Saturday, July 28, 2012

SuZeRain Chapter 6


Chapter 6
             “Ralph, kapan kalungku dikembalikan?” tanya Dennis setengah merengek. Sudah hampir seminggu Revan ‘menyita’ kalung Dennis.
             Ralph tersenyum. “Sabarlah. Ia sedang berusaha mengembalikan masa lalumu dan membuka amasa depanmu.”
             “Aku tidak mengerti.”
             “Kau akan mengerti nanti..”
**
             Revan duduk bersandar di kursi kerjanya. Mata tajamnya sibuk meneliti kalung Dennis hingga akhirnya ia berhasil menggabungkannya dengan liontin kalung yang ia punya.
             “Benar-benar menarik..” gumamnya saat berhasil menemukan ‘fungsi tersembunyi’ dari kalung itu. Ia tersenyum puas dengan hasil yang ia dapat.

             “Kelihatannya orang bernama Nathael itu memang agak berbahaya.. Apalagi jika ia dihadapkan pada anak sepolos Dennis.. Kelihatannya akan mengerikan,” gumamnya seraya menerawang jauh.
             “Nyatanya, ia berhasil memisahkan satu liontin penting menjadi dua.”
**
             “Kau serius dengan semua ini?” tanya Dennis tak percaya saat Revan menunjukkan semua kenyataan tentang dirinya.
             “Apa aku tampak sedang bercanda?” tanya Revan datar.
             “Mengerikan—“ gumam Dennis.
             “Ya. Lalu apa yang ingin kaulakukan?” tanya Revan kemudian. “Balas dendam?”
             “Aku tidak tahu.. Aku takut,” jawab Dennis.
             “Apa yang membuatmu takut? Pada kenyataannya kau terlibat dalam drama berdarah ini..”
             “Entahlah..”
             “Pahamilah, Dennis.. Kau masih anak dibawah umur, memang. Tapi ternyata kelihatannya kau harus menjadi dewasa lebih cepat. Tentukan apa yang akan kaulakukan, sebagai Dennis Alucard Blackwill,” terang Revan tenang. Sebenarnya, jika Dennis mempercayainya maka bisa dipastikan Nathael juga akan melakukan hal yang sama. Sekali panggil dua kelinci mendekat.
             “Balas dendam? Aku tidak mengerti..”
             “Balas dendam itu memang sia-sia. Tapi tidak pernahkah kau berpikir ingin membuat mereka merasakan hal yang sama seperti yang kaurasakan?” tanya Revan.
             “Aku tidak merasa perlu melakukannya. Tapi, aku tidak bisa membiarkan ada orang lain yang terluka sepertiku.”
             “Itukah kesiapanmu?”
             “Ya.”
             Revan tersenyum. “Kau anak yang istimewa, Dennis. Aku akan membiarkanmu bebas menentukan jalan hidupmu. Tapi, ingatlah kita memiliki musuh yang sama, meski tujuan final kita semua berbeda. Jadi, jika memang jalan kita bisa beriringan, aku ingin meminta bantuan kalian.”
             “Aku berhutang budi padamu, jadi jangan ragu untuk membagi sedikit banyak beban di punggungmu padaku.”
             “Kau anak kecil yang tumbuh dewasa dengan cepat, ya. Terimakasih,” gumam Revan. “Aku akan membantumu menemui Nathael.”
             “sungguh?!” Dennis terbelalak tak percaya.
             “Aku serius. Tapi, maaf aku tidak bisa mengantarmu. Dan lagi, aku tidak menjamin keselamatanmu,” ujar Revan sedih.
             Dennis menggeleng. “Ini sudah lebih dari cukup. Aku sangat berterimakasih atas semua ini,” ujarnya seraya memeluk Revan.
             “Apa ini cara yang mereka ajarkan padamu?” Revan memeluk tubuh mungil itu lembut.
             “Tidak. Cara yang mereka ajarkan jauh lebih dari ini,” jawab Dennis.
             “Kau menikmati pekerjaanmu disana, ya?” ejek Revan seraya melepaskan pelukannya.
             “Jangan mentang-mentang kau yang membeliku maka kau bisa seenaknya,” ujar Dennis merajuk.
             “Tapi nyatanya memang begitu, ‘kan? Aku sangat senang saat bisa melakukan semuanya sesukaku,” jawab Revan tenang. Ia menarik tangan Dennis dengan lembut, dan mengecup kening anak itu tak kalah lembut. “Seperti ini contoh yang paling sederhana.”
