Balas dendam itu
memang sia-sia. Tapi tidak pernahkah kau berpikir ingin membuat mereka
merasakan hal yang sama seperti yang kaurasakan?” tanya Revan.
“Aku tidak merasa perlu
melakukannya. Tapi, aku tidak bisa membiarkan ada orang lain yang terluka
sepertiku.”
“Itukah kesiapanmu?”
“Ya.”
Revan tersenyum. “Kau
anak yang istimewa, Dennis. Aku akan membiarkanmu bebas menentukan jalan
hidupmu. Tapi, ingatlah kita memiliki musuh yang sama, meski tujuan final kita
semua berbeda. Jadi, jika memang jalan kita bisa beriringan, aku ingin meminta
bantuan kalian.”
“Aku berhutang budi
padamu, jadi jangan ragu untuk membagi sedikit banyak beban di punggungmu
padaku.”
“Kau anak kecil yang
tumbuh dewasa dengan cepat, ya. Terimakasih,” gumam Revan. “Aku akan membantumu
menemui Nathael.”
“sungguh?!” Dennis
terbelalak tak percaya.
“Aku serius. Tapi, maaf
aku tidak bisa mengantarmu. Dan lagi, aku tidak menjamin keselamatanmu,” ujar
Revan sedih.
Dennis menggeleng. “Ini
sudah lebih dari cukup. Aku sangat berterimakasih atas semua ini,” ujarnya
seraya memeluk Revan.
“Apa ini cara yang
mereka ajarkan padamu?” Revan memeluk tubuh mungil itu lembut.
“Tidak. Cara yang
mereka ajarkan jauh lebih dari ini,” jawab Dennis.
“Kau menikmati
pekerjaanmu disana, ya?” ejek Revan seraya melepaskan pelukannya.
“Jangan mentang-mentang
kau yang membeliku maka kau bisa seenaknya,” ujar Dennis merajuk.
“Tapi nyatanya memang
begitu, ‘kan? Aku sangat senang saat bisa melakukan semuanya sesukaku,” jawab
Revan tenang. Ia menarik tangan Dennis dengan lembut, dan mengecup kening anak
itu tak kalah lembut. “Seperti ini contoh yang paling sederhana.”
“Biasanya aku dibayar
untuk semua ini,” ujar Dennis seraya mencoba meraih bibir Revan meski ia harus
berjinjit. “Ini ucapan terimakasihku sekaligus salam perpisahan. Sampai jumpa.”
Revan bengong sesaat.
Tapi kemudian ia mendengus seraya tersenyum lebar. “Dasar bocah.”
**
Dennis berlari
meninggalkan rumah itu dengan segenggam harapan untuk menemukan Nathael. Ia
ingin memastikan apakah Nathael membencinya atau tidak. Karena dulu, Nathael
meninggalkannya begitu saja. Ia takkan peduli pada apa yang akan terjadi
setelah ini asalkan dengan begitu ia bisa bertemu Nathael.
**
Pemuda berambut hitam
dengan poni menutup mata kanannya itu berdiri menatap riuhnya suasana kota dari
balik jendela besar kantornya. Mata peraknya menyorot sayu saat tiba-tiba
kenangan demi kenangan menghampirinya. Dibalik sosok tanpa ekspresi itu, tersimpan
sosok rapuh yang penuh kasih sayang. Nathael Claude Arlanne memang kini adalah
nama yang ia sandang. Namun, siapa ia sebenaranya bahkan dirinya juga tidak
tahu. Yang ia tahu adalah bahwa ia adalah Nathael yang lahir didatas dosa,
hidup dalam dosa, dan kelak akan mati membawa dosa. Tak ada yang ia sesali
sekarang, karena ia telah membunuh semua rasa yang menurutnya hanya akan
membebaninya dalam bertahan hidup. Bukan karena itu pilihannya, tapi sejak awal
ia memang tak pernah memiliki banyak
pilihan. Yang selalu ada hanya hidup atau mati, membunuh atau dibunuh,
menyakiti atau disakiti. Tak pernah ada pilihan yang indah baginya sejak
pertama kali ia datang ke dunia ini.
Pilihannya untuk
meninggalkan Dennis saat itu ternyata tak sepenuhnya benar. Ia memang menyelamatkan
Dennis saat itu. Tapi tidak setelahnya karena ternyata semua sama saja pada
akhirnya. Justru mungkin ia lebih beruntung dibanding Dennis. Ia merasa telah
melanggar janjinya untuk terus melindungi Dennis seperti apa yang ia katakan
saat itu. Revan mengatakan padanya bahwa Dennis masih hidup, itu saja sudah
cukup membuatnya lega. Hanya tinggal beberapa pertanyaan yang menghinggapinya
hingga kini yaitu “Siapa dirinya sebenarnya dan apa tujuannya datang ke dunia
ini?”
Seharusnya kini ia
sadar, iblis sepertinya tak mungkin pantas menatap malaikat seperti Dennis
lagi. Jika ia ingin menghitung dosanya, mungkin semua itu tidak akan berakhir.
Terlalu banyak luka dan dosa yang ia ukirkan dalam dirinya. Kadang, ia sendiri
mual jika mengingat apa yang telah dilakukannya hingga detik itu. Mungkinkah
dengan sosoknya yang sekotor ini Dennis mau melihatnya lagi? Terlebih setelah
ia meninggalkan Dennis begitu saja?
Nathael menyalakan
rokok dan menghisapnya. Ia bukan tidak sadar apa saja racun didalam batangan kecil
itu, namun ia tak peduli. Mati lebih cepat saat ini terasa seakan lebih baik
daripada hidup terus dalam kubangan dosa. Mimpi dan cita-cita telah ia
kandaskan sejak lama, dan luka yang memenuhi hatinya telah membuanya kehilangan
ingatan tentang bagaimana merasakan sesuatu. Baginya kini semuanya hambar, tak
indah dilihat ataupun dirasakan.
Ia tumbuh besar dalam
kebencian besar terhadap ibunya yang telah begitu saja mencampakkannya. Dalam
benaknya, perempuan adalah sosok lemah yang egois. Mereka hanyalah orang yang
membuatnya sebal karena tak pernah mau berdiri sendiri dalam logika. Mereka
semua emosional dan merepotkan dirinya. Itu adalah argumen yang terus terpatri
makin kuat hingga kini. Ditambah dengan kenangan ‘buruk’nya, wanita yang ada di
sekelillingnya tak bisa ia lihat selain sebagai ‘pajangan’ atau ‘mainan’.
Hari mulai gelap.
Namun, justru pada jam malam-lah ia bekerja. Ayah angkatnya adalah seorang
mafia yang cukup disegani. Harus diakui juga bahwa Nathael tidak pernah berani
menatap mata ayah angkatnya itu. Menurutnya, ayah angkatnya sangat kejam hingga
bahkan ia sendiri segan. Ia telah memiliki banyak ayah angkat, namun tak
sekalipun ia pernah memliki ‘ibu’. Setiap mengingatnya, kadang Nathael
mengutuki ibunya sendiri yang bahkan tak mau mengenalnya.
“Ada apa?” potong
Nathael saat asistennya membuka pintu.
“Ada pekerjaan untuk
anda, dari Tuan Besar.”
“Membunuh lagi?” tanya
Nathael seraya mengambil pedang katana dari kursinya. “Padahal sebenarnya aku
malam ini ingin tidur dengan santai.”
“Apa perlu saya
sampaikan pada ayah anda, Tuan?”
“Tidak perlu. Aku tidak
ingin membebanninya sekarang, apalagi ia sedang sakit sekarang. Ayo kita
selesaikan secepatnya.”
“Baik. Saya sudah
siapkan beberapa orang dalam tugas kali ini.”