             “Biasanya aku dibayar untuk semua ini,” ujar Dennis seraya mencoba meraih bibir Revan meski ia harus berjinjit. “Ini ucapan terimakasihku sekaligus salam perpisahan. Sampai jumpa.”
             Revan bengong sesaat. Tapi kemudian ia mendengus seraya tersenyum lebar. “Dasar bocah.”
**
             Dennis berlari meninggalkan rumah itu dengan segenggam harapan untuk menemukan Nathael. Ia ingin memastikan apakah Nathael membencinya atau tidak. Karena dulu, Nathael meninggalkannya begitu saja. Ia takkan peduli pada apa yang akan terjadi setelah ini asalkan dengan begitu ia bisa bertemu Nathael.
**
             Pemuda berambut hitam dengan poni menutup mata kanannya itu berdiri menatap riuhnya suasana kota dari balik jendela besar kantornya. Mata peraknya menyorot sayu saat tiba-tiba kenangan demi kenangan menghampirinya. Dibalik sosok tanpa ekspresi itu, tersimpan sosok rapuh yang penuh kasih sayang. Nathael Claude Arlanne memang kini adalah nama yang ia sandang. Namun, siapa ia sebenaranya bahkan dirinya juga tidak tahu. Yang ia tahu adalah bahwa ia adalah Nathael yang lahir didatas dosa, hidup dalam dosa, dan kelak akan mati membawa dosa. Tak ada yang ia sesali sekarang, karena ia telah membunuh semua rasa yang menurutnya hanya akan membebaninya dalam bertahan hidup. Bukan karena itu pilihannya, tapi sejak awal ia  memang tak pernah memiliki banyak pilihan. Yang selalu ada hanya hidup atau mati, membunuh atau dibunuh, menyakiti atau disakiti. Tak pernah ada pilihan yang indah baginya sejak pertama kali ia datang ke dunia ini.
             Pilihannya untuk meninggalkan Dennis saat itu ternyata tak sepenuhnya benar. Ia memang menyelamatkan Dennis saat itu. Tapi tidak setelahnya karena ternyata semua sama saja pada akhirnya. Justru mungkin ia lebih beruntung dibanding Dennis. Ia merasa telah melanggar janjinya untuk terus melindungi Dennis seperti apa yang ia katakan saat itu. Revan mengatakan padanya bahwa Dennis masih hidup, itu saja sudah cukup membuatnya lega. Hanya tinggal beberapa pertanyaan yang menghinggapinya hingga kini yaitu “Siapa dirinya sebenarnya dan apa tujuannya datang ke dunia ini?”
             Seharusnya kini ia sadar, iblis sepertinya tak mungkin pantas menatap malaikat seperti Dennis lagi. Jika ia ingin menghitung dosanya, mungkin semua itu tidak akan berakhir. Terlalu banyak luka dan dosa yang ia ukirkan dalam dirinya. Kadang, ia sendiri mual jika mengingat apa yang telah dilakukannya hingga detik itu. Mungkinkah dengan sosoknya yang sekotor ini Dennis mau melihatnya lagi? Terlebih setelah ia meninggalkan Dennis begitu saja?
             Nathael menyalakan rokok dan menghisapnya. Ia bukan tidak sadar apa saja racun didalam batangan kecil itu, namun ia tak peduli. Mati lebih cepat saat ini terasa seakan lebih baik daripada hidup terus dalam kubangan dosa. Mimpi dan cita-cita telah ia kandaskan sejak lama, dan luka yang memenuhi hatinya telah membuanya kehilangan ingatan tentang bagaimana merasakan sesuatu. Baginya kini semuanya hambar, tak indah dilihat ataupun dirasakan.
             Ia tumbuh besar dalam kebencian besar terhadap ibunya yang telah begitu saja mencampakkannya. Dalam benaknya, perempuan adalah sosok lemah yang egois. Mereka hanyalah orang yang membuatnya sebal karena tak pernah mau berdiri sendiri dalam logika. Mereka semua emosional dan merepotkan dirinya. Itu adalah argumen yang terus terpatri makin kuat hingga kini. Ditambah dengan kenangan ‘buruk’nya, wanita yang ada di sekelillingnya tak bisa ia lihat selain sebagai ‘pajangan’ atau ‘mainan’.             
             Hari mulai gelap. Namun, justru pada jam malam-lah ia bekerja. Ayah angkatnya adalah seorang mafia yang cukup disegani. Harus diakui juga bahwa Nathael tidak pernah berani menatap mata ayah angkatnya itu. Menurutnya, ayah angkatnya sangat kejam hingga bahkan ia sendiri segan. Ia telah memiliki banyak ayah angkat, namun tak sekalipun ia pernah memliki ‘ibu’. Setiap mengingatnya, kadang Nathael mengutuki ibunya sendiri yang bahkan tak mau mengenalnya.
             “Ada apa?” potong Nathael saat asistennya membuka pintu.
             “Ada pekerjaan untuk anda, dari Tuan Besar.”
             “Membunuh lagi?” tanya Nathael seraya mengambil pedang katana dari kursinya. “Padahal sebenarnya aku malam ini ingin tidur dengan santai.”
             “Apa perlu saya sampaikan pada ayah anda, Tuan?”
             “Tidak perlu. Aku tidak ingin membebanninya sekarang, apalagi ia sedang sakit sekarang. Ayo kita selesaikan secepatnya.”
             “Baik. Saya sudah siapkan beberapa orang dalam tugas kali ini.”
             Nathael hanya tersenyum hambar. Membunuh lagi, lagi lagi dan lagi. Kegiatan seperti itu sudah menjadi kegiatan harian baginya. Walau meski ia sebenarnya bisa meminta apapun pada ayah angkatnya itu—termasuk untuk berhenti membunuh, namun mungkin ayah angkatnya akan langsung menanamkan peluru di kepalanya. Meski ayahnya itu sangat menyayanginya, Nathael tahu beliau tidak suka dibantah.. dan ia tak mau ambil resiko dengan membantahnya.
**
             Nathael turun dari mobil silvernya. Sepasang pedang katana ia pegang erat seraya melangkah masuk ke markas ‘musuh’ ayahnya itu dan menebas apapun yang menghalangi jalannya. Tak peduli apapun, semua ia tebas. Saat anak-anak buahnya sibuk menembaki satu-persatu orang yang berusaha elindungi markas mereka, Nathael sudah menebas puluhan tubuh dan membiarkan darah menggenangi tempat iru.
             “Ah, sepatuku jadi kotor gara-gara darah kalian... Menyebalkan,” ujar Nathael dingin. Rambut jabriknya juga kotor oleh darah yang menyiprat dari tubuh-tubuh malang itu saat ia menebas mereka. “Aku tidak menyangka akan sebanyak ini.”
             Nathael melihat semua orang di dalam sudah mati. Kemudian matanya menangkap beberapa orang yang berlari tunggang langgang di luar.
             “Ah, mau lari kemana?” gumamnya seraya mengejar keluar. Dengan kakinya yang jenjang, ia berlari dengan cepat dan tangannya yang lincah itu menebas dua orang sekaligus dengan kedua pedangnya. Kemudian, ia menghabisi sisanya tanpa ampun.
             “Bakar mereka,” perintah Nathael yang hanya diiyakan oleh anak-anak buahnya. Mereka menuangkan minyak pada bangunan dan juga jasad-jasad itu. Kemudian, hanya dengan sedikit percikan api, mereka semua terbakar dalam kobaran merah yang panas.
             Nathael hanya tersenyum sinis saat melihat kobaran api itu. Kemudian mereka segera meninggalkan tempat itu sebelum ada yang tahu.
             “Jadi, apa anda perlu teman tidur untuk malam ini? Saya rasa Tuan Besar akan menyediakannya jika anda mau. Anggap seperti ucapan terima kasih atas kerja keras anda, Tuan.”
             “Aku bosan dengan semua itu. Katakan terimakasihku pada Ayah, dan juga katakan padanya aku tidak merasa harus dibayar tiap kali selesai bekerja,” jawab Nathael pada asistennya yang sebenarnya adalah asisten ayahnya juga. Dari jok belakang mobil, ia bersandar dan mencoba memejamkan mata. Ia sudah tidak merasa menyesal untuk mencabut nyawa, tapi kadang rasanya hatinya lelah karena terus ia paksakan.
             “Tuan Besar sendiri juga tidak merasa keberatan melakukannya. Beliau pernah bilang, bahwa semua itu karena beliau menyayangi anda.”
             “Aku tahu. Tapi, aku merasa bosan melakukan semua ini. Aku perlu sesuatu yang lain.”
             “Perlu saya mintakan pada Tuan Besar?”