Nathael hanya tersenyum
hambar. Membunuh lagi, lagi lagi dan lagi. Kegiatan seperti itu sudah menjadi kegiatan
harian baginya. Walau meski ia sebenarnya bisa meminta apapun pada ayah
angkatnya itu—termasuk untuk berhenti membunuh, namun mungkin ayah angkatnya
akan langsung menanamkan peluru di kepalanya. Meski ayahnya itu sangat
menyayanginya, Nathael tahu beliau tidak suka dibantah.. dan ia tak mau ambil
resiko dengan membantahnya.
**
Nathael turun dari
mobil silvernya. Sepasang pedang katana ia pegang erat seraya melangkah masuk
ke markas ‘musuh’ ayahnya itu dan menebas apapun yang menghalangi jalannya. Tak
peduli apapun, semua ia tebas. Saat anak-anak buahnya sibuk menembaki
satu-persatu orang yang berusaha elindungi markas mereka, Nathael sudah menebas
puluhan tubuh dan membiarkan darah menggenangi tempat iru.
“Ah, sepatuku jadi
kotor gara-gara darah kalian... Menyebalkan,” ujar Nathael dingin. Rambut
jabriknya juga kotor oleh darah yang menyiprat dari tubuh-tubuh malang itu saat
ia menebas mereka. “Aku tidak menyangka akan sebanyak ini.”
Nathael melihat semua
orang di dalam sudah mati. Kemudian matanya menangkap beberapa orang yang
berlari tunggang langgang di luar.
“Ah, mau lari kemana?”
gumamnya seraya mengejar keluar. Dengan kakinya yang jenjang, ia berlari dengan
cepat dan tangannya yang lincah itu menebas dua orang sekaligus dengan kedua
pedangnya. Kemudian, ia menghabisi sisanya tanpa ampun.
“Bakar mereka,”
perintah Nathael yang hanya diiyakan oleh anak-anak buahnya. Mereka menuangkan
minyak pada bangunan dan juga jasad-jasad itu. Kemudian, hanya dengan sedikit
percikan api, mereka semua terbakar dalam kobaran merah yang panas.
Nathael hanya tersenyum
sinis saat melihat kobaran api itu. Kemudian mereka segera meninggalkan tempat
itu sebelum ada yang tahu.
“Jadi, apa anda perlu
teman tidur untuk malam ini? Saya rasa Tuan Besar akan menyediakannya jika anda
mau. Anggap seperti ucapan terima kasih atas kerja keras anda, Tuan.”
“Aku bosan dengan semua
itu. Katakan terimakasihku pada Ayah, dan juga katakan padanya aku tidak merasa
harus dibayar tiap kali selesai bekerja,” jawab Nathael pada asistennya yang
sebenarnya adalah asisten ayahnya juga. Dari jok belakang mobil, ia bersandar
dan mencoba memejamkan mata. Ia sudah tidak merasa menyesal untuk mencabut
nyawa, tapi kadang rasanya hatinya lelah karena terus ia paksakan.
“Tuan Besar sendiri
juga tidak merasa keberatan melakukannya. Beliau pernah bilang, bahwa semua itu
karena beliau menyayangi anda.”
“Aku tahu. Tapi, aku
merasa bosan melakukan semua ini. Aku perlu sesuatu yang lain.”
“Perlu saya mintakan
pada Tuan Besar?”
“Kurasa tidak. Tapi,
ayah yang seperti itu harus mau memaklumi jika ternyata anaknya bahkan
berkelakuan lebih biadab dibanding dirinya kelak,” ujar Nathael diiringi
seringaian tipis. “Apa kira-kira ayah akan marah?”
“Saya rasa tidak.”
“Baguslah,” jawab
Nathael tepat sebelum menangkap bayangan familier yang hendak menyeberang
jalan.
Matanya masih tajam
untuk menangkap sosok kecil itu. Nathael ingin memastikan apa yang ia lihat itu
benar Dennis. Ia segera meminta asistennya berhenti.