             “Kurasa tidak. Tapi, ayah yang seperti itu harus mau memaklumi jika ternyata anaknya bahkan berkelakuan lebih biadab dibanding dirinya kelak,” ujar Nathael diiringi seringaian tipis. “Apa kira-kira ayah akan marah?”
             “Saya rasa tidak.”
             “Baguslah,” jawab Nathael tepat sebelum menangkap bayangan familier yang hendak menyeberang jalan.
             Matanya masih tajam untuk menangkap sosok kecil itu. Nathael ingin memastikan apa yang ia lihat itu benar Dennis. Ia segera meminta asistennya berhenti.
             “Kenapa, Tuan Muda?” tanya asistennya saat menyadari Nathael tampak begitu terkejut.
             “Kau lihat anak laki-laki berambut biru yang memakai mantel abu-abu itu? Anak yang memiliki mata biru safir itu,” tanya Nathael cepat. Asistennya itu mengangguk.
             “Bawa dia untukku. Aku menginginkannya!”
**
             Dennis mengerjapkan matanya beberapa kali. Terakhir ia ingat saat ada seseorang memukulnya dari belakang dan ia pingsan. Dan sekarang, ia ada dimana?
             Ruangan yang remang-remang seperti ini, kemudian aroma alkohol, parfum, dan juga rokok bercampur aduk. Ia masih bisa mengingat jelas tempat semacam apa ini. Tapi, kenapa ia bisa berada disini? Di tempat yang membuatnya sempat depresi, trauma, dan juga takut.
             Tangannya bebas, kakinya bebas. Tubuhnya tidak diikat dan ia juga dibaringkan di ranjang empuk. Ada yang berbeda dari pengalaman yang pernah ia rasakan sebelumnya. Secepatnya Dennis bangkit dan menuju pintu yang ternyata terkunci.
             “Ah, sial!” umpatnya saat ia tak berhasil keluar dari tempat itu. Tempat itu tidak memiliki jendela, dan Dennis sangat takut berada di tempat tertutup seperti itu.
             “Aku mohon buka pintunya!!” rengek Dennis. Namun tak ada respon apa-apa hingga tiba-tiba ia ambruk tak sadarkan diri didekat pintu.
**
             Nathael berdiri menghadap ayah angkatnya. Ia wajib melaporkan apa hasil kerjanya dan segala hal yang terjadi. Termasuk tentang seorang anak yang ia bawa begitu saja.
             “Lalu, untuk apa kau bawa anak itu?”
             “Untuk apa? Aku sendiri tidak terlalu yakin, tapi kelihatannya aku bisa merasa sedikit terhibur dengan adanya dia,” jawab Nathael tenang.
             “Apa yang akan kaulakukan padanya?”
             “Tidak biasanya Ayah mau bertanya seperti itu..”
             “Aku khawatir padamu. Aku tidak ingin kau tertekan karena tugas-tugas yang kuberikan padamu. Awalnya, aku bingung ingin memberikan apa padamu, tapi syukurlah jika kau sendiri sudah mencari ‘mainan’mu sendiri.”
             “Jangan khawatirkan aku karena aku selalu baik-baik saja. Permisi.”
**
             Nathael mendapati Dennis tidak lagi terbaring di ranjang. Sosok mungil itu tak sadarkan diri diatas lantai yang dingin. Ia tadi berpesan agar kamar ini jangan dikunci dari luar dan hanya perlu dijaga saja, tapi nyatanya pintunya dikuci dan tak ada seorangpun yang menjaga. Nathael tahu Dennis benci ruang tertutup dan pastilah anak ini pingsan karenanya. Nathael mengela nafas dan menggendong Dennis pergi meninggalkan tempat itu menuju ‘rumah’nya.
             “Tuan Muda lebih suka tidur disana, ya? Padahal Tuan Besar sangat berharap anda mau menginap malam ini.”
             “Ah, aku memang lebih suka berada di rumah. Suasana kerja yang terus-menerus bisa membuatku sakit kepala. Lagipula, aku ingin bermain-main dengannya.. Sudah lama aku tidak melakukannya,” jawab Nathael dari kursi belakang mobil. Ia memangku Dennis yang belum sadar.
             “Benarkah? Kapan anda terakhir bermain-main dengan yang semacam itu?”
             “Terakhir, aku bermain dengannya saat usiaku sebelas tahun. Kira sebelas tahun yang lalu, kan?” jawab Nathael enteng.

0 Komentar:

Post a Comment