“Kenapa, Tuan Muda?”
tanya asistennya saat menyadari Nathael tampak begitu terkejut.
“Kau lihat anak
laki-laki berambut biru yang memakai mantel abu-abu itu? Anak yang memiliki
mata biru safir itu,” tanya Nathael cepat. Asistennya itu mengangguk.
“Bawa dia untukku. Aku
menginginkannya!”
**
Dennis mengerjapkan
matanya beberapa kali. Terakhir ia ingat saat ada seseorang memukulnya dari
belakang dan ia pingsan. Dan sekarang, ia ada dimana?
Ruangan yang
remang-remang seperti ini, kemudian aroma alkohol, parfum, dan juga rokok
bercampur aduk. Ia masih bisa mengingat jelas tempat semacam apa ini. Tapi,
kenapa ia bisa berada disini? Di tempat yang membuatnya sempat depresi, trauma,
dan juga takut.
Tangannya bebas,
kakinya bebas. Tubuhnya tidak diikat dan ia juga dibaringkan di ranjang empuk.
Ada yang berbeda dari pengalaman yang pernah ia rasakan sebelumnya. Secepatnya
Dennis bangkit dan menuju pintu yang ternyata terkunci.
“Ah, sial!” umpatnya
saat ia tak berhasil keluar dari tempat itu. Tempat itu tidak memiliki jendela,
dan Dennis sangat takut berada di tempat tertutup seperti itu.
“Aku mohon buka
pintunya!!” rengek Dennis. Namun tak ada respon apa-apa hingga tiba-tiba ia
ambruk tak sadarkan diri didekat pintu.
**
Nathael berdiri
menghadap ayah angkatnya. Ia wajib melaporkan apa hasil kerjanya dan segala hal
yang terjadi. Termasuk tentang seorang anak yang ia bawa begitu saja.
“Lalu, untuk apa kau
bawa anak itu?”
“Untuk apa? Aku sendiri
tidak terlalu yakin, tapi kelihatannya aku bisa merasa sedikit terhibur dengan
adanya dia,” jawab Nathael tenang.
“Apa yang akan
kaulakukan padanya?”
“Tidak biasanya Ayah
mau bertanya seperti itu..”
“Aku khawatir padamu.
Aku tidak ingin kau tertekan karena tugas-tugas yang kuberikan padamu. Awalnya,
aku bingung ingin memberikan apa padamu, tapi syukurlah jika kau sendiri sudah
mencari ‘mainan’mu sendiri.”
“Jangan khawatirkan aku
karena aku selalu baik-baik saja. Permisi.”
**
Nathael mendapati
Dennis tidak lagi terbaring di ranjang. Sosok mungil itu tak sadarkan diri
diatas lantai yang dingin. Ia tadi berpesan agar kamar ini jangan dikunci dari
luar dan hanya perlu dijaga saja, tapi nyatanya pintunya dikuci dan tak ada
seorangpun yang menjaga. Nathael tahu Dennis benci ruang tertutup dan pastilah
anak ini pingsan karenanya. Nathael mengela nafas dan menggendong Dennis pergi
meninggalkan tempat itu menuju ‘rumah’nya.
“Tuan Muda lebih suka
tidur disana, ya? Padahal Tuan Besar sangat berharap anda mau menginap malam
ini.”
“Ah, aku memang lebih
suka berada di rumah. Suasana kerja yang terus-menerus bisa membuatku sakit
kepala. Lagipula, aku ingin bermain-main dengannya.. Sudah lama aku tidak
melakukannya,” jawab Nathael dari kursi belakang mobil. Ia memangku Dennis yang
belum sadar.
“Benarkah? Kapan anda
terakhir bermain-main dengan yang semacam itu?”
“Terakhir, aku bermain
dengannya saat usiaku sebelas tahun. Kira sebelas tahun yang lalu, kan?” jawab
Nathael enteng.



0 Komentar:
Post a Comment